Dinding lorong kampus lant** tiga yang dingin seolah ikut menekan dadaku. Aku berjalan dengan kepala tertunduk, memeluk beberapa buku referensi yang beratnya tak sebanding dengan beban di saku celanakuβsebuah ponsel yang terus bergetar karena notifikasi dari Sasa. Bukan Sasa yang duduk di depanku saat kelas Sejarah Komunikasi tadi, melainkan Sasa yang berada di balik layar, yang mengenalku sebagai @BlueRaven.
Aku bisa melihatnya di ujung koridor. Sasa berdiri membelakangi jendela besar yang menyaring cahaya oranye sore hari. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan tertiup angin, memberinya kesan rapuh yang jarang ia tunjukkan di depan publik. Biasanya, aku akan segera berbalik atau ma**k ke kamar mandi untuk menghindari interaksi, tapi kali ini, ada sesuatu pada tatapannya yang mengunci langkahku.
"Lang," panggilnya. Suaranya tidak melengking seperti biasanya saat ia bercanda dengan teman-teman populer-nya. Suara itu tenang, namun mengandung tuntutan.
Aku berhenti, menarik napas panjang demi menetralkan detak jantung yang mulai mengg***. "Ya?" jawabku sesingkat mungkin. Dingin. Kaku. Topeng yang sudah kupakai selama dua tahun ini harus tetap terpasang.
Sasa melangkah mendekat. Jarak kami kini hanya terpaut dua ubin. Aku bisa mencium aroma parfum vanilanya yang manis, namun menyesakkan. "Bisa bicara sebentar? Tentang tugas kelompok minggu depan."
Aku mengangguk tipis, berusaha tidak menatap matanya yang berbinar tajam. "Bukannya sudah dibagi bagiannya di grup?"
Sasa tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan punggungnya ke dinding, memperhatikanku dengan cara yang membuatku merasa te*******. "Iya, sudah. Tapi aku merasa ada yang kurang. Aku merasa... pendekatannya terlalu kaku. Terlalu teknis."
"Ini tugas akademik, Sa. Bukan esai sastra," balasku datar, mulai melangkah pergi.
"Tapi kau suka sastra, kan, Elang? Atau setidaknya, kau mengerti keindahan di balik sesuatu yang rusak?"
Langkahku terhenti. Kalimat itu terasa familiar, tapi aku meyakinkan diriku bahwa itu hanya kebetulan. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Sasa berjalan memutari tubuhku, kini ia berdiri tepat di hadapanku, menghalangi jalan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku tadi membaca sebuah tulisan menarik di internet. Seseorang bicara tentang bagaimana rasa kesepian itu bukan tentang sendirian, tapi tentang berada di tengah keramaian tanpa ada yang mengenali warna aslimu."
Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Itu adalah pesan yang kukirimkan padanya tadi malam melalui akun @BlueRaven. Aku menelan ludah, berusaha menjaga ekspresi wajahku agar tetap sedatar papan tulis. "Banyak orang menulis hal seperti itu di internet. Itu klise."
"Mungkin," Sasa mengangkat bahu, matanya terus menyelidiki setiap inci ekspresiku. "Tapi orang ini punya istilah yang unik. Dia menyebut fenomena itu sebagai... *Simfoni Debu yang Berdansa di Bawah Lampu Tidur*."
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Istilah itu. Itu bukan sekadar kutipan internet. Itu adalah metafora yang aku buat sendiri saat kami membahas tentang bagaimana hal-hal kecil yang tidak terlihat bisa menjadi indah jika diberi cahaya yang tepat. Itu adalah istilah yang hanya diketahui oleh aku dan Sasaβlewat DM @BlueRaven.
Pikiranku berputar hebat. Aku harus tetap tenang. Aku harus pura-pura tidak tahu.
"Istilah yang aneh," kataku, suaranya sedikit serak. "Aku harus ke perpustakaan sekarang."
Namun, Sasa belum selesai. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada yang begitu lembut namun mematikan. "Dia bilang, debu itu hanya terlihat saat kita berhenti berlari dan mulai memperhatikan kegelapan. Tapi sayang, lampunya pecah sebelum tarian itu selesai."
"Bukan pecah," sahutku refleks, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku sebelum otakku sempat mengeluarkan perintah untuk diam. "Lampu itu tidak pecah, Sa. Lampu itu sengaja dimatikan karena sang penari terlalu malu untuk dilihat."
Hening seketika menyergap lorong itu.
Aku membeku. Mataku membelalak saat menyadari apa yang baru saja kuucapkan. Kata-kata itu... itu adalah kelanjutan dari draf pesan yang belum sempat kukirimkan padanya di @BlueRaven. Sebuah pemikiran yang hanya ada di kepalaku dan di dalam folder 'Draft' akun anonimku.
Sasa tidak terkejut. Sebaliknya, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang campur aduk antara kemenangan, luka, dan ketidakpercayaan. Ia mundur satu langkah, seolah baru saja dipukul oleh kenyataan yang menghantamnya.
"Jadi benar..." bisiknya. Suaranya bergetar. "Selama ini... itu kau?"
Aku mencoba membuka mulut, mencari pembelaan, mencari kebohongan lain yang bisa menyelamatkanku. Namun, lidahku kelu. Aku menatap Sasa, dan untuk pertama kalinya, aku melihat mahasiswi populer yang sempurna itu tampak hancur di depanku. Bukan karena orang lain, tapi karena aku.
"Kau duduk tepat di belakangku setiap hari, Elang," suara Sasa meninggi, ada nada pengkhianatan di sana. "Kau mendengarkan keluh kesahku, kau tahu ketakutanku yang paling dalam, kau memberiku kekuatan lewat akun itu... sementara di sini, kau memperlakukanku seolah aku tidak ada? Kau memperlakukanku seperti orang asing yang menyebalkan?"
"Sa, dengar duluβ" aku mencoba meraih lengannya, tapi ia menepis tanganku dengan kasar.
"Kenapa, Elang? Kenapa harus bersembunyi?" Sasa menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Apa kau begitu membenciku di dunia nyata sehingga kau hanya bisa peduli padaku lewat akun palsu itu?"
Aku terpaku di tempat. Semua argumen yang kusiapkan di kepala musnah. Aku ingin menjelaskan bahwa aku melakukannya untuk melindunginya, untuk melindungi diriku sendiri dari penolakan yang kutakutkan. Tapi di mata Sasa sekarang, aku bukan lagi @BlueRaven yang bijak dan menenangkan. Aku hanyalah Elang, si pembohong yang telah mencuri rahasia terdalamnya.
Tepat saat itu, sekelompok mahasiswa lain berbelok ke koridor kami, tertawa terbahak-bahak, memecah ketegangan yang menyesakkan. Sasa segera menghapus setitik air mata yang sempat jatuh, kembali memasang topeng keceriaannya dalam sekejap, meski matanya masih merah.
Ia menatapku sekali lagi, tatapan yang membuatku merasa lebih kecil dari debu yang pernah kami bicarakan.
"Jangan pernah kirim pesan padaku lagi," desisnya sebelum berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor, meninggalkanku yang berdiri mematung di tengah cahaya sore yang mulai meredup.
Ponsel di saku celanaku bergetar sekali lagi. Sebuah notifikasi muncul di layar yang gelap. Seseorang baru saja me-mention @BlueRaven di sebuah postingan publik. Aku merogoh ponselku dan melihat sebuah akun bernama @TheRealRaven mengunggah foto sudut perpustakaan yang biasa kududuki, dengan caption: *"Terima kasih sudah berbagi rahasia tadi malam, Sasa. Aku senang kau akhirnya tahu siapa aku."*
Duniaku serasa runtuh. Bukan hanya rahasiaku terbongkar, tapi seseorang baru saja mencuri identitasku di saat yang paling salah. Dan Sasa, dalam luka dan kemarahannya, baru saja berjalan menuju jebakan itu.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!