Layar ponsel di genggamanku terasa dingin, sedingin udara koridor lant** tiga yang kini hanya menyisakan aku dan laki-laki di hadapanku ini. Cahaya dari layar yang masih menampilkan profil @BlueRaven memantul di bola mataku, terasa pedih, atau mungkin itu hanya air mata yang sudah mendesak ingin keluar sejak sepuluh menit yang lalu.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadaku yang naik-turun tak beraturan. "Jadi... selama ini itu kamu?"
Elang tetap berdiri di tempatnya, sekitar dua meter dariku. Ia tidak menunduk, tapi tatapannya pun tidak tajam. Ada sesuatu yang rapuh di matanya yang biasanya sedingin es itu. Ia masih mengenakan jaket *hoodie* hitam favoritnya, tangan yang biasanya lincah mengetikkan kalimat-kalimat bijak untukku kini tersembunyi di dalam saku.
"Sa, aku bisa jelasin," suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara deru mesin AC di langit-langit.
"Jelasin apa lagi, Lang?" Suaraku pecah. Aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Jelasin gimana lucunya aku waktu curhat soal ketakutanku bakal ditinggalin orang-orang? Jelasin gimana bodohnya aku waktu aku bilang ke kamuβke @BlueRavenβkalau aku benci banget sama Elang yang sombong di kelas?"
Aku tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isakan. "Kamu pasti ketawa di balik layar itu, kan? Melihat aku yang setiap hari duduk di depanmu, pura-pura kuat, sementara di malam hari aku merengek ke akun anonim yang ternyata adalah orang yang paling nggak aku sukai di dunia nyata."
"Aku nggak pernah ketawa, Sa," potong Elang cepat. Ia maju selangkah, tapi aku refleks mundur. Penolakanku itu membuatnya terpaku. "Aku nggak pernah menganggap semua yang kamu ceritakan itu lucu. Justru karena itu aku nggak bisa berhenti."
"Kenapa? Kenapa kamu nggak jujur dari awal? Kenapa kamu biarin aku kelihatan kayak orang bodoh?" Suaraku meninggi, bergema di koridor yang sepi. "Bahkan pas Aldi ngaku-ngaku jadi BlueRaven kemarin... kamu cuma diam. Kamu lihat aku percaya sama dia, kamu lihat aku hampir kasih segalanya buat dia karena aku pikir dia adalah 'rumah' yang selama ini aku cari. Kamu cuma nonton, Lang!"
Elang mengepalkan tangannya di samping tubuh. Urat-urat di punggung tangannya menegang. "Karena aku takut, Sasa! Aku takut kalau kamu tahu itu aku, kamu bakal berhenti bicara sama aku."
"Dan sekarang menurutmu aku mau bicara sama kamu?"
"Aku tahu aku salah," Elang menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kacaβsebuah pemandangan yang tak pernah kubayangkan akan kulihat dari seorang Elang yang kaku. "Tapi @BlueRaven itu satu-satunya cara supaya aku bisa ada di dekatmu tanpa kamu rasa terancam. Di kelas, kamu adalah Sasa yang populer, yang selalu dikelilingi orang, yang selalu punya tembok tinggi buat orang-orang kayak aku. Kalau aku dekati kamu sebagai Elang, kamu bakal anggap aku apa? Gangguan?"
"Aku nggak pernah menganggap kejujuran sebagai gangguan," bisikku, air mata akhirnya jatuh melewati pipiku. Aku mengusapnya kasar dengan punggung tangan. "Yang aku anggap gangguan itu adalah rasa dikhianati. Kamu tahu rahasia paling gelapku, Lang. Kamu tahu semua luka yang bahkan sahabat-sahabatku nggak tahu. Kamu pegang 'kartu mati' aku, dan kamu pakai itu buat... buat apa? Buat observasi? Buat eksperimen sosial?"
"Demi Tuhan, Sa, bukan itu!" Elang akhirnya meledak. Ia mendekat, kali ini ia tidak membiarkanku mundur. Ia mencengkeram kedua bahuku, tidak keras, tapi c**up untuk membuatku berhenti bergerak. "Setiap kali aku ketik balasan buat kamu, itu bukan Elang yang sombong yang nulis. Itu aku. Aku yang sebenarnya. Aku yang juga merasa sendirian di tengah keramaian, sama kayak kamu. @BlueRaven itu aku yang nggak punya keberanian buat bilang kalau aku kagum sama kamu dari belakang kursi kelas kita."
Aku menatap matanya, mencari kebohongan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah keputusasaan yang jujur. Namun, rasa sakit di hatiku jauh lebih besar daripada empati yang tersisa. Bayangan saat-saat aku menangis sambil memeluk ponsel, merasa @BlueRaven adalah satu-satunya orang yang memahamiku, kini terasa seperti lelucon besar.
Aku melepaskan tangannya dari bahuku dengan perlahan, tapi tegas. "Kamu bilang kamu paham aku, Lang. Tapi kalau kamu beneran paham, kamu pasti tahu kalau aku benci banget dibohongi. Aku benci terlihat lemah di depan orang yang aku pikir orang asing, tapi ternyata dia adalah orang yang setiap hari liat aku dari belakang."
Aku berbalik, tidak sanggup lagi menatap wajahnya. Setiap inci dari keberadaan Elang sekarang mengingatkanku pada kerentananku yang telah dieksploitasi, sengaja atau tidak.
"Sasa, tunggu," panggilnya, suaranya serak.
Aku berhenti, tapi tidak menoleh. "Jangan kirim pesan apa pun lagi lewat akun itu. Jangan bicara sama aku di kelas. Anggap aja @BlueRaven sudah mati, bareng sama kepercayaan yang coba aku bangun buat kamu."
Aku melangkah pergi, bunyi pantofelku menghantam lant** semen dengan irama yang menyakitkan. Setiap langkah terasa berat, seolah aku meninggalkan sebagian dari diriku di koridor itu. Aku merasa kosong. Sosok @BlueRaven yang selama ini menjadi peganganku saat dunia terasa terlalu bising, ternyata hanyalah bayangan dari laki-laki yang selama ini aku hindari.
Saat aku mencapai tangga, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Aku bersumpah tidak akan membacanya, tapi jempolku seolah punya kehendaknya sendiri.
*1 New Message from @BlueRaven.*
Aku berhenti di anak tangga pertama, keragu-raguan menghantamku seperti badai. Haruskah aku membukanya dan memberi Elang kesempatan terakhir, atau menghapus akun itu selamanya dan kembali menjadi Sasa yang 'sempurna' namun sendirian?
Tanganku gemetar saat menyentuh layar, tepat ketika sebuah bayangan muncul di ujung koridor, bukan Elang, melainkan seseorang yang selama ini kusebut sebagai ancaman sesungguhnya. Seseorang yang memegang kunci lain dari rahasia yang bahkan Elang pun tidak tahu.
Langkah kaki itu mendekat, dan aku tahu, masalahku baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!