Riuh rendah kantin kampus siang ini terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telingaku. Di depanku, piring siomay yang setengahnya sudah mendingin hanya aku aduk-aduk dengan garpu. Teman-temanku—Giska dan Vira—sedang asyik bergosip tentang ketua BEM yang baru saja putus, tapi suaranya hanya terdengar seperti dengung lebah yang menjauh.
Pikiranku tertinggal di percakapan semalam dengan @BlueRaven.
*“Terkadang, orang yang paling keras tertawa adalah mereka yang paling takut suaranya tidak terdengar,”* tulisnya dalam DM terakhir yang kubaca berulang kali hingga hafal setiap lekuk hurufnya.
Bagaimana bisa seseorang yang bahkan tidak tahu warna mataku bisa membaca isi kepalaku seakurat itu? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Mencari sosok yang mungkin memiliki aura yang sama. Seseorang yang tenang, tajam, namun hangat.
Mataku terpaku pada sosok di sudut jendela. Cowok dari fakultas teknik yang sering terlihat membawa buku-buku filsafat. Namanya kalau tidak salah, Arka. Ia sedang menyesap kopi hitamnya sambil menatap lurus ke luar jendela, seolah-olah dunia di dalam kantin ini tidak ada baginya.
Apakah dia @BlueRaven? Dia punya kesan melankolis yang sama.
“Gue ke toilet sebentar, ya,” pamitku pada Giska dan Vira tanpa menunggu jawaban.
Aku berjalan pelan, sengaja melewati meja Arka. Jantungku berdegup tidak keruan. Saat jarak kami hanya terpaut dua meter, aku sengaja menjatuhkan gantungan kunci *daisy* kesayanganku tepat di dekat kakinya. Bunyi denting logamnya c**up nyaring untuk menarik perhatian siapa pun.
Arka menoleh. Ia menunduk, mengambil gantungan kunci itu, lalu mendongak menatapku.
“Ini punya lo?” suaranya berat, namun datar.
Aku tersenyum—senyum yang biasanya membuat cowok-cowok di kampus ini salah tingkah. “Oh, iya. Makasih ya... Arka, kan?”
Arka hanya mengangguk singkat, menyerahkan gantungan kunci itu, lalu kembali ke bukunya seolah aku hanyalah angin lalu. Tidak ada binar pengenalan, tidak ada kutipan puitis, tidak ada kehangatan yang kurasakan saat bertukar pesan dengan BlueRaven. Ia hanya... dingin. Benar-benar dingin yang hampa.
Aku mendesah pelan, melanjutkan langkah ke arah koridor menuju kelas berikutnya. Mencari jarum dalam tumpukan jerami ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.
Ma**k ke ruang kelas Manajemen Komunikasi, aku langsung menuju kursi baris kedua. Saat hendak duduk, bahuku tidak sengaja bersenggolan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah.
“Aduh!” aku mengaduh pelan karena bukuku terjatuh.
“Sori.”
Suara itu rendah dan pendek. Elang. Dia berdiri di hadapanku dengan wajah tanpa ekspresi, seperti biasa. Matanya yang tajam sempat menatapku sekilas sebelum ia membungkuk, mengambil bukuku, dan meletakkannya kembali ke atas meja tanpa berkata apa-apa lagi. Ia kemudian melangkah menuju kursi favoritnya: baris paling belakang, pojok kanan. Tempat di mana ia bisa melihat seluruh kelas tanpa ada yang bisa melihatnya dengan jelas.
Aku memutar bola mata. *Cowok sombong itu lagi.* Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang betah menjadi manusia paling antisosial di satu angkatan. Dia selalu terlihat seperti sedang membawa mendung di atas kepalanya.
Aku kembali fokus pada misiku. Kali ini, aku membuka laptop dan sengaja ma**k ke akun Instagram-ku. Bukan akun utama, melainkan akun keduaku yang penuh dengan foto-foto langit dan kutipan sedih. Aku ingin memancing. Jika BlueRaven adalah salah satu mahasiswa di kelas ini, mungkin dia akan bereaksi jika aku mengunggah sesuatu sekarang.
Aku mengambil foto sudut kelas yang estetik, lalu mengunggahnya dengan *caption*: *“Berada di antara banyak orang, tapi merasa seperti satu-satunya yang tidak terlihat.”*
Aku mematikan layar ponsel, namun tetap menggenggamnya erat di bawah meja. Setiap detik terasa seperti satu jam. Aku menunggu getaran notifikasi itu.
Tiba-tiba, terdengar bunyi *ping* dari arah belakang. C**up keras di tengah keheningan dosen yang sedang menyiapkan proyektor. Aku tersentak, refleks menoleh ke belakang.
Beberapa orang memeriksa ponsel mereka. Elang juga terlihat sedang mema**kkan ponselnya ke dalam saku jaket denimnya. Jantungku berpacu. Apakah itu dia? Tidak, tidak mungkin. Elang terlalu kasar, terlalu tidak peduli. BlueRaven adalah sosok yang halus.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul.
**@BlueRaven: Jangan terlalu sering menoleh ke belakang, Sa. Fokus saja pada apa yang ada di depanmu. Kadang, jawaban yang kamu cari ada tepat di tempat yang paling tidak kamu duga.**
Napas tertahan di tenggorokanku. Dia tahu. Dia tahu aku sedang menoleh. Dia ada di ruangan ini.
Aku kembali menoleh ke belakang dengan gerakan yang lebih cepat, mencoba memindai setiap wajah di baris belakang. Ada Yoga yang sedang tertidur, ada Dimas yang asyik bermain *game*, dan ada Elang yang... sedang menatapku.
Pandangan kami bertemu. Mata Elang tidak dingin seperti biasanya. Ada kilatan aneh di sana, sesuatu yang sulit kubaca. Namun, sebelum aku sempat menganalisis lebih jauh, Elang langsung memalingkan wajah, menatap ke arah jendela dengan sikap acuh tak acuh yang menyebalkan.
Tanganku gemetar saat membalas pesannya.
**Me: Kamu di sini? Di kelas ini?**
Satu menit. Dua menit. Tidak ada jawaban.
Tepat saat itu, pintu kelas terbuka dan seorang cowok ma**k dengan napas terengah-engah. Namanya Rian, cowok dari divisi kreatif UKM Musik yang memang terkenal agak puitis dan sering mengunggah foto-foto bernuansa *indie*. Dia duduk di baris tengah, langsung mengeluarkan ponselnya dan tersenyum lebar ke arah layar.
Ponselku bergetar lagi.
**@BlueRaven: Mungkin iya, mungkin tidak. Bukankah misteri membuat segalanya jadi lebih indah?**
Aku menatap Rian, lalu menatap Elang yang masih bergeming menatap jendela, kemudian menatap layar ponselku lagi. Rasa penasaran ini mulai berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Seseorang di ruangan ini sedang memperhatikanku, sedang menelanjangi kesepianku lewat kata-kata, sementara aku masih terjebak dalam teka-teki yang ia ciptakan.
Baru saja aku hendak menyimpan ponsel, sebuah notifikasi lain muncul. Kali ini bukan dari BlueRaven, melainkan sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal.
*“Aku tahu kamu sedang mencari @BlueRaven. Mau bertemu sore ini di taman belakang kampus?”*
Darahku seolah berhenti mengalir. Siapa ini? Apakah BlueRaven akhirnya ingin menampakkan diri, atau ini adalah jebakan lain dari rasa frustrasiku? Aku melirik ke belakang sekali lagi, namun Elang sudah menghilang dari kursinya, menyisakan tas punggung hitamnya yang tergeletak di meja seolah pemiliknya baru saja pergi dengan terburu-buru.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!