Second Account: Di Balik Bayangmu

Bab 2: Bab 2 - Menunjukkan perspektif Elang yang selalu mengam...

Pengaturan Membaca

Aroma kopi sas**** yang mendingin dan wangi sampo stroberi yang samar selalu menjadi penanda dimulainya pagi bagi Elang. Dari baris paling belakang ruang kuliah yang berundak ini, ia memiliki sudut pandang yang sempurna—sebuah kursi penonton barisan depan untuk menyaksikan pertunjukan harian seorang Sasa.

Elang menyesuaikan letak kacamatanya, lalu kembali menunduk ke arah buku catatan yang lebih banyak berisi sketsa abstrak daripada poin-poin kuliah Makroekonomi. Namun, pandangannya tak pernah benar-benar lepas dari punggung gadis yang duduk dua baris di depannya itu.

Sasa sedang tertawa. Bahunya naik turun dengan ritme yang teratur, dan ia sesekali menepuk lengan teman di sebelahnya. Dari kejauhan, ia tampak seperti definisi dari kata 'sempurna'. Rambutnya jatuh dengan rapi di punggung, dan setiap kali ia menoleh, senyumnya seolah mampu menerangi seluruh ruangan yang suram oleh AC yang terlalu dingin.

Namun, Elang tahu lebih baik. Ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain.

Ia melihat bagaimana jari-jari Sasa terus-menerus mengetuk pinggiran meja dengan gelisah saat tawa itu mereda. Ia melihat bagaimana mata gadis itu berkali-kali melirik layar ponselnya yang redup, mencari validasi dari angka-angka merah di ikon notifikasi. Dan yang paling penting, Elang melihat saat topeng itu retak—hanya untuk satu detik—ketika teman-temannya berpaling untuk mencatat penjelasan dosen. Pada detik itulah, binar di mata Sasa padam, digantikan oleh kekosongan yang dalam, seolah ia baru saja melakukan lari maraton yang melelahkan hanya untuk tetap berdiri di tempat.

"Lo nggak mau nyoba duduk di depan sekali-kali, Lang? Biar nggak usah pakai teropong kalau mau lihat papan tulis," bisik kawan di sebelahnya, memecah lamunan Elang.

Elang hanya menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat. "Di sini lebih tenang."

*Bohong.* Di sini lebih aman, batinnya. Di baris belakang ini, ia hanyalah bagian dari dekorasi ruangan. Mahasiswa pendiam yang dianggap sombong karena jarang bicara, si kutu buku yang tidak menarik untuk diajak bergaul. Itu adalah perlindungan yang ia bangun dengan susah payah.

Ponsel di saku celana Elang bergetar. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengeluarkan benda itu di bawah kolong meja. Sebuah notifikasi muncul.

**@sasa_sunshine: Kadang aku merasa seperti akuarium. Semua orang melihat ikannya yang cantik, tapi nggak ada yang peduli kalau airnya sudah mulai keruh dan menyesakkan.**

Hanya butuh waktu kurang dari semenit bagi postingan itu untuk mendapatkan ratusan *likes*. Namun, Elang tahu Sasa tidak butuh *likes*. Ia butuh udara.

Jari Elang bergerak lincah di atas layar. Ia membuka akun kedua miliknya, @BlueRaven. Akun tanpa foto profil, tanpa informasi pribadi, hanya berisi ketenangan yang ia kurasi untuk satu orang.

*@BlueRaven: Air yang keruh bukan berarti ikannya tidak cantik lagi. Itu hanya tanda bahwa kamu perlu waktu untuk mengganti airnya sendirian, tanpa perlu ada yang melihat prosesnya. Bernapaslah, Sa. Kamu nggak harus selalu jadi pajangan.*

Elang menekan tombol *send* dan segera mematikan layar ponselnya. Di depannya, ia melihat Sasa tersentak kecil. Gadis itu meraih ponselnya dengan gerakan cepat, bahunya sedikit menegang. Elang bisa melihat pantulan cahaya layar ponsel Sasa dari sisi wajahnya. Gadis itu terdiam c**up lama, membaca pesan singkat itu berulang kali.

Lalu, sebuah pemandangan yang membuat jantung Elang berdegup kencang terjadi: Sasa menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melandai, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan rileks. Ia tidak lagi mengecek notifikasi lain. Ia hanya menatap ke depan, ke arah papan tulis, namun dengan tatapan yang jauh lebih jernih.

Elang merasakan dorongan itu lagi. Dorongan yang selalu muncul setiap kali mereka berada di ruangan yang sama. Ia ingin berdiri, berjalan menuruni undakan lant**, dan berhenti tepat di samping meja Sasa. Ia ingin berkata, *"Gue yang kirim pesan itu. Gue di sini. Lo nggak perlu akting lagi di depan gue."*

Tangan Elang terkepal di bawah meja. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana ia akan memulai percakapan. Sesuatu yang ka**al, mungkin tentang pulpen yang jatuh atau menanyakan catatan. Namun, setiap kali niat itu mengkristal, rasa takut langsung menghantamnya seperti ombak.

Bagaimana jika Sasa kecewa? Bagaimana jika sosok @BlueRaven yang ia kagumi ternyata hanyalah Elang yang membosankan dan kaku? Bagaimana jika kejujurannya justru menghancurkan satu-satunya tempat aman yang dimiliki Sasa?

Tiba-tiba, dosen menutup kuliah. Suara gesekan kursi dan riuh percakapan mahasiswa langsung memenuhi ruangan. Sasa mulai membereskan buku-bukunya. Saat ia berbalik untuk mema**kkan botol minum ke dalam tas, matanya yang besar tak sengaja berserobok dengan mata Elang.

Elang membeku. Ia lupa bernapas.

Sasa mengerutkan kening sedikit, menatap Elang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Elang merasa seolah Sasa bisa melihat menembus dadanya, langsung ke arah akun anonim di ponselnya.

"Eh, Elang ya?" suara Sasa terdengar—renyah namun ada nada ragu di sana.

Elang hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya terasa seperti disumbat pasir.

Sasa melangkah mendekat ke arah barisannya, membuat jantung Elang berdentum lebih keras. "Boleh tanya nggak? Tadi pas bagian fungsi konsumsi, lo sempat nyatet grafik yang di pojok kiri atas nggak? Gue agak ketinggalan tadi."

Inilah kesempatannya. Pintu itu terbuka. Elang hanya perlu bicara. Hanya perlu bersikap normal.

"I-itu..." Elang berdeham, mencoba mencari suaranya yang mendadak hilang. "Ada. Tapi... tulisan gue berantakan."

Sasa tersenyum tipis—bukan senyum iklan yang biasa ia tunjukkan, tapi senyum yang sedikit canggung. "Nggak apa-apa. Tulisan gue juga kayak ceker ayam kalau lagi buru-buru."

Saat Elang baru saja hendak membuka buku catatannya untuk diberikan pada Sasa, sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahu Sasa dari belakang. Seorang cowok tinggi dengan jaket tim basket kampus muncul dengan cengiran lebar yang mendominasi.

"Sa! Dicariin anak-anak di kantin. Katanya mau bahas *endorsement* bareng buat acara bulan depan," ujar cowok itu, mengabaikan keberadaan Elang seolah Elang hanyalah debu di udara.

Sasa tampak terkejut, namun dengan cepat—terlalu cepat—topeng itu kembali terpasang. Matanya kembali berbinar palsu. "Oh, iya! Gue hampir lupa. *Sorry* ya, Dim."

Sasa kembali menatap Elang, namun kali ini tatapannya sudah berbeda. Jarak yang sempat terkikis tadi kini membentang luas kembali. "Nggak apa-apa deh, Lang. Nanti gue tanya yang lain aja. Duluan ya!"

Elang terpaku di tempatnya, tangannya masih memegang pinggiran buku catatan yang siap ia berikan. Ia hanya bisa melihat punggung Sasa yang menjauh, dikelilingi oleh keriuhan yang baru saja ia keluhkan secara anonim.

Ia kembali duduk, merasa bodoh dan tak terlihat. Di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi. Bukan dari Sasa, melainkan sebuah notifikasi grup kelas yang membuat matanya membelalak.

Seorang mahasiswa bernama Arga baru saja membagikan tangkapan layar di grup tersebut. Isinya adalah kutipan kata-kata yang sangat mirip dengan gaya bahasa @BlueRaven, dengan keterangan tambahan yang provokatif: *"Ada yang tahu siapa pengagum rahasia Sasa di akun @BlueRaven ini? Gue rasa gue tahu siapa orangnya, dan dia ada di kelas ini."*

Darah Elang seolah berhenti mengalir. Seseorang mulai mengendus keberadaannya, atau lebih buruk lagi, seseorang sedang mencoba mengambil identitasnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca