Langit sore di atas taman belakang kampus mulai berubah warna, memadukan rona jingga yang terbakar dengan ungu yang memar. Elang duduk di bangku batu yang dingin, jemarinya memutar-mutar ponsel yang layarnya sudah retak di sudut kiri. Di layar itu, profil @BlueRaven masih terbuka. Sebuah akun yang selama ini menjadi tameng sekaligus penjara baginya.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Beberapa meter darinya, Sasa berdiri mematung di dekat pohon m***ni besar. Gadis itu tidak lagi mengenakan senyum "panggung" yang biasa ia perlihatkan di koridor kampus. Bahunya merosot, matanya sembap, dan ia tampak begitu kecil dalam balutan sweter *oversized*-nya.
Elang berdiri, langkahnya terasa berat seolah kakinya terbuat dari timah. Saat jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Sasa menoleh. Ia tampak terkejut, namun dengan cepat mencoba menyeka matanya yang basah.
"Elang? Ngapain di sini?" suara Sasa parau, ada getaran yang berusaha ia sembunyikan. "Kalau mau ngetawain aku gara-gara drama tadi siang, mending nggak usah."
Elang tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan ponselnya yang masih menyala. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Sasa mengerutkan kening, ragu-ragu menerima ponsel itu. Matanya menyipit saat melihat deretan pesan di layarβpesan-pesan yang ia kirimkan kepada @BlueRaven selama berbulan-bulan.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Sasa. Ia menatap layar itu, lalu menatap Elang, kembali ke layar, dan kembali ke pria pendiam di hadapannya. "Kamu...?"
"Bukan mahasiswa yang tadi ngaku-ngaku itu, Sas," suara Elang rendah, hampir tenggelam oleh desau angin. "Aku nggak punya kata-kata puitis atau keberanian buat ngomong langsung. Jadi, aku cuma bisa jadi pendengar dari balik akun itu. Maaf aku sudah bohong."
Sasa melepaskan tawa hambar yang lebih terdengar seperti isak tangis. "Jadi selama ini, orang yang aku anggap sombong, dingin, dan paling nggak peduli sama aku... adalah orang yang tahu semua rahasia terburukku?"
"Aku nggak menganggap itu rahasia buruk," potong Elang cepat. Langkahnya maju satu langkah, menipiskan jarak. "Aku cuma melihat Sasa yang sebenarnya. Sasa yang capek jadi sempurna. Sasa yang benci keramaian tapi takut sendirian. Aku... aku lebih suka Sasa yang ini daripada Sasa yang selalu jadi pusat perhatian di kelas."
Sasa menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa hambatan. Keheningan menyelimuti mereka, namun kali ini rasanya tidak lagi mencekam. Ada kelegaan yang perlahan merayap di antara mereka.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Sasa, suaranya nyaris berbisik.
"Karena aku takut," aku Elang jujur. "Aku takut kalau kamu tahu @BlueRaven itu aku, kamu bakal menjauh. Aku cuma mahasiswa biasa yang nggak punya apa-apa buat ditawarkan ke kamu selain telinga buat mendengar."
Sasa mengangkat wajahnya, menatap mata Elang yang biasanya tampak acuh tak acuh, namun kini memancarkan kejujuran yang te*******. "Kamu salah, Lang. Kamu nawarin satu hal yang nggak dikasih orang lain ke aku: kejujuran untuk melihat aku tanpa topeng."
Sasa mengembalikan ponsel itu ke tangan Elang. Jemari mereka bersentuhan sejenak, mengirimkan gelenyar listrik yang membuat Elang menahan napas. Sasa menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyumβsenyum kecil yang tulus, bukan senyum yang ia gunakan untuk foto Instagram-nya.
"Aku nggak butuh @BlueRaven lagi," kata Sasa tegas.
Elang tertegun. "Maksudnya?"
"Aku mau kenal Elang. Elang yang duduk di belakangku di kelas. Elang yang asli. Yang kadang mukanya ditekuk terus kalau dosen lagi jelasin materi," Sasa terkekeh kecil, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi lebih ringan. "Bisa kita mulai dari awal? Tanpa anonimitas, tanpa akun kedua, tanpa sembunyi-sembunyi?"
Elang merasa beban berat di pundaknya menguap begitu saja. Ia mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman pertama yang Sasa lihat secara langsung. "Ayo. Aku Elang."
"Aku Sasa. Dan aku... aslinya agak berantakan kalau nggak dandan," goda Sasa, berusaha menutupi rasa canggungnya.
"Aku tahu. Dan aku lebih suka yang berantakan," balas Elang lembut.
Mereka mulai berjalan beriringan menyusuri jalan setapak taman yang mulai remang. Percakapan mengalir lebih mudah daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada lagi ketegangan antara si populer dan si pendiam. Di sana, di bawah naungan langit senja, mereka hanyalah dua remaja yang lelah berpura-pura.
Namun, saat mereka sampai di gerbang kampus, langkah Sasa terhenti. Di sana, sekelompok teman-teman Sasa yang populer sedang berkumpul, tertawa keras sambil memegang ponsel mereka. Salah satu dari mereka melambai ke arah Sasa dengan wajah penuh tanda tanya melihat Sasa berjalan bersama si "Kutu Buku Dingin".
Sasa mengeratkan genggamannya pada tali tasnya. Ia tahu, mulai besok, status sosialnya di kampus mungkin akan berubah. Memilih Elang berarti harus siap menghadapi bisikan-bisikan miring dari dunianya yang lama.
"Sas, kamu siap?" tanya Elang, menyadari keraguan di mata gadis itu.
Sasa menoleh pada Elang, lalu menatap kerumunan teman-temannya. Ia menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk konfrontasi yang pasti akan terjadi besok pagi. Namun, sebuah notifikasi di ponselnya tiba-tiba bergetar. Sasa membukanya, dan matanya membelalak. Seseorang baru saja mengunggah foto Elang dan Sasa di taman tadi ke akun *base* kampus dengan *caption* yang sangat menyudutkan.
Dunia nyata ternyata jauh lebih kejam daripada dunia digital yang selama ini mereka takuti. Dan kini, rahasia mereka bukan lagi milik berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!