Unfiltered Heart: Kontrak Cinta yang Menjerat

Bab 5: Bab 5 - Menghadapi tawaran kontrak besar dari b**nd kos...

Pengaturan Membaca

Tanganku terasa dingin saat jemariku menyentuh permukaan meja marmer di ruang pertemuan lant** 22 kantor pusat GlowUp. Ruangan ini berbau seperti kombinasi antara parfum mahal dan pembersih lant** beraroma pinus, aroma yang biasanya membuatku merasa terintimidasi. Namun hari ini, aku memaksakan punggungku untuk tetap tegak, dagu sedikit terangkat, meski detak jantungku memalu rusuk dengan irama yang kacau.

Di sebelahku, Leo tampak jauh lebih tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit ergonomis seolah-olah ia sudah terbiasa duduk di sana seumur hidupnya. Ia sesekali memainkan layar ponselnya, memperlihatkan aura acuh tak acuh yang, sejujurnya, membuatku ingin menendang tulang keringnya di bawah meja.

"Kami sudah memantau statistik kalian selama dua minggu terakhir," suara Ibu Shinta, Head of Marketing GlowUp, memecah kesunyian. Ia menggeser dua map tebal berwarna emas ke arah kami. "Pertumbuhannya luar biasa. *Engagement rate* kalian melampaui semua influencer papan atas yang pernah bekerja sama dengan kami. Publik benar-benar haus akan romansa kalian."

Aku menelan ludah, mencoba menjaga ekspresi wajahku tetap netral. *Publik haus akan kebohongan kami,* batinku sinis.

Kubuka map itu perlahan. Mataku langsung tertuju pada deretan angka di halaman pertama. Napas seakan tersangkut di tenggorokan saat melihat angka dua miliar rupiah tertera dengan jelas sebagai nilai kontrak eksklusif selama dua tahun sebagai *B**nd Ambassador Couple*.

Dua miliar. Angka itu bisa melunasi sisa utang peninggalan bisnis ayah yang bangkrut, memindahkan ibu ke kontrakan yang lebih layak, dan memberiku modal untuk membangun agensi konten yang sesungguhnya. Aku bisa merasakan ujung jariku gemetar. Ini bukan lagi sekadar sandiwara kecil untuk mendapatkan *followers*. Ini adalah tiket keluar dari kemiskinan yang selama ini menghantuiku setiap kali aku melihat saldo ATM yang menipis di akhir bulan.

"Nilai yang fantastis, bukan?" Ibu Shinta tersenyum, matanya yang tajam di balik kacamata desainer seolah bisa membaca setiap pikiran picikku. "Tapi, investasi sebesar ini tentu disert** dengan keamanan yang setara bagi b**nd kami."

Ia memberi isyarat agar aku membalik halaman ke bagian belakang. Jariku bergerak ke Pasal 7: *Klausul Moralitas dan Integritas Publik.*

"Selama masa kontrak dua puluh empat bulan," Ibu Shinta menjelaskan dengan nada datar, seolah sedang membicarakan ramalan cuaca, "kalian wajib mempertahankan status hubungan romantis di depan publik maupun secara hukum kontrak. Jika terjadi perpisahan, perselingkuhan, atau skandal moral apa pun yang merusak citra 'Pasangan Sempurna' yang kami bangun, kontrak akan dibatalkan secara sepihak."

Aku berhenti membaca pada satu baris yang dicetak tebal.

"Denda penalti... satu miliar rupiah?" suaraku keluar sedikit lebih parau dari yang kuharapkan.

"Ya," Ibu Shinta mengangguk mantap. "Satu miliar rupiah yang harus dikembalikan segera jika kalian melanggar klausul tersebut. Kami tidak bisa membiarkan investasi dua miliar kami hancur karena salah satu dari kalian tiba-tiba ingin 'mencari jati diri' atau bosan dengan pasangannya. Kalian adalah produk kami sekarang."

Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sempit. AC yang tadinya sejuk kini terasa seperti embusan angin kutub yang membekukan darahku. Dua puluh empat bulan. Dua tahun penuh kepura-puraan. Aku melirik Leo. Ia akhirnya meletakkan ponselnya, matanya menatap tajam ke arah dokumen itu. Ekspresi jenakanya memudar, digantikan oleh garis rahang yang mengeras.

"Dua tahun itu waktu yang lama, Bu Shinta," suara Leo terdengar rendah.

"Waktu yang sangat lama untuk sebuah komitmen," balas Ibu Shinta tenang. "Tapi bukankah cinta kalian memang sedalam itu di layar ponsel? Video kalian saat di taman minggu lalu... tatapan kalian tidak bisa bohong, kan?"

Aku merasakan perutku melilit. Tatapan di taman itu hanyalah hasil dari sepuluh kali *retake* dan arahan teknis dariku agar Leo sedikit lebih menunduk agar cahaya matahari jatuh tepat di matanya. Semuanya adalah kalkulasi. Semuanya adalah strategi.

Tanganku merayap ke bawah meja, meremas kain rok span yang kukenakan hingga kusut. Satu miliar rupiah. Jika aku menandatangani ini, aku secara resmi menjual kebebasan pribadiku. Aku tidak boleh jatuh cinta pada orang lain. Aku tidak boleh terlihat bertengkar dengan Leo di depan publik. Aku harus menjadi Maya, kekasih impian Leo, selama 730 hari ke depan.

Pikiranku mendadak terbang pada Aris. Fotografer itu baru saja mengirimkan pesan singkat tadi pagi, menanyakan apakah aku punya waktu untuk sekadar minum kopi tanpa kamera yang menyala. Bayangan senyum tulus Aris yang tidak pernah menuntut apa-apa dariku terasa seperti oase yang tiba-tiba tertutup pasir gurun.

"Maya?" Leo memanggil namaku, membuyarkan lamunanku. Ia menatapku, seolah memberiku ruang untuk mundur. "Gimana?"

Aku menatap angka dua miliar itu lagi, lalu membayangkan wajah ibu yang kuyu karena kelelahan bekerja serabutan. Ketakutan akan kemiskinan yang mencekik selama bertahun-tahun itu mendadak bangkit, lebih kuat dan lebih nyata daripada keinginan untuk mencari cinta sejati.

Aku meraih pulpen mewah yang disediakan di atas meja. Bobotnya terasa berat, seberat rant** emas yang sebentar lagi akan melingkar di leherku.

"Dua tahun," bisikku pada diri sendiri. "Aku bisa melakukannya."

Aku menorehkan tanda tangan di atas materai, diikuti oleh Leo yang melakukannya tanpa ragu sedikit punβ€”atau setidaknya, ia sangat pandai menyembunyikan keraguannya.

"Selamat," Ibu Shinta berdiri dan menjabat tangan kami bergantian. "Kalian resmi menjadi wajah baru GlowUp. Jangan buat kami kecewa."

Saat kami keluar dari ruangan itu, udara di lorong kantor terasa berbeda. Leo berjalan di sampingku, tangannya tiba-tiba melingkar di pinggangku saat kami melewati beberapa karyawan yang mulai berbisik-bisik dan mengeluarkan ponsel mereka.

"Ingat, Sayang," bisik Leo tepat di telingaku, suaranya mengandung nada sarkasme yang tipis namun tajam. "Mulai detik ini, setiap langkah kita harganya satu miliar. Jangan sampai kamu salah langkah dan membuatku bangkrut."

Aku melepaskan tangannya dengan halus begitu kami ma**k ke dalam lift yang kosong, namun getaran di dadaku tidak hilang. Aku baru saja memenangkan lotre, tapi mengapa rasanya aku baru saja menyerahkan kunci penjaraku sendiri?

Ponselku berdenting. Sebuah pesan ma**k dari Aris.

*Aku menemukan tempat kopi yang tenang di dekat studio. Kamu mau mampir sebentar sore ini?*

Aku menatap layar itu dengan nanar, sebelum jemariku bergerak menghapus pesan tersebut tanpa membalasnya. Kontrak itu baru saja dimulai, dan aku sudah mulai merasakan sesak yang luar biasa.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca