Lampu *ring light* yang biasanya aku gunakan di kamar terasa seperti mainan anak-anak dibandingkan dengan deretan lampu studio raksasa yang kini mengepungku. Ruangan ini berbau campuran kopi mahal, parfum beraroma *musk*, dan aroma samar dari cairan pembersih lensa. Di depan cermin rias yang dikelilingi bohlam putih terang, aku memperhatikan pantulan diriku. Gaun satin berwarna *champagne* ini melekat sempurna di tubuhku, mempertegas setiap lekuk yang biasanya kusembunyikan di balik sweter longgar saat membuat konten di rumah.
"Jangan tegang, May. Anggap saja ini konten TikTok biasa, cuma kameranya lebih mahal," bisik Leo yang berdiri di belakangku. Tangannya hinggap di bahuku, meremas pelan. Di cermin, kami tampak seperti pasangan impian; dia dengan setelan jas *slim-fit* yang membuatnya tampak sepuluh kali lebih mapan, dan aku yang bertransformasi menjadi wanita elegan.
Aku memaksakan senyum tipis. "Konten TikTok tidak melibatkan kontrak miliaran rupiah dan klausul yang bisa membuatku bangkrut tujuh turunan kalau aku salah bicara, Leo."
Leo tertawa, suara rendahnya terdengar begitu meyakinkan. Dia adalah aktor alami. Kadang aku iri melihat betapa mudahnya dia beralih dari pria sant** yang suka makan mi instan di depan laptop menjadi sosok 'pacar idaman nasional' yang penuh proteksi. Bagiku, setiap detik di depan kamera adalah perhitungan matematisβcara aku memiringkan kepala, sudut senyumku, hingga durasi kontak mata. Semuanya demi menjaga agar kebohongan ini tetap utuh.
"Semuanya sudah siap?" Seorang asisten produksi berteriak, memecah lamunanku. "Aris sudah di posisinya!"
Kami melangkah menuju *backdrop* berwarna krem minimalis. Di sana, di balik kamera Hasselblad yang tampak mengintimidasi, berdiri seorang pria yang berbeda dari bayanganku tentang fotografer *fashion* yang biasanya kaku atau sok artistik.
Pria itu mengenakan kaus hitam polos dengan lengan digulung, memperlihatkan jam tangan analog yang tampak antik. Rambutnya sedikit berantakan, dan dia tidak langsung menyapa kami dengan basa-basi korporat. Dia hanya menatap layar monitornya sebentar, lalu beralih menatap kami. Bukan menatap sebagai 'selebriti', tapi seolah dia sedang membedah komposisi cahaya di wajah kami.
"Saya Aris," ucapnya pendek. Suaranya tenang, tidak terburu-buru. "Leo, Maya. Kita tidak akan melakukan pose *pre-wedding* yang kaku hari ini. Saya ingin 'kejujuran'. L'Aura ingin kalian terlihat seperti sedang dalam percakapan yang tidak ingin diinterupsi oleh siapa pun. Bisa?"
Aku menelan ludah. Kejujuran adalah hal terakhir yang bisa kuberikan dalam hubungan ini.
Sesi dimulai. Leo segera menjalankan perannya. Dia merangkul pinggangku, menarikku mendekat hingga aku bisa mencium aroma *aftershave*-nya. Dia membisikkan lelucon kecil di telingaku, membuatku tertawa. Kilatan lampu studio menyambar berkali-kali.
"Berhenti sebentar," suara Aris menginterupsi. Dia menurunkan kameranya. "Maya, kamu menahan napas."
Aku tersentak. "Maaf?"
Aris berjalan mendekat, melewati batas ruang pribadi yang biasanya dijaga orang asing. Dia berdiri tepat di depanku. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatapku tajam, tapi entah kenapa, tidak terasa mengancam. "Kamu memberikan pose yang sempurna, tapi matamu sedang menghitung angka. Hilangkan itu. Lihat Leo seolah dia adalah satu-satunya alasan kamu bisa bertahan di ruangan ini."
Aku merasa pipiku memanas. Leo terkekeh di sampingku. "Dia memang sedikit perfeksionis, Ris. Maklum, otak strategi."
"Strategi tidak menghasilkan foto yang bernyawa," balas Aris tenang, matanya masih terpaku padaku. "Coba lagi. Kali ini, jangan lihat lensanya. Lihat celah di antara kancing kemejanya, bayangkan sesuatu yang hanya kalian berdua yang tahu."
Kami kembali berpose. Namun, kali ini ada yang berubah. Aku mencoba mengikuti instruksi Aris, tapi kesadaranku justru terbelah. Aku sadar akan tangan Leo di pinggangku, tapi aku jauh lebih sadar akan kehadiran Aris di balik lensa. Setiap kali dia bergumam "Bagus" atau "Tetap di sana", jantungku berdegup dengan ritme yang salah.
Saat istirahat untuk penggantian *set*, aku berdiri di dekat meja monitor, melihat hasil foto sementara. Aris sedang berdiri di sana, menyesuaikan kontras pada layar.
"Komposisi warnanya luar biasa," ujarku spontan, lupa bahwa aku seharusnya menjaga jarak. "Kamu menggunakan teknik pencahayaan Remb**ndt di sudut itu, kan? Untuk menonjolkan bayangan di tulang pipi agar tidak terlihat terlalu datar."
Aris menoleh, alisnya terangkat sedikit. Ada kilatan minat di matanya. "Kamu tahu soal pencahayaan?"
"Aku... aku sering mempelajarinya untuk konten mandiri. Aku suka bagaimana bayangan bisa menceritakan hal yang tidak bisa disampaikan oleh ekspresi," jawabku agak malu.
Aris tersenyumβsenyum tulus pertama yang kulihat darinya sejak tadi pagi. "Jarang sekali ada B**nd Ambassador yang peduli soal teknis. Kebanyakan hanya peduli apakah mereka terlihat langsing atau tidak di kamera." Dia menggeser layar, menunjukkan sebuah foto di mana aku sedang menatap ke kejauhan, sementara Leo sedang menatapku. "Di foto ini, kamu terlihat nyata. Ada kesedihan yang estetik di matamu. Apa yang kamu pikirkan saat itu?"
Aku terdiam. Aku memikirkan cicilan utang mendiang ayahku yang baru saja lunas bulan lalu berkat kontrak ini. Aku memikirkan ketakutanku jika suatu hari dunia tahu bahwa aku adalah seorang penipu.
"Hanya... memikirkan masa depan," jawabku pelan.
"Masa depan yang cerah, kuharap," sahut Aris. Dia mencondongkan tubuh, bau kayu cendana dan kertas lama menguar dari tubuhnya. Untuk sesaat, dunia di sekitarku yang penuh dengan kepalsuanβkontrak, akting, Leoβterasa memudar. Aku merasa seperti Maya yang asli, gadis yang menyukai seni fotografi dan strategi, bukan Maya si 'pacar idaman' hasil rekayasa algoritma.
"Maya! Ayo, ganti kostum kedua!" seru asistenku, memecah momen itu.
Aku berbalik dengan tergesa, tapi langkahku tertahan saat Leo berdiri tidak jauh dari kami, memperhatikanku dan Aris dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada senyum ramah di wajahnya sekarang. Dia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang tampak protektif namun terasa posesif, dia merangkul bahuku erat-erat.
"Ayo, sayang. Kita tidak ingin membuat klien menunggu, kan?" ucap Leo, suaranya terdengar manis di telinga orang lain, tapi bagiku, ada nada peringatan di sana.
Aku melirik kembali ke arah Aris. Dia masih menatapku, tapi kali ini kameranya sudah terangkat kembali, membidikku seolah dia baru saja menemukan subjek eksperimen yang jauh lebih menarik daripada sekadar kontrak komersial. Saat itu aku sadar, ancaman terbesar bagi karier dan kontrak miliaran rupiah ini bukan hanya skandal publik, tapi getaran aneh di dadaku yang seharusnya tidak boleh ada untuk pria selain Leo.
Dan Aris, dengan lensa tajamnya, seolah bisa melihat tembus ke dalam kebohongan yang baru saja kumulai.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!