Lensa kameraku tidak pernah berbohong. Bagiku, dunia hanyalah rangkaian komposisi cahaya, bayangan, dan emosi yang seringkali luput dari mata te*******. Namun, melalui jendela bidik Canon-ku sore ini, aku melihat sesuatu yang mengganggu ritme kerjaku. Ada sesuatu yang janggal pada Maya.
"Oke, tahan sebentar. Leo, dagu agak turun. Maya, tatap Leo seolah dia adalah satu-satunya oksigen di ruangan ini," instruksiku sambil menekan tombol *shutter*.
*Klik. Klik. Klik.*
Di layar monitor, mereka tampak sempurna. Maya menyandarkan kepalanya di bahu Leo, sementara jemari lenturnya membelai kerah kemeja pria itu dengan kelembutan yang mematikan. Mereka adalah definisi dari *'couple goals'* yang diinginkan setiap merek kosmetik besar. Namun, begitu aku menurunkan kamera untuk memeriksa fokus, aku melihat pemandangan yang berbeda. Begitu kata "bungkus" diteriakkan oleh asisten produksi, kehangatan di mata Maya menguap secepat embun di bawah terik matahari.
Leo langsung meraih ponselnya, sibuk memeriksa statistik unggahan terakhirnya, sementara Maya berdiri mematung. Dia menarik napas panjang, sebuah helaan yang terdengar lebih seperti beban berat daripada kelegaan.
"Bagus sekali, semuanya! Kita selesai untuk hari ini," teriak manajer produksi.
Ruangan studio yang tadinya sunyi karena konsentrasi kini meledak dengan suara kru yang membereskan kabel dan peralatan. Aku mulai membongkar kameraku dari tripod, tapi mataku terus mencuri pandang ke arah sudut ruangan. Maya sedang duduk di kursi rias, menghapus sisa lipstik merah menyala yang menjadi produk utama pemotretan hari ini. Dia tampak begitu kecil di bawah lampu-lampu neon yang dingin.
Aku mengambil dua botol air mineral dari meja konsumsi dan berjalan mendekatinya. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya—reaksi konyol yang selalu kualami setiap kali berada di dekatnya tanpa penghalang lensa.
"Pekerjaan yang luar biasa, Maya," kataku sambil menyodorkan botol air itu.
Dia tersentak sedikit, seolah baru saja ditarik paksa dari alam lamunannya. Begitu melihatku, sorot matanya yang redup langsung berganti dengan senyum tipis yang ramah. "Oh, Aris. Terima kasih. Kamu juga, sudut pengambilan gambarmu tadi benar-benar jenius."
Aku duduk di kursi kosong di sebelahnya. "Hanya mengikuti objeknya. Kalau objeknya sudah punya karakter kuat, tugasku jadi mudah."
Maya tertawa kecil, tapi tawanya tidak sampai ke mata. Dia memutar-mutar tutup botol air mineral tanpa membukanya. "Karakter, ya? Terkadang aku merasa lebih seperti manekin daripada manusia di depan kamera itu."
"Kenapa begitu? Kamu dan Leo... kalian punya *chemistry* yang sangat natural," kataku, mencoba memancing reaksi. Ada rasa pahit yang tidak enak di lidahku saat mengucapkan nama Leo. Sejujurnya, aku tidak suka melihat bagaimana Leo memperlakukannya seperti properti pendukung untuk kontennya.
Maya terdiam sejenak. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang dikelilingi bohlam putih. "Natural. Ya, itulah yang diinginkan algoritma, kan? Sesuatu yang terlihat asli, meskipun sebenarnya..." Dia menggantung kalimatnya.
"Meskipun sebenarnya apa?" tanyaku lembut.
Dia menoleh padaku, dan untuk sesaat, tembok pertahanan yang selalu dia bangun di depan publik tampak runtuh. Aku melihat kelelahan yang luar biasa di sana. Bukan sekadar lelah fisik karena pemotretan sepuluh jam, tapi lelah jiwa.
"Kadang aku lupa bagaimana rasanya menjadi Maya yang biasa. Bukan Maya yang harus tersenyum setiap kali lampu merah di kamera menyala," bisiknya. Suaranya begitu rendah hingga nyaris tenggelam oleh suara gaduh kru di sekitar kami.
Aku merasa ada dorongan kuat untuk meraih tangannya, mengatakan padaku bahwa dia tidak perlu berakting di depanku. "Kamu tahu, aku lebih suka foto-foto *candid* yang kuambil tadi saat kamu tidak sadar kamera sedang membidik. Saat kamu sedang melamun menatap ke luar jendela. Itu lebih... hidup."
Wajah Maya merona tipis. "Benarkah? Aku pasti terlihat berantakan di foto-foto itu."
"Tidak. Kamu terlihat nyata," balasku sungguh-sungguh.
Kami terdiam selama beberapa detik. Atmosfer di antara kami mendadak berubah, menjadi lebih intim dan tebal, mengaburkan keberadaan orang-orang lain di studio itu. Aku bisa mencium aroma parfum vanila lembut yang menguar dari lehernya. Aku ingin bertanya lebih jauh—tentang apa yang dia rasakan, tentang beban yang tampaknya dia pikul sendirian, dan tentang sejauh mana hubungannya dengan Leo benar-benar bermakna.
"Maya! Ayo, kita harus mengejar pertemuan dengan tim marketing Glossy!" Suara lantang Leo memecah keheningan di antara kami.
Leo berjalan mendekat sambil merapikan rambutnya yang klimis. Dia tidak melihatku, atau mungkin sengaja menganggapku bagian dari furnitur studio. Dia langsung merangkul bahu Maya dengan posesif. "Ayo sayang, jangan buat mereka menunggu. Kontrak miliaran ini tidak akan berjalan sendiri kalau kita malas-malasan."
Aku melihat tubuh Maya menegang sesaat saat tangan Leo menyentuh bahunya, sebelum akhirnya dia memaksakan sebuah senyum profesional yang sempurna. Dia berdiri, merapikan blusnya yang sedikit kusut.
"Aku harus pergi, Aris. Sampai jumpa besok," pamitnya.
Aku hanya bisa mengangguk, melihat mereka berjalan menjauh. Leo terus berbicara tentang angka, *engagement*, dan target audiens, sementara Maya berjalan di sampingnya seperti boneka yang patuh. Namun, tepat sebelum mereka melewati pintu keluar, Maya menoleh sedikit ke arahku. Hanya sekilas, tapi c**up untuk mengirimkan sinyal yang membuat dadaku sesak.
Ada tatapan minta tolong di matanya.
Aku mengepalkan tangan, merasakan botol air mineral yang tadi diberikan Maya—yang ternyata belum sempat dia minum—masih dingin di genggamanku. Ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka. Leo memperlakukan Maya seolah dia adalah investasi, bukan kekasih. Dan jika instingku sebagai fotografer benar, maka kemesraan yang mereka pamerkan di depan jutaan pengikut itu hanyalah sebuah komposisi yang diatur dengan sangat rapi.
Aku merogoh saku, mengambil ponselku, dan membuka profil Instagram mereka. Foto terbaru menunjukkan mereka sedang tertawa bahagia dengan keterangan foto: *'The best part of my day is sharing it with you.'*
Aku menatap layar itu dengan dahi berkerut. Jika mereka benar-benar bahagia, kenapa Maya terlihat seperti seseorang yang sedang tenggelam setiap kali kamera dimatikan? Dan yang lebih penting, kenapa aku merasa memiliki tanggung jawab untuk menariknya keluar dari sana?
Besok, ada sesi pemotretan *outdoor* di pant**. Aku memutuskan satu hal; aku tidak akan hanya menjadi penonton di balik lensa lagi. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kontrak mewah mereka, sebelum Maya benar-benar kehilangan dirinya sendiri dalam sandiwara ini.
Namun, lamunanku terbuyar saat aku melihat sebuah amplop cokelat tertinggal di bawah kursi rias Maya. Aku memungutnya, dan saat aku membukanya sedikit, mataku terbelalak melihat lembaran kertas dengan judul besar: **"PERJANJIAN KERJASAMA B**ND AMBASSADOR: KLAUSUL MORAL DAN STATUS HUBUNGAN."**
Tanganku gemetar. Jika dugaanku benar, rahasia yang tersimpan di dalam dokumen ini bisa menghancurkan karier mereka—atau justru menjadi kunci bagiku untuk mendekati Maya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!