Aku merapatkan jaket hoodie hitamku, seolah kain katun tipis itu bisa menjadi perisai yang c**up kuat untuk melindungiku dari dunia luar. Di baris kursi paling belakang ruang kuliah ini, aku merasa aman. Dari sini, aku bisa melihat segalanya tanpa perlu dilihat. Aku bisa mengamati punggung Sasa yang tegak, rambut cokelat madunya yang tergerai indah, dan bagaimana dia selalu menjadi pusat gravitasi bagi siapa pun di sekitarnya.
Di layar ponsel yang kusembunyikan di bawah meja, kolom *Direct Message* dengan akun Sasa masih terbuka. @BlueRaven: *“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Sa. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu butuh waktu untuk bernapas.”*
Kalimat itu kukirim tadi malam. Aku melihat jempolku gemetar saat hendak mengetik pesan baru. Aku harus berhenti. Jarak antara Elang yang duduk di kursi kayu keras ini dengan @BlueRaven yang memberikan kata-kata bijak di dunia maya sudah terlalu dekat. Jika aku tidak menarik diri sekarang, rahasia itu akan pecah berkeping-keping di kakinya.
Dosen di depan, Pak Darwin, baru saja menutup presentasi panjangnya tentang sosiologi perkotaan. “Baik, untuk tugas besar semester ini, saya sudah membagi kalian ke dalam beberapa kelompok kecil. Proyeknya adalah observasi lapangan,” suaranya yang berat memecah lamunanku.
Aku menghela napas panjang. *Tolong, siapa saja asal jangan dia,* bisikku dalam hati. Aku hanya ingin menjadi bayang-bayang. Mahasiswa pendiam yang tidak sengaja dia tab**k di koridor, bukan seseorang yang harus menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi dengannya.
“Kelompok lima,” Pak Darwin berkaca mata, meneliti daftar di tangannya. “Andika, Rina, Elang, dan... Sasa.”
Jantungku seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh, sebelum kemudian berpacu dua kali lebih cepat. Aku menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk mencoret-coret pinggiran buku catatanku dengan pola abstrak yang kacau. Namun, indra pendengaranku mendadak tajam. Aku mendengar suara kursi digeser. Aku mencium aroma parfum vanila yang lembut—parfum yang sama yang selalu dia keluhkan di DM karena harganya mahal tapi aromanya cepat hilang.
“Hai, Elang, kan?”
Suara itu. Cerah namun memiliki nada lelah yang tersembunyi, yang hanya bisa aku tangkap karena aku mengenalnya lebih baik dari siapa pun di ruangan ini. Aku mendongak perlahan. Sasa berdiri di samping mejaku, menyampirkan tas bahunya dengan anggun. Senyumnya terukir, jenis senyum yang biasa dia gunakan untuk menyapa penggemarnya di kampus, tapi matanya terlihat... mencari sesuatu.
“Iya,” jawabku singkat, sedatar mungkin. Aku sengaja tidak memberikan ruang untuk percakapan lebih lanjut. Aku kembali menatap buku catatanku.
“Kaku banget, sih,” celetuk Andika yang tiba-tiba muncul di belakang Sasa, merangkul pundak gadis itu dengan akrab yang membuat dadaku terasa sedikit sesak. “Kita bakal kerja bareng sampai akhir semester, Lang. Jangan kayak mau diajak ke ruang eksekusi mati dong wajahnya.”
Sasa tertawa kecil, tapi matanya tetap tertuju padaku. “Enggak apa-apa, Ndi. Mungkin Elang lagi fokus. Jadi, kapan kita mau mulai bahas pembagian tugasnya? Mau di kafe depan kampus sore ini?”
“Gue nggak bisa,” potongku cepat, mungkin sedikit terlalu cepat. “Gue ada urusan lain.”
Sasa mengerutkan kening. Sedikit kilatan kecewa—atau mungkin rasa penasaran—melintas di bola mata cokelatnya. “Oh, oke. Kalau gitu, minta nomor WhatsApp kamu deh, biar gampang koordinasinya.”
Aku ragu sejenak. Memberikan nomor telepon berarti memberikan akses lebih dekat. Tapi menolak pun akan terlihat sangat mencurigakan. Dengan tangan yang sedikit kaku, aku meraih ponselnya yang disodorkan padaku. Jari-jariku bersentuhan dengan miliknya saat mengambil ponsel itu. Dingin. Sasa selalu mengeluh tangannya sering dingin kalau dia sedang cemas. Apakah dia sedang cemas sekarang?
Aku mengetik nomor ponselku dengan cepat dan mengembalikannya tanpa menatap matanya.
“Makasih, Elang,” ucap Sasa lembut. Dia tidak langsung pergi. Dia berdiri di sana selama beberapa detik, seolah menunggu aku mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin terdengar seperti @BlueRaven. Tapi aku tetap diam, membeku dalam peran yang kupilih sebagai pria sombong dan antisosial.
Akhirnya, dia berbalik dan berjalan pergi bersama Andika. Aku memperhatikan langkahnya. Bahunya sedikit merosot, tanda dia sedang merasa tidak aman. Aku ingin sekali meraih ponselku, membuka akun @BlueRaven, dan bertanya: *“Kenapa kamu kelihatan sedih hari ini?”*
Tapi aku tidak bisa. Aku harus menjaga jarak.
Sore itu, aku sengaja pulang lebih awal, menghindari kerumunan mahasiswa di lobi. Aku berjalan cepat menuju parkiran motor, berharap bisa segera sampai di kamar kosku yang sunyi. Namun, langkahku terhenti saat melihat Sasa berdiri sendirian di bawah pohon m***ni dekat gerbang kampus. Dia sedang menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sangat kukenal—ekspresi saat dia sedang mengetik curhatan panjang untukku.
Ponsel di saku celanaku bergetar.
Aku tahu itu darinya. Aku tahu @BlueRaven baru saja mendapatkan pesan baru.
Aku membalikkan badan, berniat memutar jalan lewat pintu belakang gedung hukum, namun suara dering telepon yang nyaring menghentikanku. Bukan ponsel pribadiku, melainkan ponsel kedua yang khusus kugunakan untuk akun anonim itu. Sial, aku lupa mematikannya.
Suara itu terdengar jelas di keheningan area parkir yang mulai sepi. Sasa menoleh. Dia menatap ke arahku dengan mata membelalak. Dia melihatku memegang saku celanaku di mana bunyi itu berasal.
“Elang?” panggilnya ragu.
Aku membeku. Bunyi dering itu terus berlanjut, seolah-olah sedang menghitung mundur waktu kehancuran rahasiaku. Sasa mulai melangkah mendekat, matanya bergantian menatap ponsel di tangannya dan ke arah saku celanaku yang masih berisik.
“Suara itu...” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Aku harus lari. Aku harus melakukan sesuatu sebelum dia menyadari bahwa nada dering unik yang dia dengar adalah nada dering yang sama yang pernah kukatakan padanya sebagai lagu favorit @BlueRaven di salah satu percakapan tengah malam kami. Namun, kakiku seolah tertanam di aspal panas, sementara Sasa hanya berjarak lima langkah dariku.
“Elang, boleh aku lihat ponselmu?” pintanya, suaranya bergetar dengan kecurigaan yang menyakitkan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!