Lampu kilat ponsel menyambar wajahku, membuat mataku sedikit perih selama sepersekian detik. Aku segera memasang senyum andalankuβbibir yang melengkung sempurna, deretan gigi yang rapi, dan binar mata yang seolah mengatakan bahwa hidupku adalah sebuah pesta yang tidak pernah berakhir.
"G***, Sa! Foto ini cakep banget. Gue *tag* ya?" seru Rara sambil sibuk mengutak-atik layar ponselnya.
Aku hanya mengangguk kecil sembari menyesap *iced americano*-ku yang sudah mulai mencair. "Boleh, Ra. Kirim ke grup juga ya fotonya."
Di sekelilingku, kantin fakultas yang riuh seakan menjadi latar belakang dari panggung sandiwara yang kumainkan setiap hari. Sebagai Sasa, mahasiswi semester tiga yang dikenal aktif di organisasi dan selalu dikelilingi teman, tidak ada ruang untuk hari yang buruk. Aku adalah definisi dari 'hidup yang ideal'. Namun, saat tawa teman-temanku membumbung tinggi mendiskusikan rencana akhir pekan ke Bali, aku justru merasakan kekosongan yang merayap dari ujung kaki hingga ke dada.
Otot wajahku mulai terasa kaku. Senyum ini, yang bagi orang lain tampak alami, sebenarnya adalah hasil latihan bertahun-tahun di depan cermin. Aku merasa seperti sebuah baterai yang dayanya sudah menunjukkan angka satu persen, berkedip merah dan memohon untuk diisi ulang.
"Aku ke kelas duluan ya, ada materi yang mau aku baca lagi," pamitku, memberikan alasan yang terdengar sangat 'Sasa'. Rajin, ambisius, sempurna.
"Yah, rajin amat sih, Sa! Masih ada lima belas menit lagi," keluh Riri, namun ia tetap melambai padaku.
Begitu aku membalikkan badan dan berjalan menjauh dari meja mereka, bahuku merosot. Helaan napas panjang keluar begitu saja. Langkahku menuju ruang kelas 3.2 terasa berat, seolah aku sedang menyeret beban yang tak terlihat.
Suasana kelas masih sepi saat aku ma**k. Hanya ada satu orang yang sudah duduk di posisinya yang biasaβbarisan paling belakang, di pojok yang remang. Elang. Dia sedang menunduk, fokus pada buku tebal di hadapannya. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian keningnya. Aku melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Elang adalah tipe orang yang kutandai sebagai 'pria es'. Dingin, sombong, dan seolah memiliki tembok setinggi langit yang memisahkannya dari keramaian dunia. Ia tidak pernah tertawa, tidak pernah ikut berkumpul, dan jarang sekali bicara kecuali saat presentasi.
Aku duduk di kursiku, tepat di depan kursi Elang. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, sebuah eksistensi yang diam namun intens.
Dengan gerakan cepat, aku merogoh ponsel dari saku jaketku. Aku tidak membuka akun Instagram utamaku yang dipenuhi ribuan pengikut. Sebaliknya, aku ma**k ke akun lain. Akun tanpa foto profil, tanpa nama asli, tanpa tekanan untuk menjadi sempurna.
*@AwanMendung: Hari ini rasanya melelahkan. Berpura-pura tersenyum ternyata lebih menguras tenaga daripada lari maraton.*
Aku mematikan layar, menaruh ponsel di atas meja dengan posisi telungkup. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Hanya di sini, di balik anonimitas ini, aku berani mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Tak sampai satu menit, ponselku bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul.
*@BlueRaven: Terkadang, langit juga butuh mendung sebelum bisa menurunkan hujan yang melegakan. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Awan. Kamu sudah berusaha c**up baik hari ini.*
Aku terpaku membaca deretan kalimat itu. @BlueRaven. Aku tidak tahu siapa dia, di mana dia tinggal, atau seperti apa rupa wajahnya. Kami bertemu di sebuah forum diskusi literasi enam bulan lalu, dan sejak itu, dia menjadi satu-satunya orang yang benar-benar 'melihatku'. Melalui pesan-pesannya yang sederhana namun menenangkan, dia seolah mampu mengurai benang kusut di kepalaku.
