Second Account: Di Balik Bayangmu

Bab 4: Bab 4 - Elang tidak sengaja mendengar percakapan Sasa y...

Pengaturan Membaca

Aroma kertas tua dan pembersih lant** yang tajam selalu menjadi alasan utama aku memilih sudut terdalam perpustakaan pusat. Di sini, di antara rak-rak tinggi yang menyimpan buku-buku filsafat yang jarang disentuh, aku bisa menghilang. Menjadi Elang yang sebenarnya—bukan mahasiswa pendiam yang dianggap pajangan kelas, melainkan seorang pengamat yang bebas dari ekspektasi.

Aku sedang menyandarkan punggung pada rak kayu yang dingin, membolak-balik buku tentang eksistensialisme yang sebenarnya sudah tamat kubaca tiga kali, saat suara derit kursi di lorong sebelah memecah keheningan. Biasanya, aku akan mengabaikannya. Namun, aroma parfum vanila yang manis namun lembut mendadak menyerbu indra penciumanku. Aroma yang sangat kukenal karena setiap hari pemiliknya duduk tepat di depanku.

Sasa.

Aku menahan napas, membeku di posisi dudukku di lant**. Dari celah di antara buku-buku tebal, aku bisa melihat bayangan tubuhnya. Ia tidak menyadari keberadaanku. Gadis yang biasanya selalu dikelilingi tawa dan gerombolan teman itu kini duduk sendirian, bahunya merosot, jauh dari kesan tegap dan percaya diri yang selalu ia tunjukkan di koridor kampus.

Terdengar suara denting ponsel, disusul suara napas panjang yang gemetar.

"Halo, Ma?" suara Sasa terdengar sangat tipis, seolah-olah akan pecah jika tertiup angin sedikit saja.

Aku seharusnya pergi. Menutup telinga atau setidaknya berdehem agar ia tahu ada orang lain di sana. Namun, kakiku seolah terpaku ke lant**. Ada rasa bersalah yang merambat di dadaku, namun rasa ingin tahu—atau mungkin rasa peduli yang salah tempat—menahanku di sana.

"Iya, Sasa tahu. Sasa bakal usahain dapet A di semua mata kuliah semester ini," ucapnya lagi. Ada jeda panjang, sepertinya ibunya sedang berbicara di seberang sana. Sasa memainkan ujung jarinya, mengelupas kulit di sekitar kuku—sebuah kebiasaan gugup yang tidak pernah ia tunjukkan di depan umum.

"Sasa nggak capek, Ma. Sasa cuma... Sasa cuma mau napas sebentar," bisiknya, dan kali ini suaranya benar-benar retak. "Enggak, bukan gitu. Iya, Sasa paham. Sasa nggak akan malu-maluin keluarga. Sasa bakal terus jadi anak yang bisa Mama banggain."

Setelah pangg***n itu berakhir, sunyi kembali menguasai. Namun, kesunyian kali ini terasa mencekik. Aku bisa mendengar isak kecil yang tertahan—jenis tangisan yang ditekan sekuat tenaga agar tidak terdengar oleh dunia. Sasa menelungkupkan wajah di atas meja, rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sembab.

Tanganku meraba saku jaket, menyentuh ponselku sendiri. Di dalam sana, di balik layar hitam itu, aku adalah @BlueRaven. Akun yang menjadi tempat sampah bagi segala kegelisahannya. Akun yang ia anggap sebagai satu-satunya pelabuhan aman karena ia pikir aku tidak mengenalnya di dunia nyata.

Rasa bersalah itu kini menghantamku lebih keras. Aku tahu terlalu banyak. Aku tahu bahwa senyum lebarnya saat presentasi pagi tadi adalah topeng. Aku tahu bahwa tawa renyahnya saat dikelilingi teman-teman gengnya adalah akting yang melelahkan. Dan sekarang, aku melihatnya hancur di balik rak buku, sementara aku bersembunyi seperti pencuri.

Aku merasa seperti penipu. Aku memberikan kata-kata bijak melalui DM, berperan sebagai pendengar yang budiman, sementara di kehidupan nyata, aku bahkan tidak punya keberanian untuk sekadar menyodorkan tisu padanya. Jika ia tahu bahwa si pendiam Elang adalah orang yang sama dengan @BlueRaven yang ia percayai, apakah ia akan merasa lega? Atau justru merasa terkhianati karena privasinya telah dite*******i tanpa sengaja?

Sasa mengangkat kepalanya, menyeka air mata dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun kembali kepingan dirinya yang baru saja retak. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan bedak dan lipstik, memoles wajahnya seolah-olah ia baru saja bersiap untuk naik ke atas panggung. Dalam hitungan menit, mata sembab itu tersamar, dan raut sedih itu digantikan oleh ekspresi netral yang elegan.

Ia berdiri, merapikan roknya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Aku tetap diam di tempatku sampai suara langkah kakinya menghilang sepenuhnya. Aku menyandarkan kepala ke rak buku, merasa sesak. Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi Twitter, dan melihat notifikasi merah di pojok kanan bawah.

Satu pesan baru dari Sasa.

*@Sasa**nshine: Raven, boleh kita ngobrol? Dunia hari ini rasanya terlalu berisik, dan aku cuma pengen denger suara ketenangan dari kamu.*

Jariku gemetar di atas layar. Aku menatap bangku kosong tempat ia duduk tadi, lalu kembali menatap layar ponsel. Di dunia nyata, aku hanya bayangan di belakangnya. Di dunia maya, aku adalah tumpuannya.

Aku mulai mengetik, meski dadaku berdenyut sakit karena kebohongan yang semakin hari semakin menebal ini.

*@BlueRaven: Aku di sini, Sa. Cerit**n aja semuanya. Aku bakal dengerin.*

Saat aku menekan tombol kirim, aku menyadari satu hal yang menakutkan: aku bukan lagi sekadar pengamat. Aku sudah ma**k terlalu dalam ke dalam hidupnya, dan rahasia ini seperti bom waktu yang detaknya mulai terdengar semakin kencang di telingaku.

Baru saja aku hendak beranjak, sebuah suara langkah kaki lain mendekat. Bukan langkah Sasa yang ringan, melainkan langkah yang berat dan terburu-buru. Dari balik rak, aku melihat sosok laki-laki lain berhenti tepat di meja yang baru saja ditinggalkan Sasa. Ia memungut sebuah gantungan kunci berbentuk bulu burung yang tertinggal di bawah meja.

Itu Dimas, mahasiswa populer dari fakultas hukum yang akhir-akhir ini sering terlihat mencoba mendekati Sasa. Namun, ada yang aneh dengan ekspresinya. Ia tidak tampak seperti seseorang yang menemukan barang hilang. Ia menatap gantungan kunci itu, lalu melihat ke arah layar ponselnya sendiri yang menyala, menampilkan profil @BlueRaven yang sedang kubuka.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Apakah dia melihatku? Atau lebih buruk lagi, apakah dia sedang merencanakan sesuatu dengan identitas yang selama ini kusembunyikan?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca