Gelas kopi di hadapanku sudah berembun, menyisakan lingkaran air di atas meja kayu kafe kampus yang mulai ramai. Jantungku berdegup tak beraturan, ritmenya seperti ketukan jemariku yang tak bisa diam di atas layar ponsel. Pagi ini, sebuah pesan ma**k ke DM akun rahasiaku. Seseorang mengajak bertemu di pojok kafe ini, mengklaim bahwa dialah sosok di balik akun @BlueRaven.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dada. Selama berbulan-bulan, @BlueRaven adalah pelabuhanku. Dia adalah orang yang tahu betapa sesaknya menjadi "Sasa yang Sempurna" di depan orang lain. Dia adalah kata-kata puitis yang menyembuhkan, perspektif dingin yang menenangkan, dan satu-satunya orang yang tidak menuntut apa pun dariku.
"Sasa?"
Suara bariton itu membuatku tersentak. Aku mendongak dan mendapati Raka berdiri di sana. Raka, sang kapten tim basket yang karismatik, yang senyumnya selalu menghiasi papan pengumuman kampus. Ia mengenakan jaket denim dengan aroma parfum maskulin yang c**up tajam.
"Raka? Kamu... ngapain di sini?" tanyaku, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.
Raka tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuat mahasiswi lain meleleh. Ia menarik kursi di hadapanku tanpa menunggu dipersilakan. Matanya menatapku lurus, ada binar kepercayaan diri yang sangat kental di sana.
"Kamu nungguin seseorang, kan?" tanyanya pelan. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menggeser layar dan menunjukkannya padaku. Di sana, terpampang profil @BlueRaven. "Maaf kalau aku bikin kamu kaget. Aku cuma ngerasa... ini waktunya kita berhenti sembunyi di balik layar."
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Raka? Cowok paling populer di kampus, yang selalu dikelilingi kerumunan orang, adalah sosok melankolis dan bijak yang selama ini menemaniku setiap malam? Rasanya seperti potongan puzzle yang dipaksakan ma**k ke lubang yang salah, tapi aku sangat ingin puzzle ini lengkap.
"Jadi... itu beneran kamu?" suaraku sedikit bergetar. "Semua pesan itu? Tentang gimana kamu ngerasa bintang-bintang lebih jujur daripada lampu kota?"
Raka tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah, meski entah kenapa terasa sedikit terlalu... panggung. "Ya, itu aku, Sas. Kadang jadi populer itu capek, kan? Makanya aku bikin akun itu buat pelarian. Dan pas aku tahu itu kamu, aku ngerasa kita punya koneksi yang lebih dari sekadar teman satu angkatan."
Aku menatap Raka lekat-lekat. Secara visual, segalanya tampak sempurna. Aku menyukai Rakaβsiapa yang tidak? Membayangkan bahwa sosok ideal seperti Raka adalah orang yang memahami sisi gelapku terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan. Namun, saat ia mulai berbicara lebih banyak, ada sesuatu yang mengganjal di sudut hatiku.
"Aku suka banget pas kamu bahas soal lukisan Van Gogh yang *Starry Night* waktu itu," ucapku mencoba memancing. "@BlueRaven bilang, lukisan itu bukan soal keindahan, tapi soal jeritan yang sunyi."
Raka terdiam sejenak, ia menyesap kopinya dengan sant**. "Oh, ya. Benar. Van Gogh memang unik, kan? Tekniknya... *bold*. Aku emang lagi ngerasa emosional banget pas ngetik itu."
Aku mengernyit tipis. @BlueRaven tidak pernah menggunakan kata "unik" atau "bold" untuk mendeskripsikan perasaan. Dia biasanya bicara tentang tekstur cat yang menyerupai ombak kecemasan, atau bagaimana warna kuning di sana adalah sisa-sisa harapan yang hampir padam. Kalimat Raka barusan terasa... dangkal. Seperti seseorang yang sedang membaca sinopsis buku di bagian belakang sampul, bukan seseorang yang menulis isinya.
"Sas, kamu kok bengong?" Raka menyentuh punggung tanganku. Sentuhannya hangat, tapi aku tidak merasakan sengatan listrik yang biasanya aku rasakan saat membaca pesan-pesan dari @BlueRaven.
"Enggak, aku cuma... masih nggak nyangka aja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Makasih ya, udah mau jujur."
"Sama-sama. Kita nggak perlu lagi pakai rahasia-rahasiaan, kan? Mulai sekarang, kalau kamu sedih, kamu bisa langsung cari aku di lapangan atau di kantin. Nggak usah lewat DM lagi." Raka mengedipkan sebelah matanya, lalu bangkit karena teman-temannya memanggil dari kejauhan. "Aku duluan ya, ada latihan. Nanti malam aku telepon."
Aku hanya mengangguk, memandangi punggung Raka yang menjauh dengan langkah tegap penuh kebanggaan. Aku seharusnya merasa lega. Misteri itu terpecahkan. Pria impian semua orang adalah malaikat pelindungku. Namun, perasaan hampa justru merayap naik ke dadaku.
Aku kembali menatap layar ponsel, membaca pesan terakhir dari @BlueRaven semalam: *'Kesunyian bukan berarti ketiadaan suara, Sasa. Itu adalah saat di mana hatimu akhirnya bisa didengar tanpa interupsi.'*
Aku mencoba membayangkan Rakaβyang baru saja tertawa keras dan melakukan *high-five* dengan teman-temannya di ujung kafeβmengetik kalimat itu. Rasanya asing. Gaya bicaranya, diksinya, bahkan energinya terasa sangat berbeda dengan sosok yang selama ini menjadi tempatku bersandar.
Secara tidak sengaja, pandanganku beralih ke meja di pojok belakang, tepat di bawah bayangan pohon besar di luar jendela. Di sana, Elang duduk sendirian. Seperti biasa, ia hanya diam dengan sebuah buku di depannya dan segelas americano yang tinggal separuh. Ia tidak melihat ke arahku, namun posisi duduknya yang sedikit membungkuk dan caranya membalik halaman buku dengan sangat pelan entah kenapa mengingatkanku pada sesuatu.
Ada sebuah keheningan yang sama antara Elang dan @BlueRaven. Jenis keheningan yang dalam, bukan keheningan yang kosong.
Aku menggelengkan kepala cepat, mengusir pikiran konyol itu. Raka baru saja mengaku. Dia punya akses ke akun itu. Tidak mungkin dia berbohong tentang hal sebesar ini, kan? Tapi kenapa hatiku terus berteriak bahwa ada yang salah? Kenapa kata-kata Raka tadi terasa seperti naskah yang sudah dihafal, sementara kata-kata @BlueRaven selalu terasa seperti luka yang masih basah?
Tepat saat itu, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul.
**@BlueRaven: Kamu kelihatan bingung. Apa pertemuan tadi nggak berjalan seperti yang kamu harapkan?**
Mataku membelalak. Aku menoleh ke arah Raka, dia sedang tertawa sambil melempar bola basket ke arah temannya di luar kafe. Ponselnya tersimpan di saku celananya, dan dia sama sekali tidak sedang memegang ponsel.
Lalu, perlahan, aku menoleh ke arah Elang. Ia masih menunduk, tapi tangan kanannya baru saja bergerak menjauh dari ponsel yang tergeletak di samping bukunya.
Napas kaku tertahan di kerongkongan. Siapa sebenarnya yang baru saja mengirimiku pesan? Jika Raka adalah @BlueRaven, lalu siapa yang sedang memperhatikanku sekarang?
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!