Cangkir kopi di hadapanku sudah mendingin, menyisakan lingkaran kecokelatan di pinggirannya yang mulai mengering. Di seberang meja, Raka sedang sibuk dengan ponselnya, sesekali menyugar rambutnya yang tertata rapi dengan gaya yang sengaja dibuat berantakan—tipe penampilan yang selalu berhasil mengundang lirikan dari mahasiswi lain yang melewati meja kami di kafetaria ini.
Aku memilin ujung kemejaku, merasakan debaran jantung yang tidak ritmis. Seharusnya aku bahagia. Lelaki di depanku ini adalah Raka—kapten tim basket, idola kampus, dan dia baru saja mengaku sebagai @BlueRaven semalam melalui pesan singkat. Sosok yang selama ini menjadi tempatku bersembunyi dari kepalsuan dunia nyata.
"Ka," panggilku pelan.
Raka mendongak, menyunggingkan senyum yang biasanya membuatku meleleh. "Ya, Sa? Sori, anak-anak di grup berisik banget nanyain jadwal latihan."
"Aku masih nggak menyangka kalau itu kamu," kataku, mencoba memancing percakapan yang lebih dalam. Aku ingin merasakan koneksi luar biasa itu—getaran yang selalu muncul setiap kali aku membaca barisan kalimat puitis dan penuh empati dari @BlueRaven. "Maksudku, tulisan-tulisanmu di DM... itu sangat berbeda dengan cara kamu bicara biasanya."
Raka tertawa kecil, suara basnya terdengar renyah. "Ya, tahu sendiri kan, Sa. Di dunia nyata aku harus jaga image. Tapi kalau di balik akun anonim, aku bisa jadi lebih sentimental. Kamu suka, kan?"
Aku mengangguk ragu. "Suka banget. Terutama bagian yang kamu bilang soal 'Lentera yang kelelahan menyala'. Itu benar-benar menyentuhku pas malam aku merasa gagal di presentasi mata kuliah Pak Broto."
Raka terdiam sejenak. Matanya berkedip cepat, lalu dia berdehem. "Oh, iya. Itu... ya, aku ingat. Aku nulis itu karena aku juga lagi ngerasa capek banget hari itu."
Aku mengernyit. Ada sesuatu yang janggal. Kalimat tentang 'Lentera yang kelelahan menyala' sebenarnya tidak pernah ada. Itu adalah jebakan kecil yang kubuat secara spontan. @BlueRaven tidak pernah menggunakan metafora itu; dia selalu menggunakan analogi tentang rasi bintang atau gradasi warna langit.
"Tapi Ka," aku memajukan posisi dudukku, menatapnya lurus-lurus. "Ada satu hal yang bikin aku penasaran. Kamu ingat nggak, apa yang kamu janjiin bakal kamu kasih ke aku kalau kita akhirnya ketemuan secara resmi sebagai @BlueRaven dan Sasa?"
Raka meletakkan ponselnya sepenuhnya di meja. Dia tampak berpikir keras, dahinya berkerut sedikit. "Janji, ya? Maksudmu... makan malam romantis? Atau mungkin aku bilang mau kasih kamu bunga favoritmu?"
Rasa dingin mulai merayap dari ujung kakiku naik ke dada. "Bukan itu."
"Oh, boneka? Atau buku?" Raka tertawa gugup, mencoba menutupi kebingungannya dengan senyum menawan yang kini terasa hambar di mataku. "Sori, Sa, saking banyaknya yang kita obrolin di DM, aku agak lupa det**l kecilnya. Kamu tahu kan, aku juga sibuk urus turnamen."
"Det**l kecil?" suaraku sedikit bergetar. "Ka, itu bukan det**l kecil. Kamu bilang kamu bakal bawain 'daun maple kering yang sudah dilaminating' yang kamu simpan dari perjalananmu ke Jepang tahun lalu. Kamu bilang itu simbol dari kenangan yang nggak akan pernah layu."
Raka terpaku. Keheningan yang canggung tiba-tiba mengisi ruang di antara kami, memisahkan hiruk pikuk kafetaria yang tadinya terasa jauh. Wajahnya memucat sesaat sebelum akhirnya dia mencoba tertawa lagi, kali ini terdengar sangat dipaksakan.
