Gelas kopi di depanku sudah mendingin, meninggalkan jejak lingkaran cokelat di atas meja kayu kantin yang kusam. Namun, mataku tidak bisa beralih dari pemandangan beberapa meter di depan sana. Sasa duduk memunggungi lorong, sementara di hadapannya, Raka sedang memamerkan senyum yang menurut banyak orang menawan, tapi bagiku terlihat seperti seringai predator yang baru saja menemukan mangsa empuk.
Aku meremas ponsel di dalam saku jaketku. Di sana, di dalam aplikasi itu, aku adalah @BlueRaven. Aku adalah orang yang mendengarkan keluh kesah Sasa semalam tentang ketakutannya gagal dalam ujian magang. Aku adalah orang yang mengirimkannya kutipan dari buku puisi lama untuk menenangkannya pukul dua pagi.
Tapi di dunia nyata, aku hanya Elang. Si cowok pendiam yang duduk di baris belakang, yang keberadaannya dianggap setara dengan furnitur kelas.
"Jadi, kamu beneran ingat soal kutipan yang kamu kirim semalam?" Suara Sasa terdengar ragu, namun ada binar harapan di matanya yang membuat dadaku sesak.
Raka tertawa kecil, suara yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar berat dan bijaksana. Ia mencondongkan tubuh, memperkecil jarak di antara mereka. "Tentu, Sa. Aku tahu kamu lagi gelisah. Kadang, kata-kata adalah satu-satunya pelukan yang bisa aku kasih dari jauh, kan?"
Tanganku di bawah meja mengepal hingga buku-buku jariku memutih. Itu bohong. Raka bahkan tidak tahu buku apa yang kutitipkan dalam kata-kata itu. Dia hanya menebak-nebak, mencuri fragmen pembicaraan yang mungkin tidak sengaja ia dengar atau ia simpulkan dari wajah Sasa yang sembab pagi ini. Namun, Sasa tampak ingin sekali mempercayainya. Dia ingin sosok anonim yang selama ini menjadi sandarannya memiliki wajah, dan sialnya, wajah itu adalah milik Rakaβsi ketua himpunan yang populer.
"Aku nggak nyangka itu kamu, Raka," bisik Sasa. Senyumnya mengembang, jenis senyum tulus yang biasanya hanya ia tunjukkan saat kami bertukar pesan di DM. "Kamu di kampus kelihatan... sibuk banget. Berbeda sama @BlueRaven yang tenang."
"Itu karena di kampus aku harus jaga image, Sa," Raka menjawab cepat, tangannya kini berani menyentuh punggung tangan Sasa di atas meja. "Cuma sama kamu aku bisa jadi diri sendiri. Kayak yang sering aku bilang di chat, kan? Kita itu dua jiwa yang ketemu di waktu yang tepat."
Aku hampir tersedak ludah sendiri. Kata-kata itu menjijikkan. Aku tidak pernah menulis hal seklise itu. @BlueRaven berbicara tentang keheningan, tentang rasa sakit yang disembunyikan di balik tawa, bukan gombalan murah dari akun *menfess*.
Sasa tampak tersipu. Dia tidak menyadari bahwa saat tangan kanannya menggenggam tangan Sasa, tangan kiri Raka sibuk mengutak-atik ponsel di bawah meja. Aku menajamkan penglihatan. Dari sudut posisiku, aku bisa melihat layar ponsel Raka. Dia tidak sedang membuka akun @BlueRaven. Dia sedang membuka aplikasi kamera, mengambil foto *candid* tangan mereka yang bertautan dengan latar belakang wajah Sasa yang sedang merona.
Beberapa detik kemudian, notifikasi di ponselku bergetar. Bukan pesan dari Sasa, melainkan notifikasi dari akun gosip kampus yang tidak sengaja kuikuti.
*Update terbaru: Sang Ketua Himpunan dan Si Bunga Kampus. Akhirnya go public?*
Foto itu sudah terunggah. Raka memanfaatkan momen ini. Dia tidak peduli pada perasaan Sasa atau kedalaman percakapan yang selama ini kami bangun. Baginya, Sasa adalah trofi. Status sebagai "sosok misterius" yang diinginkan Sasa hanyalah tiket emas untuk menaikkan popularitasnya yang mulai meredup setelah skandal organisasi bulan lalu.
"Raka, itu..." Sasa melihat ponselnya, menyadari foto yang baru saja beredar. Wajahnya tampak bingung, sedikit tidak nyaman.
"Oh, itu? Maaf, Sa. Mungkin ada yang lihat kita dan langsung *upload*," Raka berakting seolah terkejut, namun matanya berkilat puas. "Tapi nggak apa-apa, kan? Biar semua orang tahu kalau aku ada di samping kamu sekarang. Kamu nggak perlu sembunyi lagi."
Sasa terdiam. Aku bisa melihat keraguan melintas di matanya. Sasa yang kukenalβSasa yang bicara padaku lewat akun anonimβmembenci sorotan yang tidak perlu. Dia membenci tekanan saat orang-orang mulai berkomentar tentang hidupnya. Dan sekarang, Raka justru melemparkannya kembali ke dalam lubang itu dengan kedok perlindungan.
Aku ingin berdiri. Aku ingin berjalan ke sana, menarik tangan Sasa, dan berteriak di depan wajah Raka bahwa dia adalah pembohong besar. Aku ingin menunjukkan log ma**k di ponselku, membuktikan bahwa aku adalah pemilik sayap gagak biru itu.
Namun, kakiku terasa seperti terpaku di lant**. Jika aku melakukannya, keajaiban di antara aku dan Sasa akan hancur. Dia akan melihatku sebagai Elang yang menyedihkan, si penguntit yang berpura-pura menjadi teman curhatnya. Dia akan merasa dikhianati karena aku membiarkannya te******* secara emosional di depan orang yang setiap hari duduk di belakangnya di kelas.
Aku melihat Sasa menunduk, mencoba menarik tangannya perlahan, tapi Raka menahannya lebih erat untuk memastikan beberapa mahasiswa lain yang lewat bisa melihat mereka.
"Aku... aku harus ke kelas, Raka," ujar Sasa pelan. Suaranya kehilangan semangat yang tadi sempat muncul.
"Aku antar, ya?" Raka berdiri dengan sigap, sengaja merangkul bahu Sasa saat mereka mulai berjalan melewati mejaku.
Sasa tidak melihatku. Dia terlalu sibuk menunduk, berusaha menghindari tatapan-tatapan penasaran di kantin. Namun, Raka sempat melirikku. Hanya sekilas. Sebuah tatapan remeh yang seolah berkata, *Lihat, siapa yang menang sekarang?*
Mereka pergi, meninggalkan aromanya yang masih tertinggal di udaraβcampuran parfum vanila Sasa yang manis dan bau tembakau dari jaket Raka yang tajam.
Aku merogoh ponselku, membuka kolom obrolan dengan Sasa di akun @BlueRaven. Jariku gemetar di atas layar. Aku ingin mengirimkan pesan: *Dia bohong, Sa. Itu bukan aku.*
Tapi tepat saat itu, sebuah pesan ma**k ke DM @BlueRaven dari Sasa.
**Sasa:** *Raven, aku senang banget akhirnya kita ketemu tadi. Walaupun kamu beda banget dari bayanganku, aku bakal coba buat terbiasa. Makasih ya udah berani muncul.*
Duniaku serasa runtuh. Sasa sudah memutuskannya. Dia telah memilih wajah untuk suaraku, meski wajah itu adalah sebuah kesalahan besar. Dan jika aku bicara sekarang, aku bukan lagi pahlawan yang menyelamatkannya dari kebohongan. Aku akan menjadi orang yang menghancurkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahagia hari ini.
Aku menatap Raka yang berjalan pongah di kejauhan, masih merangkul Sasa. Aku tahu Raka tidak akan berhenti di sini. Dia akan terus menggunakan "identitas" barunya untuk mengontrol Sasa. Dan aku? Aku terjebak dalam sangkar yang kubuat sendiri.
Jariku bergerak, menghapus baris kalimat pembongkaran rahasia yang tadi sempat kutulis. Sebagai gantinya, aku mengetik sesuatu yang membuat hatiku sendiri perih.
**BlueRaven:** *Apa kamu bahagia, Sa?*
Aku menekan kirim, lalu memperhatikan dari jauh saat Sasa berhenti sejenak untuk memeriksa ponselnya, sementara Raka mengerutkan kening, mencoba mengintip apa yang sedang dibaca gadis itu. Pertarungan ini baru saja dimulai, dan aku sudah berada di ambang kekalahan tanpa sempat melempar satu pukulan pun.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!