Aroma kopi arabika mahal dan pengharum ruangan beraroma *sandalwood* menyerbu indra penciumanku begitu melangkah ma**k ke ruang rapat di lant** tiga puluh enam gedung Grandis Cosmetics. Ruangan ini adalah definisi dari kemewahan yang dinginβdinding kaca yang menampilkan lanskap Jakarta yang penuh polusi namun berkilau, meja marmer panjang yang licin, dan deretan kursi kulit yang seolah bisa menelan tubuhmu jika kau duduk terlalu lama.
Di ujung meja, Bu Sarah, Kepala Pemasaran Grandis, menatap kami dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Dia tampak seperti predator yang baru saja menemukan mangsa yang sangat menguntungkan.
"Silakan duduk, Leo, Maya," suaranya lembut namun penuh penekanan.
Aku melirik Maya di sampingku. Dia tampak sangat tenang, nyaris seperti patung porselen yang sempurna. Gaun *blazer* berwarna krem yang dikenakannya memancarkan aura profesionalisme yang tidak pernah kubayangkan saat pertama kali kami membuat konten receh di apartemen sempitnya. Dia meletakkan tas tangannya dengan anggun, lalu tersenyumβsenyum yang sudah dia latih di depan cermin berkali-kali.
"Terima kasih, Bu Sarah," sahut Maya, suaranya stabil tanpa getaran sedikit pun.
Aku berdeham, mencoba membasahi tenggorokanku yang terasa kering. Tanganku yang tersembunyi di bawah meja mengepal kuat. Ponsel di saku celanaku bergetar sekali. Aku tahu itu pesan dari rumah sakit. Tagihan prosedur operasi pengangkatan tumor ibu sudah keluar, lengkap dengan rincian biaya perawatan intensif yang jumlah nolnya membuat kepalaku berdenyut.
Dua lembar dokumen tebal diletakkan di hadapan kami. *Exclusive B**nd Ambassador Contract*.
"Nilainya tidak berubah dari diskusi awal," ujar Bu Sarah sambil mengetukkan pena emasnya ke atas meja. "Dua miliar rupiah untuk dua tahun. Pembayaran termin pertama sebesar empat puluh persen akan cair dalam tiga hari kerja setelah tanda tangan ini."
Delapan ratus juta rupiah. Angka itu berputar-putar di kepalaku. Itu lebih dari c**up untuk melunasi semua hutang rumah sakit, memindahkan Ibu ke kamar VIP, dan menyewa perawat pribadi terbaik. Tapi mataku kemudian tertuju pada pasal 12: *Moral Clause*.
*Pihak Kedua wajib menjaga citra publik sebagai pasangan kekasih yang harmonis. Segala bentuk skandal, perselingkuhan, atau berakhirnya hubungan selama masa kontrak akan dianggap sebagai pelanggaran berat yang berakibat pada pembatalan kontrak dan denda sebesar 200% dari nilai kontrak.*
Dadaku terasa sesak. Aku mencuri pandang ke arah Maya. Apakah dia merasakan hal yang sama? Apakah dia sadar bahwa dengan satu coretan pena ini, hidup kami bukan lagi milik kami sendiri? Kami baru saja menjual privasi, perasaan, dan kebenaran demi angka-angka di atas kertas.
"Ada yang ingin ditanyakan, Leo? Kamu terlihat ragu," tegur Bu Sarah, matanya yang tajam seolah bisa membaca kegelisahanku.
Aku memaksakan sebuah senyum tipis, tipe senyum 'pacar idaman' yang biasa kusajikan di kamera TikTok kami. "Tidak, Bu. Saya hanya... sedikit terpukau dengan kepercayaan yang Grandis berikan pada kami."
Maya menyentuh punggung tanganku di atas meja. Sentuhannya hangat, namun terasa seperti peringatan. "Kami sangat siap, Bu Sarah. Kami tahu betapa besar tanggung jawab ini," ucapnya meyakinkan.
Aku meraih pulpen yang disediakan. Beratnya terasa seperti berton-ton. Pikiranku melayang pada Ibu yang terbaring lemah di bangsal kelas tiga, dikelilingi suara monitor jantung yang monoton. Aku teringat wajah lelah adikku yang harus berhenti kuliah demi menjaga Ibu.
Aku tidak punya pilihan lain. Kejujuran adalah kemewahan yang tidak mampu kubeli saat ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membubuhkan tanda tangan di atas materai. Maya mengikuti segera setelahnya, gerakannya tegas dan tanpa ragu. Begitu selesai, Bu Sarah berdiri dan menjabat tangan kami bergantian.
"Selamat bergabung di keluarga Grandis. Mulai hari ini, kalian adalah wajah dari cinta yang sempurna bagi jutaan orang di luar sana," katanya penuh kemenangan.
Kami keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di lobi, kami bertemu dengan Aris. Dia berdiri di dekat jendela besar dengan kamera yang menggantung di lehernya, sedang menyesuaikan lensa. Aris adalah fotografer yang ditunjuk Grandis untuk sesi foto pengumuman hari ini.
"Siap untuk sesi pertama, 'pasangan paling serasi se-I****esia'?" goda Aris dengan nada sant**. Dia tersenyum ramah, tapi matanya yang jernih seolah bisa melihat menembus topeng yang kukenakan.
Maya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu alami hingga aku sendiri hampir tertipu. "Tentu saja, Aris. Pastikan fotonya terlihat romantis, ya?"
Aku berdiri di samping Maya, melingkarkan lenganku di pinggangnya untuk pertama kalinya sebagai 'aset perusahaan'. Maya bersandar sedikit ke bahuku. Wangi parfumnya yang manis memenuhi penciumanku, dan untuk sesaat, jantungku berdegup kencang bukan karena akting, tapi karena kedekatan fisik yang terasa terlalu nyata.
Namun, saat Aris mulai mengarahkan lensanya pada kami, pintu lift di belakang kami terbuka. Seorang asisten Bu Sarah berlari kecil menghampiri kami dengan wajah agak pucat.
"Bu Sarah minta kalian kembali ke ruangan sekarang," bisiknya dengan suara gemetar.
"Ada apa?" tanya Maya, alisnya bertaut.
"Ada... ada unggahan dari akun gosip di Twitter. Seseorang mengambil foto Leo di koridor rumah sakit tadi malam, sedang berbicara sangat serius dengan seorang wanita paruh baya yang menangis. Narasi di internet mulai liar, Leo. Mereka bilang kamu punya simpanan atau... rahasia keluarga yang disembunyikan dari Maya."
Darahku terasa membeku. Rahasiamu adalah kelemahanmu, dan di dunia yang kami pilih ini, satu celah kecil bisa meruntuhkan seluruh gedung pencakar langit yang baru saja kami bangun. Aku menatap Maya, dan untuk pertama kalinya hari ini, aku melihat kilatan ketakutan yang nyata di matanya. Kontrak dua miliar itu baru saja ditandatangani, dan badai sudah datang sebelum tinta di atasnya benar-benar kering.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!