Unfiltered Heart: Kontrak Cinta yang Menjerat

Bab 4: Bab 4 - Berakting mesra di depan publik untuk pertama k...

Pengaturan Membaca

Lampu gantung kristal di langit-langit *Le Sillage* memantulkan cahaya kuning keemasan yang hangat, namun bagiku, atmosfer restoran ini terasa sedingin es. Aku merapikan kerah kemeja linenku untuk kesekian kalinya, merasa seolah kain itu perlahan-lahan mencekik leherku. Di depanku, Maya duduk dengan anggun. Gaun satin berwarna *emerald* yang ia kenakan tampak berkilau di bawah temaram lampu, senada dengan riasan wajahnya yang sempurna tanpa cela.

"Leo, berhenti gelisah. Kamera Aris sudah menyala dari sudut sana," bisik Maya tanpa menghilangkan senyum manis yang dipasang sedemikian rupa untuk konsumsi publik.

Aku menoleh sekilas ke arah pojok ruangan, di mana Aris tampak sibuk dengan kamera *mirrorless*-nya, berpura-pura menjadi pengunjung biasa padahal dia sedang membidik setiap gerak-gerik kami. Aku menghela napas panjang, mencoba merilekskan bahuku yang kaku seperti papan cucian.

"Ini aneh, May," balasku dengan suara rendah, nyaris tidak menggerakkan bibir. "Kita biasanya cuma makan mi instan di depan laptop sambil bahas *insight* mingguan. Sekarang? Aku merasa seperti badut di sirkus mahal."

Maya tertawa kecilβ€”tipe tawa yang terdengar merdu di telinga orang asing, tapi aku tahu itu adalah tawa teknis miliknya. Ia menjangkau tanganku yang berada di atas meja, jemarinya yang lentur dan dingin menelusup di sela-sela jariku. Aku tersentak kecil. Sentuhan itu tidak direncanakan dalam *briefing* sore tadi.

"Anggap saja ini investasi," bisik Maya lagi. Matanya menatapku dengan binar yang tampak begitu tulus, sebuah akting yang patut diacungi jempol. "Tatap mataku, Leo. Jangan lihat kamera. Fokus ke aku seolah-olah aku adalah hal paling menarik di ruangan ini."

Aku menelan ludah. Masalahnya, ketika aku benar-benar menatap matanya, aku baru menyadari bahwa ada lingkaran hitam tipis yang disembunyikan *concealer* di bawah matanya. Dia pasti begadang lagi untuk menyusun draf kontrak B**nd Ambassador itu. Ada sisi manusiawi yang tiba-tiba muncul di balik topeng profesionalitasnya, dan itu membuat dadaku sedikit berdenyut aneh.

Pesanan kami datangβ€”dua porsi *wagyu steak* yang harganya setara dengan sewa apartemenku selama sebulan. Pelayan itu tersenyum ramah, mungkin mengira kami adalah pasangan muda sukses yang sedang merayakan *anniversary*. Begitu pelayan itu pergi, Maya memberi kode dengan lirikan mata.

Ini saatnya. Adegan 'suap-suapan' yang legendaris itu.

Aku memotong sepotong kecil daging, tangan sedikit gemetar. "Ini... benar-benar harus dilakukan?"

"Cepat, sebelum sausnya mengering. Estetikanya bisa rusak," desak Maya, masih dengan wajah penuh cinta yang palsu.

Aku mengarahkan garpu ke mulutnya. Maya sedikit condong ke depan, rambutnya yang harum vanila menyentuh pipiku saat dia menerima suapan itu. Untuk sesaat, dunia di sekitar kami seolah menghilang. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat, melihat bagaimana bulu matanya yang panjang bergetar saat dia mengunyah perlahan.

"Enak?" tanyaku spontan, kali ini tanpa skrip.

Maya terdiam sejenak, tatapannya bertemu denganku selama lebih dari lima detik yang disyaratkan. Ada kilasan sesuatu di matanyaβ€”mungkin rasa lelah, atau mungkin juga rasa canggung yang sama besarnya denganku. "Enak," jawabnya pelan, suaranya terdengar lebih lembut, lebih... asli.

Namun, momen itu pecah ketika bunyi *shutter* kamera Aris terdengar c**up keras dari jarak tiga meter. Maya langsung tersadar, kembali ke mode 'ratu konten'. Ia mengambil serbet dan mengusap sudut bibirku dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah improvisasi yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat.

"Ada sedikit saus di sini, Sayang," katanya dengan suara yang c**up keras agar terdengar oleh meja sebelah.

Aku hanya bisa terpaku. Rasa dingin di tangannya tadi mulai berubah menjadi panas yang merambat ke lenganku. Aku mulai meragukan kemampuanku sendiri. Apakah aku benar-benar sehebat itu dalam berakting, atau apakah batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur di bawah tekanan lampu restoran ini?

"Kerja bagus," bisik Maya saat dia bersandar kembali ke kursinya, memeriksa ponselnya di bawah meja untuk melihat apakah Aris sudah mengirimkan hasil foto sementara. "Interaksi tadi pasti bakal meledak di TikTok besok pagi."

Aku menatap piringku yang masih penuh, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. "May, apa kamu nggak merasa kita... terlalu jauh?"

Maya tidak langsung menjawab. Ia menatapku, kali ini tanpa senyum kamera. "Leo, kontrak satu miliar itu bukan cuma soal pamer kemesraan. Itu soal bertahan hidup. Kamu mau balik lagi bikin konten review barang murah di kamar kos yang pengap?"

Aku terdiam. Dia benar. Kegagalan adalah hantu yang selalu membuntuti kami berdua. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa salah.

Saat kami hendak beranjak pergi, Maya terpeleset sedikit karena hak sepatunya yang terlalu tinggi. Secara refleks, aku menangkap pinggangnya, menariknya mendekat hingga tubuh kami menempel rapat. Tanganku melingkar kuat di pinggangnya, dan untuk pertama kalinya, aku merasakan detak jantung Maya yang berpacu kencang di balik dada gaun satinnya.

Dia tidak segera melepaskan diri. Dia menatapku dengan napas tertahan, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Di sudut mataku, aku melihat Aris terus menekan tombol rana kameranya, mengabadikan momen 'romantis' yang tidak sengaja ini.

"Leo..." gumamnya, suaranya parau.

Aku baru saja akan menanyakan apakah dia baik-baik saja, ketika pintu restoran terbuka dan sekelompok orang ma**k dengan kamera besar serta lampu *flash* yang menyilaukan.

"Itu mereka! Leo dan Maya!" teriak seseorang.

Bukan hanya Aris yang ada di sini. Paparazi media hiburan entah bagaimana bisa mencium keberadaan kami. Maya langsung menggenggam lenganku lebih erat, kukunya sedikit menusuk kulitku.

"Jangan lepas," bisik Maya, suaranya bergetar antara panik dan penuh tekad. "Tetap di posisi ini. Jangan terlihat kaget. Tersenyumlah, Leo. Ini adalah awal dari kehancuran privasi kita yang sebenarnya."

Aku menatap kilatan lampu yang memb*** buta itu, menyadari bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi jalan kembali. Kami telah resmi menjual diri kami pada sebuah kebohongan yang terlalu indah untuk dihentikan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca