Cahaya biru dari layar ponsel adalah satu-satunya penerang di kamar Sasa yang gelap. Di luar, rintik hujan sisa badai sore tadi masih mengetuk kaca jendela dengan irama yang monoton, seolah mengejek kesunyian yang ia rasakan. Sasa meringkuk di balik selimut tebal, mengabaikan tumpukan buku kuliah di meja belajarnya.
Jarinya bergerak lincah, mengusap layar yang menampilkan foto terbaru yang ia unggah di akun utama Instagram-nya dua jam lalu. Di foto itu, Sasa tertawa lebar bersama Nara dan teman-teman satu gengnya di sebuah kafe estetik. Caption-nya singkat: *“Thursday bliss with my favorites! ✨”*
Dua ratus tiga puluh komentar memuji kecantikannya, menyebutnya *life goals*, atau sekadar meninggalkan emoji hati. Namun, Sasa merasakan lubang besar di dadanya. Ia ingat betul bahwa lima menit setelah foto itu diambil, ia merasa ingin menangis tanpa alasan yang jelas, sementara teman-temannya sibuk membicarakan tas bermerek terbaru dan gosip tentang dosen muda di kampus.
Sasa menghela napas panjang, lalu melakukan ritual rahasianya. Ia mengetuk profilnya, beralih ke akun kedua—@CloudySasa. Begitu beralih, tekanan di pundaknya seolah sedikit melonggar. Tidak ada tuntutan untuk menjadi cantik. Tidak ada kewajiban untuk terlihat bahagia.
Sebuah notifikasi muncul di bagian atas. Satu pesan ma**k dari @BlueRaven.
*“Kau tahu, terkadang bintang yang paling terang adalah yang paling cepat padam karena ia kelelahan membakar dirinya sendiri demi dilihat orang lain.”*
Sasa tertegun. Kalimat itu terasa seperti sembilu yang menyayat tepat di titik yang paling nyeri. Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya bisa membaca pikirannya seakurat itu?
Jemari Sasa bergetar di atas *keyboard* virtual. Ia bimbang. Selama ini, interaksinya dengan @BlueRaven hanya seputar kutipan melankolis atau komentar singkat tentang cuaca. Namun malam ini, sesak di dadanya sudah mencapai batas.
*“Bagaimana jika bintang itu sebenarnya tidak ingin bersinar?”* balas Sasa. *“Bagaimana jika dia hanya ingin menjadi bagian dari kegelapan agar bisa beristirahat tanpa ada yang menuntutnya untuk terang?”*
Ia mengirimkan pesan itu dan menahan napas. Detik berganti menit. Ikon "Seen" muncul. Sasa menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup tak beraturan. Mengapa ia merasa lebih gugup menunggu balasan dari akun anonim ini daripada saat menunggu hasil ujian semesternya?
*“Maka jadilah gelap,”* balas @BlueRaven tak lama kemudian. *“Dunia tidak akan kiamat hanya karena kau mematikan lampumu sejenak. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu merasa harus terus menyala malam ini?”*
Pertahanan Sasa runtuh. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh, membasahi bantalnya. Ia mulai mengetik. Bukan kalimat singkat, melainkan paragraf panjang yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun—bahkan pada Nara yang sudah bersamanya sejak SMA.
*“Aku lelah menjadi Sasa yang selalu oke. Aku lelah tertawa pada lelucon yang tidak lucu hanya agar suasana tidak canggung. Tadi sore, ibuku menelepon. Dia bilang aku harus mempertahankan IPK-ku karena dia sudah memamerkan prestasiku pada semua rekan arisannya. Mereka melihatku sebagai piala, bukan sebagai manusia. Di kampus, semua orang ingin berteman denganku karena 'Sasa itu populer'. Tapi tidak ada yang benar-benar bertanya apakah aku baik-baik saja saat aku hanya diam di pojok kelas.”*
Sasa berhenti sejenak, menghapus air mata dengan punggung tangannya. Ia merasa g***. Ia baru saja menumpahkan sampah emosinya pada orang asing. Namun, ada kelegaan aneh yang mengalir di nadinya.
*“Aku merasa seperti penipu,”* ia menambahkan satu kalimat terakhir sebelum menekan tombol kirim.
Layar ponselnya kembali hening. Sasa menatap langit-langit kamar. Ia membayangkan siapa sosok di balik @BlueRaven. Apakah dia seorang pria tua yang bijak? Atau mungkin mahasiswi sastra yang juga merasa kesepian di kota besar ini? Karakteristik ketikan Raven selalu tenang, tidak menghakimi, dan penuh dengan analogi yang cerdas.
Ponselnya bergetar lagi.
*“Kau bukan penipu, Sasa. Kau hanya sedang bertahan hidup dengan cara yang kau tahu. Kita semua memakai topeng, bedanya hanya pada seberapa tebal lapisan catnya. Jika kau merasa topengmu terlalu berat, letakkan saja di sini. Aku tidak butuh Sasa yang sempurna. Aku lebih suka Sasa yang jujur, meski dia sedang hancur.”*
Sasa memeluk ponselnya di dada. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat di tengah badai salju. Aneh sekali. Ia memiliki ribuan pengikut di akun utamanya, puluhan teman yang siap mengajaknya nongkrong kapan saja, namun ia hanya merasa benar-benar "terlihat" oleh satu orang yang bahkan identitasnya tidak ia ketahui.
Tiba-tiba, rasa penasaran yang selama ini ia tekan muncul ke permukaan. Ia ingin tahu siapa orang ini. Mengapa Raven seolah selalu ada di saat yang tepat? Mengapa kata-katanya terasa begitu familiar, seolah mereka pernah berpapasan di suatu tempat?
*“Raven?”* ketik Sasa.
*“Ya?”*
*“Kenapa kau sangat baik padaku? Kau bahkan tidak mengenalku.”*
Ada jeda yang c**up lama sebelum Raven membalas. Sasa memperhatikan indikator *“typing...”* yang muncul dan hilang berulang kali, seolah lawan bicaranya sedang menimbang setiap kata dengan sangat hati-hati.
*“Mungkin karena aku tahu rasanya menjadi seseorang yang selalu ada di belakang, memperhatikan orang lain tanpa pernah benar-benar diperhatikan balik. Dan mungkin, aku hanya ingin memastikan bahwa orang yang aku perhatikan itu tidak merasa sendirian seperti aku.”*
Sasa mengerutkan kening. *Memperhatikan orang lain?*
*“Maksudmu, kau mengenalku di dunia nyata?”* jantung Sasa berpacu lebih cepat.
Pertanyaan itu tetap menggantung di ruang obrolan mereka. Raven tidak lagi membalas. Statusnya berubah menjadi *offline*.
Sasa melempar ponselnya ke samping bantal dengan perasaan campur aduk antara lega dan cemas. Kata-kata Raven terakhir tadi meninggalkan jejak misteri yang mengusik pikirannya. Ia mulai mengingat-ingat setiap orang yang ia temui di kampus hari ini. Siapa yang duduk di belakangnya? Siapa yang melihatnya saat ia termenung di kantin?
Bayangan Elang, cowok pendiam yang selalu duduk tepat di belakang kursinya di kelas Teori Komunikasi, mendadak melintas di benaknya. Cowok itu selalu memakai *hoodie* gelap, jarang bicara, dan selalu terlihat asyik dengan dunianya sendiri. Sasa pernah mencoba menyapanya sekali, namun Elang hanya membalas dengan gumaman dingin yang membuat Sasa merasa ditolak.
*Ah, tidak mungkin dia,* batin Sasa cepat-cepat mengusir pikiran itu. *Elang terlalu sombong dan dingin untuk bisa menulis kata-kata selembut Raven.*
Namun, saat Sasa memejamkan mata untuk mencoba tidur, sebuah det**l kecil yang hampir ia lupakan muncul kembali. Ia teringat aroma kopi pahit dan buku tua yang samar-samar tercium dari kursi belakangnya di kelas tadi siang—aroma yang entah mengapa, terasa sangat selaras dengan cara Raven bertutur kata.
Sasa menarik selimutnya lebih tinggi, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memanas. Jika benar Raven adalah seseorang di sekitarnya, maka ia baru saja menelanjangi jiwanya di depan orang yang mungkin akan menemuinya lagi besok pagi. Dan pikiran itu, entah mengapa, terasa lebih menakutkan sekaligus lebih mendebarkan daripada apa pun yang pernah ia alami.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!