*@AwanMendung: Tapi dunia nggak suka hujan, Blue. Mereka cuma suka pelangi. Kalau aku nggak kasih mereka pelangi, apa mereka masih mau di sini?*
Aku menunggu balasannya dengan perasaan tak menentu. Di belakangku, aku mendengar suara lembaran kertas yang dibalik. Elang sepertinya masih sibuk dengan dunianya sendiri. Aku sempat bertanya-tanya, apa yang dipikirkan orang sedingin dia? Apa dia juga punya kegelisahan yang sama denganku? Ah, tidak mungkin. Dia terlihat terlalu cuek untuk memedulikan hal-hal semacam itu.
Ponselku bergetar lagi.
*@BlueRaven: Pelangi itu indah, tapi hujan itu kehidupan. Tanpa hujan, pelangi nggak akan pernah ada. Kalau mereka cuma mau pelanginya saja, mungkin mereka bukan orang yang tepat untuk ada di sampingmu saat badai.*
Mataku terasa panas. Kalimat itu menghantamku tepat di ulu hati. Seseorang yang asing, yang bahkan tidak pernah menjabat tanganku, justru lebih memahamiku daripada teman-teman yang baru saja berfoto bersamaku di kantin.
"Eh, Sa, kok melamun?"
Aku tersentak kaget saat sebuah tepukan mendarat di bahuku. Itu Aris, ketua kelas kami yang super enerjik. Aku refleks membalikkan ponselku, memastikan layarnya sudah gelap.
"Oh, nggak apa-apa, Ris. Cuma kurang tidur aja," jawabku, otomatis memasang topeng keceriaan itu kembali.
"Oalah, jangan capek-capek. Eh, lo udah lihat tugas Pak Satya? G***, susah banget kan?"
Aku menanggapi obrolan Aris dengan tawa ringan yang terukur, sementara pikiranku masih tertinggal pada pesan @BlueRaven. Di tengah kebisingan kelas yang mulai terisi penuh oleh mahasiswa lain, aku merasa ada sebuah tarikan magnetis yang aneh.
Secara tidak sengaja, aku menjatuhkan pulpenku ke lant**. Pulpen itu menggelinding ke belakang, tepat di bawah kursi Elang. Aku menghela napas, ragu untuk memintanya mengambilkan, tapi itu adalah pulpen kesayanganku.
Aku menoleh ke belakang. Elang masih dalam posisi yang sama, namun tangannya tidak lagi memegang buku. Tangannya ada di bawah meja, sedang mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat. Wajahnya yang biasanya datar tampak sedikit melunak, ada secercah kehangatan yang tak pernah kulihat sebelumnya di matanya yang tajam.
"Elang?" panggilku ragu.
Dia tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, dan selama beberapa detik, mata kami bertemu. Ada kilat kepanikan di matanya sebelum ia kembali memasang ekspresi dingin yang biasa.
"Pulpen gue... jatuh di bawah kursi lo," ucapku pelan.
Tanpa suara, ia membungkuk, mengambil pulpen itu, dan meletakkannya di atas mejaku tanpa melihat wajahku lagi.
"Makasih," kataku.
Dia hanya bergumam tidak jelas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Aku kembali menghadap ke depan, namun ada sesuatu yang mengganjal. Bau parfum Elangβaroma kayu manis dan hujanβterasa sangat akrab, meski aku yakin kami belum pernah sedekat ini sebelumnya.
Aku meraih kembali ponselku, berniat membalas pesan @BlueRaven, namun mataku tertuju pada sebuah det**l kecil. Di layar ponsel Elang yang tadi sempat kulihat sekilas sebelum ia menyembunyikannya, aku melihat sebuah ikon aplikasi yang sama dengan yang kugunakan. Aplikasi yang menaungi akun anonimku.
Jantungku berdegup kencang. Mungkinkah? Tidak, itu konyol. Elang yang kaku dan tidak berperasaan itu tidak mungkin adalah @BlueRaven yang bijak dan hangat.
Namun, rasa penasaran itu mulai tumbuh seperti benih yang dipaksa mekar. Aku harus tahu. Aku harus memastikan siapa sebenarnya sosok di balik layar yang selama ini menjadi tempatku bersembunyi. Karena jika benar itu dia, maka duniaku yang selama ini tertata rapi akan segera hancur berantakan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!