"Ah! Iya! Itu dia! Maksudku, aku hampir lupa karena daun itu masih aku simpan di selipan buku di kamar. Aku pikir kamu bakal lupa soal itu, makanya aku nggak bawa sekarang. Besok aku bawain, ya?"
Aku merasakan sesuatu retak di dalam dadaku. Pedih dan hampa. Kebohongannya begitu te*******, begitu ceroboh. Aku bahkan tidak pernah pergi ke Jepang, dan @BlueRaven tahu betul kalau aku benci benda-benda mati yang diformalkan seperti bunga atau daun kering. Rahasia kecil yang sebenarnya kami bagikan adalah tentang sebuah lagu indie yang belum rilis, yang link demonya dikirimkan @BlueRaven padaku sebulan lalu—sebuah lagu yang dia tulis sendiri.
"Kamu bohong," bisikku. Suaraku nyaris hilang ditelan bising mesin kopi di sudut ruangan.
"Sa? Apa maksudmu?"
"Kamu bukan @BlueRaven, Raka," kataku, kali ini lebih tegas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, bukan karena aku kecewa Raka bukan orangnya, tapi karena aku menyadari betapa murahnya dia mempermainkan perasaanku. "Kamu cuma ambil kesempatan karena kamu tahu aku lagi mencari dia. Kamu mencuri identitas seseorang yang sudah jadi satu-satunya tempatku merasa aman!"
"Sa, kecilin suaramu. Orang-orang liat," Raka berdesis, wajahnya kini menunjukkan kilat kekesalan, topeng ramahnya perlahan tanggal. "Oke, denger. Memangnya kenapa kalau aku bukan pemilik akun itu? Aku Raka, Sa. Semua cewek di kampus ini mau ada di posisimu sekarang. Aku cuma mau bikin kamu senang. Lagipula, apa bedanya? Aku ada di sini, nyata, di depanmu. Bukan cuma barisan teks di layar HP."
Aku berdiri, tas selempangku menyenggol cangkir kopi hingga isinya sedikit tumpah ke meja. "Bedanya adalah, @BlueRaven nggak pernah peduli soal image atau siapa yang melihat kami. Dia mengenalku, Raka. Sementara kamu... kamu bahkan nggak tahu kalau aku nggak suka kopi manis." Aku menunjuk cangkir yang dia pesankan untukku tadi.
Aku berbalik dan melangkah pergi secepat mungkin, mengabaikan pangg***nnya yang setengah membentak. Kakiku terasa lemas saat melewati koridor fakultas yang panjang. Dunia yang tadinya tampak mulai jelas, kini kembali kabur dan penuh abu-abu.
Siapa dia? Jika bukan Raka, lantas siapa?
Aku berjalan menuju taman belakang kampus yang sepi, tempat biasanya aku menyendiri. Di sana, di bawah pohon m***ni yang rindang, aku melihat sosok yang tidak asing. Elang. Dia duduk di bangku kayu yang biasa, dengan laptop di pangkuannya dan earphone menyumbat telinga. Dia tampak begitu tenang, begitu asyik dengan dunianya sendiri, seolah-olah hiruk pikuk drama hidupku tidak menyentuhnya sama sekali.
Aku berhenti beberapa langkah darinya, dadaku masih naik turun karena amarah dan kesedihan yang bercampur aduk. Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.
*@BlueRaven: Kamu terlihat kacau. Jangan biarkan orang lain mendikte siapa dirimu, Sasa. Tarik napas dalam-dalam.*
Aku tersentak. Mataku beralih dari layar ponsel ke arah Elang. Jarinya baru saja bergerak menjauh dari keyboard laptop, dan dia mendongak, menatap lurus ke arahku. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat tatapan dingin yang biasanya dia tunjukkan. Ada sesuatu yang lain di balik kacamata itu—sesuatu yang sangat familiar, yang selama ini hanya bisa kurasakan lewat kata-kata di layar ponselku.
Jantungku berhenti berdetak sejenak. Mungkinkah?
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!