Aroma kopi yang mulai dingin di atas meja kayu perpustakaan tidak lagi mampu menahan kantuk yang menggelayuti pelupuk mataku. Di sekelilingku, suara gesekan pulpen dan gumaman halus mahasiswa lain terdengar seperti musik latar yang membosankan. Namun, fokusku terbelah. Mataku memang menatap laptop, tapi pikiranku tertinggal di kolom *Direct Message* akun Instagram-ku.
*“Dunia tidak butuh kamu yang selalu bersinar, Sasa. Kadang, dunia hanya butuh kamu yang berani mengakui kalau kamu sedang redup.”*
Pesan dari @BlueRaven semalam masih terngiang, berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak yang enggan berhenti. Bagaimana bisa seseorang yang tidak pernah kutemui bisa memahami retakan di balik topeng ceriaku dengan begitu akurat?
Tiba-tiba, sebuah tepukan ringan di pundak membuatku tersentak. Aku menoleh dan mendapati Pak Lukman, dosen Metodologi Penelitian, berdiri di sampingku dengan setumpuk kertas di tangannya.
“Sasa, ini draf tugas kelompok minggu lalu yang sudah saya koreksi. Tolong bagikan ke teman-temanmu yang ada di sini, ya. Sisanya taruh saja di meja saya,” perintah beliau sebelum melenggang pergi tanpa menunggu jawabanku.
Aku menghela napas, mencoba mengusir rasa malas. Aku mulai memilah kertas-kertas itu berdasarkan nama. Satu per satu kusebutkan nama pemiliknya yang kebetulan sedang berada di area perpustakaan ini. Hingga akhirnya, jemariku berhenti pada satu lembar kertas yang terselip di bagian bawah.
*Elang Dirgantara.*
Nama itu membuat dadaku berdenyut aneh. Aku menoleh sedikit ke arah meja di belakangku. Benar saja, di sana dia duduk. Elang, dengan jaket *hoodie* hitamnya yang selalu terlihat kebesaran dan wajah yang nyaris tidak pernah menunjukkan emosi. Dia sedang fokus pada buku tebal di hadapannya, jari-jarinya sesekali membalik halaman dengan gerakan yang tenang, hampir ritmis.
Aku berdeham kecil, mencoba menetralkan kegugupanku. “Elang, ini tugasmu.”
Elang mendongak. Matanya yang tajam menatapku sekilas sebelum beralih ke kertas yang kuulurkan. “Terima kasih,” ucapnya singkat. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, tapi entah kenapa terasa begitu berat di telingaku.
Saat dia hendak mengambil kertas itu, ujung jarinya menyentuh jari-jariku. Hanya sedetik, tapi sensasi dingin yang menjalar membuatku refleks menarik tangan. Kertas itu tidak langsung diambilnya, melainkan tergeletak di atas meja di antara kami.
Mataku tidak sengaja jatuh pada catatan kecil yang ditulis tangan di pinggir margin kertas tugasnya. Elang sepertinya sedang merevisi beberapa poin yang diberi tanda merah oleh Pak Lukman. Kalimat itu ditulis dengan tinta hitam, dengan gaya tulisan yang miring ke kanan dan tegas.
*“Kesempurnaan hanyalah ilusi yang diciptakan untuk menutupi ketakutan akan kegagalan.”*
Jantungku serasa berhenti berdetak selama satu detak penuh. Kalimat itu. Pilihan katanya, cara dia menyusun subjek dan predikat, bahkan penggunaan tanda bacanya yang minimalis namun tepat... itu terasa sangat familiar.
Aku teringat balasan @BlueRaven dua hari yang lalu saat aku mengeluh tentang tekanan menjadi ‘Sasa yang sempurna’. Dia menulis: *“Jangan terjebak dalam ilusi kesempurnaan, karena itu hanya cara kita menyembunyikan rasa takut.”*
Aku mematung. Apakah ini hanya kebetulan? Banyak orang yang punya pola pikir serupa, kan? Tapi, ada sesuatu yang lebih spesifik di sini. Cara Elang menulis huruf ‘g’ dengan ekor yang sedikit melengkung ke dalam, persis seperti foto kutipan buku yang pernah diunggah @BlueRaven di *story*-nya sebulan yang lalu.
“Ada yang salah?” suara Elang memecah lamunanku.
Aku tersentak dan menyadari bahwa aku sudah menatap kertasnya terlalu lama. “Ah, tidak. Aku... aku hanya tidak sengaja membaca catatanmu. Kalimatnya bagus,” jawabku terbata-bata, berusaha keras menjaga suaraku agar tidak bergetar.
Elang menarik kertas itu dengan cepat, gerakannya sedikit lebih terburu-buru dari biasanya. Dia menutupinya dengan buku tebal yang tadi dibacanya. “Hanya coretan tidak penting,” ucapnya dingin, lalu kembali menunduk, seolah-olah aku sudah tidak ada lagi di sana.
Namun, aku tidak bisa berpaling begitu saja. Rasa penasaran mulai merayap di bawah kulitku, gatal dan menuntut jawaban. Selama ini aku menganggap Elang sebagai pria sombong yang tidak peduli pada sekitar. Dia selalu duduk di belakangku, diam, tidak pernah berusaha memulai percakapan, dan selalu menjadi orang pertama yang keluar kelas setelah dosen menutup pelajaran.
Tapi sekarang, melihat tulisan tangannya, melihat bagaimana dia merangkai kata dalam kesunyiannya... bayangan @BlueRaven mulai tumpang tindih dengan sosok pria dingin ini.
“Elang,” panggilku pelan.
Dia tidak mendongak, tapi aku tahu dia mendengarkan karena gerakan tangannya yang sedang menulis berhenti seketika.
“Kamu... suka menulis?” tanyaku, mencoba menyelidiki.
“Hanya jika diperlukan,” jawabnya tanpa emosi.
“Maksudku, tulisan yang lebih... personal? Seperti opini atau mungkin pemikiran tentang hidup?”
Kali ini, Elang mendongak sepenuhnya. Dia menatapku c**up lama, seolah sedang mencoba membaca apa yang ada di balik mataku. Keheningan di antara kami terasa mencekik, sementara suara detak jantungku sendiri terdengar seperti dentum drum di telingaku.
“Kenapa kamu tiba-tiba tertarik dengan apa yang aku tulis, Sasa?” tanyanya balik. Ada nada skeptis dalam suaranya, tapi ada juga sesuatu yang lain—sesuatu yang tampak seperti kewaspadaan.
Aku menelan ludah. “Aku hanya merasa gaya bahasamu unik. Mengingatkanku pada seseorang yang kukenal di internet.”
Satu alis Elang terangkat. “Di internet? Kamu sering mencari inspirasi dari orang asing?”
“Dia bukan sekadar orang asing,” bantahku cepat, mungkin sedikit terlalu defensif. “Dia satu-satunya orang yang mengerti perasaanku tanpa aku harus berpura-pura.”
Elang terdiam. Dia memutar-mutar pulpen di antara jemarinya, sebuah kebiasaan yang baru kusadari sekarang. “Kalau begitu, kamu seharusnya tetap menjaga hubungan itu di internet saja. Terkadang, kenyataan hanya akan merusak bayangan indah yang kamu ciptakan sendiri.”
Kalimat itu menghantamku seperti godam. Itu bukan sekadar jawaban dingin, itu adalah sebuah peringatan. Atau mungkin, sebuah pengakuan yang tersamar?
Aku ingin bertanya lebih jauh, ingin mendesaknya untuk menunjukkan layar ponselnya, atau sekadar memintanya menuliskan satu kalimat lagi di depanku. Namun, sebelum aku sempat membuka mulut, ponsel Elang yang tergeletak di atas meja bergetar.
Sebuah notifikasi muncul di layar yang menyala. Aku tidak bisa melihat isinya dengan jelas, tapi aku melihat ikon aplikasi Instagram dan sebuah *username* yang sangat kukenal di bagian atas notifikasi tersebut.
Jantungku mencelos. Di saat yang sama, Elang dengan sigap membalikkan ponselnya, menyembunyikan layar itu dari pandanganku. Dia segera membereskan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan kasar.
“Aku harus pergi,” ucapnya singkat tanpa menatapku lagi.
Dia beranjak dari kursi, meninggalkan aroma samar parfum kayu cendana dan sejuta pertanyaan yang meledak di kepalaku. Aku hanya bisa terpaku di kursiku, menatap punggungnya yang menjauh dengan langkah lebar.
Tanganku meraba ponsel di saku dan membukanya. Jemariku gemetar saat mengetik pesan untuk @BlueRaven.
*“Kamu baru saja membaca pesanku, ya?”*
Aku menahan napas, menatap layar dengan intens. Jika @BlueRaven membalas sekarang, sementara Elang baru saja berjalan keluar pintu perpustakaan... maka dugaanku salah. Tapi jika dia tidak membalas sampai Elang benar-benar menghilang dari pandangan...
Satu menit berlalu. Dua menit. Lima menit.
Tidak ada balasan.
Tiba-tiba, rasa takut dan harapan bercampur aduk menjadi satu. Jika Elang benar-benar @BlueRaven, apa yang harus kulakukan? Pria yang selama ini menguatkanku adalah pria yang selama ini kuanggap tidak punya perasaan?
Namun, pikiranku terhenti saat melihat seseorang yang baru saja ma**k ke perpustakaan. Itu adalah Dimas, teman sekelasku yang lain, yang berjalan ke arahku dengan senyum lebar dan ponsel di tangannya.
“Sasa! Akhirnya ketemu,” serunya dengan suara yang c**up keras hingga ditegur oleh petugas perpustakaan. Dia mendekat dan berbisik penuh kemenangan, “Aku tahu kamu lagi nyari pemilik akun @BlueRaven. Sebenarnya... aku mau ngaku dari kemarin, tapi aku malu.”
Aku mengerutkan kening. “Maksud kamu apa, Dim?”
Dimas menyodorkan ponselnya ke hadapanku, memperlihatkan profil @BlueRaven yang sedang terbuka di aplikasinya. “Itu akun gue, Sa. Gue yang selama ini dengerin curhatan lo.”
Duniaku serasa berputar. Aku menoleh ke arah pintu tempat Elang menghilang, lalu kembali menatap Dimas yang tersenyum penuh arti. Logikaku berteriak bahwa ada yang salah, tapi bukti di depan mataku berkata lain. Di tengah kebingungan itu, satu pertanyaan besar menghantamku: Siapa yang sebenarnya sedang berbohong?
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!