Gelas kopi di hadapanku sudah berembun sepenuhnya, meninggalkan lingkaran air yang semakin melebar di atas meja kayu kafe yang temaram. Aku mengaduk minumanku tanpa minat, mendengarkan denting es batu yang beradu dengan dinding kaca, sebuah bunyi yang terasa jauh lebih merdu daripada ocehan Raka tentang rencana kolaborasi kontennya minggu depan.
Aku menatap pria di depanku. Raka memiliki segalanya yang seharusnya membuatku bangga; rahang yang tegas, senyum yang mampu membuat adik tingkat terpana, dan status sebagai salah satu mahasiswa paling berpengaruh di kampus. Namun, semakin lama aku duduk di sini, semakin aku merasa seperti sedang menatap sebuah poster film yang bagus di luar, tapi ternyata zonk saat ditonton.
"Sasa, kamu dengerin aku, kan?" Raka meraih tanganku di atas meja. Jemarinya hangat, tapi entah kenapa, aku merasa ingin menarik tanganku kembali. "Kita bisa bikin *couple photoshoot* di studio baru punya temenku. Pasti bakal rame banget di Instagram."
Aku memaksakan sebuah senyum kecil yang tidak sampai ke mata. "Iya, Ka. Nanti aku cek jadwal dulu, ya."
Di dalam kepalaku, sebuah suara berteriak. *Bukan ini yang mau aku omongin.*
Selama berbulan-bulan, aku jatuh cinta pada kata-kata. Aku jatuh cinta pada seseorang yang tahu persis kapan aku merasa sesak di tengah keramaian, seseorang yang mengirimiku puisi pendek tentang bagaimana rembulan tidak perlu menjadi matahari untuk bisa bersinar. Aku jatuh cinta pada @BlueRaven. Dan sekarang, orang ituβyang mengaku sebagai pemilik akun ituβada di depanku, tapi dia malah sibuk membahas tentang algoritma media sosial.
"Ka," potongku pelan, mencoba mencari celah di antara bualannya. "Ingat nggak, waktu kamu DM aku soal 'kesepian di tengah pesta'? Kamu bilang, kadang kita cuma butuh satu orang yang bisa melihat kita tanpa perlu kita berteriak. Itu... itu ngena banget buat aku."
Raka terdiam sejenak, matanya berkedip cepat. Ia menyesap kopinya, tampak seperti sedang memutar memori di otaknya yang mungkin terlalu penuh dengan jadwal *endorsement*.
"Oh, itu... iya, tentu. Aku kan emang sering dapet inspirasi malem-malem," jawabnya dengan nada yang terdengar sedikit terlalu sant**, terlalu dibuat-buat. "Kamu tahu sendiri kan, aku orangnya memang sensitif kalau soal perasaan orang lain."
Aku mencondongkan tubuh, mencari kilat kejujuran di matanya yang cokelat tua. "Tapi waktu itu kamu bilang, kamu nulis itu sambil dengerin lagu instrumental cello karena itu bikin kamu merasa 'kosong' dengan cara yang indah. Lagu apa itu, Ka? Aku belum sempat tanya."
Raka tertawa kecil, suara tawa yang biasanya aku anggap s****, kini terdengar seperti gesekan amplas di telingaku. "Aduh, Sa. Aku dengerin banyak lagu. Mungkin salah satu *playlist* random di Spotify. Kenapa sih harus dibahas sedalam itu? Yang penting kan pesannya sampai ke kamu."
Aku menarik tanganku dari genggamannya, berpura-pura merapikan rambut. Hatiku mencelos. @BlueRaven yang kukenal melalui layar ponsel tidak akan pernah menjawab seperti itu. @BlueRaven akan menyebutkan judul lagunya, menceritakan bagaimana nada rendah cello itu mengingatkannya pada bayangan pohon di sore hari, dan dia akan bertanya bagaimana perasaanku setelah mendengarnya.
Raka di depanku ini terasa seperti orang asing yang mengenakan topeng yang tidak pas.
"Kamu beda banget ya kalau di chat sama aslinya," gumamku, nyaris tidak terdengar.
"Namanya juga media sosial, Sa," Raka mengedikkan bahu, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, jemarinya lincah mengetik sesuatu. "Di sana kita bisa jadi versi terbaik diri kita. Tapi intinya tetap aku, kan? Bukannya kamu bilang kamu sayang banget sama sosok yang selalu ada buat kamu itu?"
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak oleh kebingungan yang menyesakkan. Apakah aku mencint** Raka? Ataukah aku hanya mencint** barisan kalimat yang dikirimkan oleh akun anonim itu? Jika Raka adalah pemilik akun itu, kenapa rasanya jiwanya tidak tertinggal sedikit pun dalam setiap kata yang dia ucapkan secara langsung?
Aku melihat ke arah jendela kafe. Di luar sana, langit mulai berubah menjadi jingga keunguan, warna favorit @BlueRaven. Ia pernah bilang bahwa senja adalah bukti bahwa perpisahan pun bisa terlihat indah.
Tiba-tiba, ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi muncul di layar yang gelap.
*@BlueRaven: Jangan terlalu banyak mengaduk kopi itu, Sa. Esnya sudah mencair, rasanya tidak akan enak lagi. Kadang, kita cuma perlu membiarkan sesuatu selesai pada waktunya.*
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Darahku terasa berdesir dingin mengalir ke seluruh tubuh. Aku menatap layar ponsel, lalu beralih menatap Raka.
Raka masih sibuk mengetik, tapi kedua tangannya terlihat jelas di atas meja. Dia sedang membalas komentar di postingan fotonya sendiri. Dia tidak sedang mengirimiku pesan. Dia bahkan tidak melihat ke arah ponselnya dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia baru saja mengirimkan sesuatu yang begitu personal padaku.
Lalu, siapa yang baru saja mengirimkan pesan ini?
Aku menoleh dengan gerakan kaku, memindai seisi kafe yang mulai ramai. Di pojok belakang, di sebuah meja kecil yang nyaris tersembunyi di balik pilar, aku melihat sesosok pria. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna gelap, kepalanya tertunduk menghadap buku catatan di depannya. Di samping buku itu, sebuah ponsel tergeletak dengan layar yang masih menyala.
Pria itu mendongak. Untuk sekejap, mata kami bertemu.
Itu Elang. Mahasiswa pendiam yang selalu duduk di belakangku. Pria yang selama ini kupikir membenciku karena dia tidak pernah membalas sapaanku dengan lebih dari satu kata.
Elang segera mengalihkan pandangannya, kembali menekuni bukunya seolah-olah aku tidak ada. Namun, aku melihat jemarinya gemetar saat ia memegang pulpen.
"Sa? Kamu lihat apa sih?" suara Raka memecah lamunanku.
Aku kembali menatap Raka, lalu beralih ke layar ponselku yang masih menampilkan pesan dari @BlueRaven. Sebuah krisis hebat menghantam kesadaranku. Jika Raka yang selama ini mengaku sebagai pemilik akun itu ternyata berbohong, lalu siapa sebenarnya pria yang selama ini menjadi sandaran jiwaku? Dan kenapa pesan barusan terasa jauh lebih nyata daripada kehadiran pria yang duduk tepat di hadapanku?
Aku merasa seperti sedang berdiri di atas jembatan yang mulai retak. Satu langkah salah, dan aku akan jatuh ke dalam kenyataan yang mungkin tidak sanggup kuhadapi. Siapa sebenarnya yang kucint** selama ini? Orangnya, atau hanya kata-katanya? Dan yang lebih menakutkan... siapa pemilik suara yang sebenarnya sedang berbicara di dalam hatiku sekarang?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!