Layar ponsel itu adalah satu-satunya sumber cahaya di kamar yang gelap gulita. Cahaya biru yang tajam memantul di lensa kacamata Elang, mempertegas kantung mata yang menghitam akibat berjam-jam terjaga dalam sunyi. Di luar, suara rintik hujan sisa badai sore tadi masih terdengar mengetuk-ngetuk kaca jendela, seolah mengejek kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
Elang menarik napas panjang, namun oksigen seolah enggan ma**k ke paru-parunya. Rasanya sesak. Bayangan kejadian di kantin siang tadi kembali terputar seperti kaset rusak di kepalanya. Sasa tertawa. Sasa tersenyum begitu lebar, jenis senyum yang biasanya hanya Elang lihat lewat narasi-narasi bahagia di pesan singkat mereka. Namun, senyum itu bukan untuknya. Senyum itu milik Raka, si mahasiswa populer yang dengan percaya diri melingkarkan lengannya di bahu Sasa, mengklaim tempat yang seharusnya tidak pernah ada—namun entah mengapa, Elang merasa itu adalah miliknya.
"Bodoh," gumam Elang pelan. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan sunyi.
Ia memandangi profil @BlueRaven. Akun anonim itu awalnya diciptakan sebagai pelarian, sebuah kotak hitam tempat ia bisa menaruh seluruh perhatian yang tak sanggup ia sampaikan secara langsung sebagai Elang si pengecut yang duduk di baris belakang. Selama berbulan-bulan, @BlueRaven adalah sandaran Sasa. Melalui akun itu, Elang mendengarkan keluh kesah Sasa tentang ekspektasi orang tuanya, tentang rasa lelahnya menjadi si "gadis sempurna," dan tentang segala ketakutan yang disembunyikan Sasa di balik topeng keceriaannya.
Namun sekarang, kehadiran Raka yang mengaku sebagai pemilik akun itu telah mengubah segalanya. Sasa percaya. Sasa terlihat begitu lega karena akhirnya 'menemukan' sosok di balik layar itu. Dan Elang? Elang hanya bisa membeku di kursinya, menyaksikan kebohongan itu tumbuh menjadi kenyataan baru yang melukainya berkali-kali lipat.
Ibu jari Elang bergetar saat ia mulai mengetik di kolom pesan pribadi untuk Sasa.
*Ternyata benar,* batinnya pahit. *Aku memang lebih baik tetap menjadi bayangan. Setidaknya di sana, aku tidak akan pernah merasa kehilangan karena aku memang tidak pernah memiliki.*
Ia menghapus draf pertama. Terlalu emosional.
Ia menghapus draf kedua. Terlalu dingin.
Elang memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Sasa. Ia ingat bagaimana Sasa selalu memilin ujung rambutnya saat merasa gugup, atau bagaimana matanya akan berbinar setiap kali mereka membahas tentang rasi bintang. Ia ingin menjaga binar itu tetap ada, meski itu berarti ia harus pergi. Jika Sasa bahagia dengan kebohongan Raka, biarlah. Siapa Elang hingga berani menghancurkan kebahagiaan itu dengan kejujuran yang hanya akan membawa kerumitan?
Tangannya bergerak kembali di atas layar. Kali ini, ia membiarkan kata-kata itu mengalir tanpa sensor logika.
*Sa, ada kalanya sebuah buku harus ditutup bukan karena ceritanya membosankan, tapi karena bab terakhirnya sudah sampai di titik yang tepat. Kamu sudah menemukan apa yang kamu cari, kan? Kamu sudah menemukan 'suara' itu dalam wujud yang nyata.*
Elang berhenti sejenak. Tenggorokannya terasa panas. Ia melanjutkan.
*Tugas @BlueRaven di sini sudah selesai. Aku tidak akan pernah menyesali setiap detik yang aku habiskan untuk mendengarkanmu. Kamu adalah langit yang luar biasa, Sasa. Jangan biarkan siapapun—terma**k dirimu sendiri—merasa kamu tidak c**up. Tetaplah bersinar, meski tanpa aku yang mengamati dari kejauhan.*
*Selamat tinggal.*
Jari Elang melayang di atas tombol 'Kirim'. Rasanya seperti memegang pemicu bom yang siap menghancurkan satu-satunya jembatan yang ia miliki menuju dunia Sasa. Satu klik, dan semuanya berakhir. Tidak akan ada lagi notifikasi larut malam. Tidak akan ada lagi berbagi rahasia di balik anonimitas. Ia akan kembali menjadi Elang yang tidak terlihat, mahasiswa pendiam yang hanya dianggap sebagai bagian dari furnitur kelas bagi Sasa.
*Klik.*
Pesan terkirim. Statusnya langsung berubah menjadi 'Delivered'.
Elang melempar ponselnya ke atas ka**r seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Ia bangkit, berjalan menuju jendela, dan menempelkan keningnya di kaca yang dingin. Hawa dingin itu sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Ia melihat bayangannya sendiri di kaca—pria dengan bahu merosot dan tatapan kosong.
Ia merasa dikhianati oleh takdir, tapi lebih dari itu, ia merasa dikhianati oleh ketakutannya sendiri. Raka adalah pencuri, tapi Elang adalah orang yang membukakan pintunya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyakitkan, hingga sebuah getaran pendek terdengar dari atas ka**r. Jantung Elang berdegup kencang. Apakah itu Sasa? Apakah dia membaca pesan itu secepat ini?
Elang kembali meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Benar saja, ada notifikasi dari Sasa. Namun, saat ia baru saja akan membuka aplikasi tersebut, jempolnya terpaku pada menu pengaturan akun.
*Hapus Akun secara Permanen?*
Pertanyaan itu menatapnya dengan dingin. Ini adalah langkah terakhir. Menghapus @BlueRaven berarti menghapus bukti bahwa ia pernah menjadi bagian paling intim dalam hidup Sasa. Jika ia menghapusnya sekarang, Raka akan memenangkan segalanya tanpa perlawanan. Tapi jika ia membiarkannya tetap ada, ia hanya akan terus tersiksa melihat interaksi Sasa dan Raka yang didasari atas nama dirinya.
"C**up," bisik Elang. "Satu orang harus berhenti terluka."
Ia menekan opsi 'Hapus'. Layar ponsel memintanya mema**kkan kata sandi untuk terakhir kalinya. Jari-jari Elang mengetikkan kata sandi yang selama ini ia gunakan: *Caelum*—bahasa Latin untuk langit. Nama yang ia berikan secara rahasia untuk Sasa.
Namun, tepat saat ia akan menekan tombol konfirmasi terakhir, sebuah pangg***n ma**k memutus proses dehidrasi akun itu. Layar ponselnya menampilkan nama yang membuat napasnya tertahan.
Bukan Sasa. Bukan akun anonim.
Tapi nomor tak dikenal yang baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat yang muncul di bar notifikasi atas:
*Aku tahu itu kamu, Elang. Jangan berani-berani menghapus akun itu kalau kamu nggak mau rahasiamu yang lain terbongkar.*
Elang terpaku. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Siapa yang tahu? Siapa yang bisa melihatnya menembus kegelapan malam ini? Ia menoleh ke sekeliling kamar, merasa seolah ada ribuan pasang mata yang sedang menertawakannya dari sudut-sudut gelap. Dan di layar ponsel, tombol 'Hapus' itu masih berkedip, menunggu keputusan yang kini terasa jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!