Layar ponsel di genggamanku terasa dingin, sedingin udara di selasar lant** tiga gedung fakultas yang mulai sepi. Cahaya biru dari layar itu memantulkan pesan terakhir yang ma**k ke kotak ma**k @BlueRaven sepuluh menit yang lalu.
*“Kenapa tiba-tiba menghilang? Apa aku melakukan kesalahan? Tolong, jangan diam begini. Kamu satu-satunya tempatku bisa bernapas.”*
Aku mematikan layar, mema**kkannya ke saku jaket dengan tangan yang sedikit gemetar. Menjadi @BlueRaven awalnya hanyalah pelarian, sebuah ruang aman untuk membagikan pemikiran yang tidak sanggup kusampaikan secara lisan. Namun sekarang, akun itu telah menjelma menjadi tabung oksigen bagi seseorang yang setiap harinya duduk tepat di depanku di kelas, seseorang yang menganggapku tidak lebih dari sebongkah es yang tidak punya perasaan.
Langkah kakiku terhenti tepat di belokan menuju balkon belakang perpustakaan. Itu adalah sudut mati yang jarang dikunjungi mahasiswa, tempat paling strategis untuk bersembunyi dari hiruk pikuk kantin atau tawa palsu di lorong kelas. Di sana, aku melihatnya.
Sasa.
Gadis yang selalu menjadi pusat perhatian itu kini duduk meringkuk di lant** semen yang berdebu. Bahunya yang biasa tegak dengan penuh percaya diri kini merosot, berguncang pelan. Tidak ada tawa renyah yang biasa ia pamerkan pada teman-teman satu gengnya. Yang ada hanya suara isak tangis yang tertahan, seolah ia takut bahkan dinding bangunan ini pun akan menghakiminya jika ia menangis terlalu keras.
Aku terpaku di balik pilar. Dadaku terasa sesak melihat pemandangan itu. Aku tahu persis apa yang membuatnya hancur. Penolakanku—atau lebih tepatnya, kebisuan @BlueRaven selama dua hari terakhir—telah meruntuhkan pertahanannya. Aku ingin mendekat, mengetikkan kata-kata penenang di layar ponsel agar ia berhenti menangis. Namun, jika aku melakukannya sekarang, dia akan mendengar bunyi notifikasi dari saku jaket kaku. Dan semuanya akan berakhir.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang mengg***. Dilema ini selalu mencekikku: tetap menjadi @BlueRaven yang hangat namun semu, atau menjadi Elang yang nyata namun dianggap musuh.
Perlahan, aku melangkah keluar dari balik bayangan pilar. Suara gesekan sepatuku di lant** semen membuatnya tersentak. Sasa dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, sebuah gerakan refleks untuk kembali mengenakan topeng "sempurna"-nya.
"Siapa di situ?" suaranya serak, tajam, dan penuh pertahanan.
Aku berhenti beberapa langkah darinya. Mata Sasa yang sembab menatapku dengan kilatan benci yang sudah biasa kuterima. "Elang? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Hanya mencari tempat sepi," jawabku datar, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap sedingin biasanya. Aku tidak boleh terlihat terlalu peduli, atau dia akan curiga.
Sasa berdiri, merapikan rok dan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia memalingkan wajah, enggan memperlihatkan sisa-sisa air mata yang masih menggenang. "Pergi saja ke tempat lain. Aku sedang ingin sendirian."
Aku tidak bergerak. "Kamu habis menangis."
Ia tertawa sinis, sebuah tawa kering yang menusuk telingaku. "Bukan urusanmu. Bukankah kamu memang tidak pernah peduli dengan urusan orang lain? Kamu kan si 'patung es' yang paling pintar menutup diri."
Kalimat itu menyakitkan, tapi aku menerimanya. Sasa tidak tahu bahwa orang yang dia sebut patung es ini adalah orang yang semalam begadang hanya karena memikirkan bagaimana cara menghiburnya tanpa mengungkap identitas.
"Menangis bukan berarti lemah, Sa," ucapku pelan. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Itu adalah kalimat yang pernah kuketikkan untuknya di @BlueRaven sebulan yang lalu.
Sasa mematung. Kepalanya menoleh cepat ke arahku, matanya membelalak mencari sesuatu di wajahku. "Apa... apa kamu bilang?"
Aku merutuki kecerobohanku. "Maksudku, semua orang punya batas. Tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja kalau memang duniamu sedang berantakan."
Sasa terdiam lama, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Keheningan di antara kami terasa begitu berat. Aku melihat tangannya meremas ujung jaketnya sendiri. "Kenapa kamu bicara begitu? Itu... itu terdengar seperti seseorang yang kukenal."
"Mungkin itu hanya logika sederhana," sahutku cepat, mencoba memperbaiki keadaan. "Aku hanya tidak sengaja melihatmu tadi."
Sasa maju satu langkah, menipiskan jarak di antara kami. Bau parfum vanilanya yang lembut terbawa angin, kontras dengan suasana hatinya yang kelabu. "Elang, jujur padaku. Kenapa kamu selalu ada di sekitar saat aku merasa paling hancur? Di kelas, di perpustakaan, sekarang di sini... Apa ini hanya kebetulan?"
Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Ponsel di saku jaketku tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi. Aku tahu itu pasti pesannya yang lain. Jika getarannya c**up kuat, atau jika aku refleks meraba saku, rahasia ini akan terbongkar saat ini juga.
Aku menatap matanya yang merah dan bengkak. Ada kerinduan yang besar di sana, keinginan untuk dipahami yang selama ini hanya ia percayakan pada sosok anonim di dunia maya. Aku memiliki kesempatan untuk mengakhiri sandiwara ini, untuk memeluknya dan mengatakan bahwa aku di sini. Namun, bayangan tentang bagaimana dia akan kecewa saat tahu bahwa @BlueRaven—pahlawan digitalnya—ternyata adalah pria membosankan yang selama ini dia benci, membuat nyaliku menciut.
"Kebetulan hanyalah sebuah pola yang belum kita pahami, Sa," kataku, mengutip filosofi lain yang sering kami diskusikan di *Direct Message*.
Sasa tersentak. Ia mundur selangkah, wajahnya memucat. "Kata-kata itu... pola itu... @BlueRaven?"
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku melakukan kesalahan fatal. Aku memberikan terlalu banyak potongan teka-teki dalam satu waktu.
Tepat saat itu, ponsel Sasa berdenting keras. Sebuah notifikasi ma**k. Ia melihat layarnya dengan cepat, lalu menatapku kembali dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan yang mulai mengkristal.
"Siapa kamu sebenarnya, Elang?" suaranya bergetar, bukan lagi karena sedih, melainkan karena sebuah kesadaran yang mulai tumbuh.
Aku terpaku, membeku di tempatku berdiri, sementara angin sore berhembus kencang seolah ingin menyingkap semua rahasia yang selama ini kusimpan rapat di balik bayang-bayang. Jika aku menjawab sekarang, tidak akan ada jalan untuk kembali.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!