Suara geser kursi dan gumaman rendah memenuhi ruang kelas begitu Dosen Pengantar Komunikasi Massa, Pak Heru, menutup sesinya dengan pengumuman yang paling ditakuti seantero kelas: proyek besar tengah semester yang dikerjakan secara berpasangan. Sasa menopang dagu, matanya menyapu sekeliling ruangan, mencari-cari sinyal dari sahabat-sahabatnya. Namun, harapannya pupus saat Pak Heru mulai membacakan daftar pasangan yang sudah ia tentukan sendiri secara acak.
"Sasa Amara dengan Elang Dirgantara."
Jantung Sasa seolah berhenti berdetak selama satu detik. Ia tidak perlu menoleh ke belakang untuk tahu di mana Elang berada. Hawa dingin yang selalu memancar dari kursi tepat di belakangnya sudah c**up menjadi penanda. Elangβsi jenius yang kaku, pria yang kalau bicara hanya seperlunya, dan lebih sering terlihat seperti patung es daripada manusia.
Sasa memutar tubuhnya perlahan, memaksakan sebuah senyum kurasi yang biasa ia berikan pada pengikutnya di media sosial. "Hai, Elang. Sepertinya kita harus kerja bareng."
Elang bahkan tidak mendongak dari buku catatannya. Jemarinya yang panjang masih sibuk merapikan alat tulis ke dalam tas punggung hitamnya yang kusam. "Ya," sahutnya pendek. Suaranya rendah, tanpa intonasi, seolah-olah berpasangan dengan mahasiswi paling populer di kampus adalah sebuah hukuman alih-alih keberuntungan.
"Jadi... mau diskusi di mana?" Sasa mencoba mencairkan suasana, meski ia merasa seperti sedang mencoba menyalakan api di tengah badai salju. "Kafe di depan kampus ada promo, atau kita ke perpustakaan?"
"Perpustakaan. Jam empat sore ini. Jangan terlambat," potong Elang seraya berdiri. Ia menyampirkan tasnya di bahu, lalu berjalan melewati Sasa tanpa kontak mata sedikit pun. Aroma samar kayu cendana yang menenangkan tertinggal sesaat, sangat kontras dengan sikapnya yang menusuk.
Sasa menghela napas panjang, bahunya merosot. *Apa salahku?* batinnya. Ia terbiasa disukai, terbiasa dikelilingi orang-orang yang berebut perhatiannya. Namun di depan Elang, Sasa merasa seperti sebuah pajangan yang tidak punya fungsi. Seolah-olah semua keramahan dan popularitasnya hanyalah kebisingan yang mengganggu bagi pria itu.
Tepat jam empat sore, Sasa sudah duduk di meja pojok perpustakaan yang paling tersembunyi. Ia sengaja datang sepuluh menit lebih awal, tidak ingin memberi celah bagi Elang untuk mengkritiknya. Lima menit kemudian, sosok tinggi itu muncul. Elang mengenakan *hoodie* abu-abu kebesaran yang tudungnya ditarik ke atas, menutupi sebagian wajahnya yang selalu tampak muram.
Tanpa basa-basi, Elang mengeluarkan laptopnya dan membukanya. "Aku sudah buat kerangka proyeknya. Kamu tinggal cari studi ka**s untuk bagian tiga dan empat."
Sasa tertegun melihat layar laptop Elang. Kerangka itu sangat det**l, terstruktur, dan... sangat jenius. Namun, ada sesuatu yang menyengat egonya. "Tunggu, Elang. Bukannya lebih baik kalau kita diskusikan dulu temanya? Aku punya ide soal kampanye literasi digital untukβ"
"Ide itu terlalu umum," Elang memotong tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Kita butuh sesuatu yang lebih punya bobot akademis kalau mau dapat nilai A dari Pak Heru. Kerjakan saja bagian yang aku minta."
Sasa merasakan wajahnya memanas. Ia meremas ujung roknya di bawah meja. "Kamu benar-benar membenciku, ya?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat Elang akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, menatap Sasa dengan mata tajam di balik kacamata tipisnya. Ada jeda panjang yang menyesakkan di antara mereka. Sasa bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia benci perasaan iniβperasaan dihakimi, perasaan tidak c**up baik.
"Aku tidak punya waktu untuk membenci siapa pun, Sasa," jawab Elang datar. "Aku hanya ingin tugas ini cepat selesai. Kamu punya duniamu sendiri yang penuh dengan sorotan, dan aku punya duniaku yang butuh ketenangan. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi teman hanya karena satu proyek."
Kalimat itu telak menghantam ulu hati Sasa. Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia bukan sekadar "si gadis populer" yang haus perhatian. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat. Ia hanya bisa menatap Elang yang kembali fokus pada layar laptopnya, seolah-olah Sasa hanyalah udara kosong di hadapannya.
Selama dua jam berikutnya, hanya suara denting papan ketik dan gemeresik kertas yang mengisi ruang di antara mereka. Sasa mengerjakan bagiannya dengan jemari yang gemetar karena menahan amarah dan kesedihan. Di tengah keheningan yang menyiksa itu, Sasa merasa sangat terasing. Ia dikelilingi buku, ada orang di hadapannya, namun ia merasa sangat kesepian.
Secara refleks, ia merogoh ponselnya. Satu-satunya tempat pelariannya. Ia membuka akun rahasianya, mengetikkan pesan singkat di kolom DM kepada satu-satunya orang yang ia rasa bisa memahaminya tanpa menuntut apa pun.
*@BlueRaven, kenapa dunia nyata terasa begitu dingin? Aku sedang duduk berhadapan dengan seseorang, tapi aku merasa dia berada di planet lain yang tidak mengizinkanku ma**k. Apa aku memang semenjengkelkan itu?*
Sasa meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba kembali fokus pada data di depannya.
Tiba-tiba, ponsel milik Elang yang tergeletak di samping laptop pria itu bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang redup. Sasa tidak sengaja melirik. Matanya membelalak.
Di sana, di layar ponsel Elang yang sedikit retak, ia melihat ikon aplikasi yang sangat familiar. Sebuah gelembung notifikasi pesan ma**k dengan *preview* kalimat yang baru saja ia kirimkan.
Sasa membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menatap ponsel itu, lalu beralih menatap Elang yang masih tampak tenang, seolah tidak menyadari bahwa rahasia terbesar mereka mungkin baru saja bersinggungan di atas meja kayu yang dingin itu.
Elang perlahan mengulurkan tangan, meraih ponselnya, dan jemarinya mulai mengetik sesuatu. Di saat yang bersamaan, ponsel Sasa di atas meja bergetar pelan, menandakan sebuah pesan balasan telah tiba. Sasa tidak berani bergerak, bahkan untuk sekadar berkedip.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!