Cahaya matahari sore yang menerobos jendela perpustakaan lant** dua menyinari partikel debu yang menari-nari di udara. Di meja nomor empat, tepat tiga baris di depanku, Sasa sedang berperang dengan laptopnya. Aku bisa melihat jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tidak beraturanβtanda bahwa ia sedang gelisah. Sesekali ia meremas rambutnya yang diikat kuda, membuat beberapa anak rambut jatuh berantakan di tengkuknya.
Aku menunduk, berpura-pura fokus pada buku teori komunikasi di hadapanku, padahal telingaku menangkap helaan napas beratnya. Dari posisi ini, aku adalah pengamat yang tak kasatmata. Bagi Sasa, aku hanyalah Elang, si mahasiswa pendiam yang membosankan dan mungkin sedikit sombong karena jarang bersosialisasi. Dia tidak tahu bahwa di balik layar ponselku yang redup, aku adalah satu-satunya orang yang ia izinkan melihat sisi rapuhnya.
Getaran pelan di saku celanaku membuat jantungku berdesir. Aku sudah tahu siapa itu bahkan sebelum menyentuh layarnya.
**@sasa_ariana:** *Raven, aku benci tugas ini. Aku merasa seperti penipu. Bagaimana aku bisa menulis esai tentang "Kejujuran dalam Citra Digital" kalau aku sendiri merasa seluruh hidupku di Instagram adalah kebohongan yang dikurasi dengan rapi?*
Aku melirik ke arahnya. Sasa menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit perpustakaan dengan tatapan kosong. Di sana, di tengah keramaian mahasiswa yang berlalu-lalang, dia tampak sangat kesepian. Gadis populer itu sedang kehilangan arah, dan ironisnya, dia mencari kompasnya pada orang asing di internet.
Aku mulai mengetik. Jemariku bergerak ragu di atas papan ketik virtual. Aku harus hati-hati. Terlalu dingin, dia akan menjauh. Terlalu akrab, dia akan curiga.
**@BlueRaven:** *Mungkin itu poinnya, Sa. Esaimu tidak harus tentang betapa jujurnya dunia digital, tapi tentang konflik yang kamu rasakan saat mencoba menjadi jujur di sana. Jangan tulis apa yang dosenmu ingin dengar. Tulis apa yang membuatmu tidak bisa tidur semalam.*
Aku melihat Sasa menegakkan duduknya. Matanya terpaku pada layar ponsel. Sudut bibirnya terangkat tipisβsebuah senyum yang tidak ia tujukan untuk kamera atau pengikutnya, tapi untukku. Atau lebih tepatnya, untuk @BlueRaven.
**@sasa_ariana:** *Tapi Pak Handoko bilang kita harus pakai referensi teori Baudrillard tentang simulakra. Itu membingungkan. Aku merasa terjebak di antara teori yang rumit dan perasaan yang lebih rumit lagi.*
Aku meringis pelan. Pak Handoko baru saja menjelaskan teori itu di kelas tadi pagi, saat aku duduk tepat di belakang Sasa. Aku ingat bagaimana Sasa terus-menerus memutar bolpoinnya, tampak kebingungan saat Pak Handoko menjelaskan tentang realitas yang digantikan oleh simbol.
Tanpa sadar, aku ingin membantunya lebih jauh. Aku ingin dia berhenti terlihat sefrustrasi itu.
**@BlueRaven:** *Coba bayangkan begini: Baudrillard bilang bahwa salinan telah menjadi lebih nyata daripada aslinya. Seperti fotomu di kafe kemarin. Orang-orang melihat senyummu dan menganggap itu adalah hari yang sempurna, padahal mungkin saat itu kopimu dingin dan kamu sedang merasa sedih. Tulislah tentang jarak antara 'foto' itu dan 'dirimu' yang sebenarnya. Itu akan jadi esai yang kuat.*
Aku menekan *send*. Sesaat kemudian, aku menyadari kesalahanku. Jantungku seolah berhenti berdetak.
"Sial," bisikku lirih, nyaris tak terdengar.
Di depanku, tubuh Sasa menegang. Ia tidak langsung membalas pesanku. Ia membaca baris kalimat itu berulang kali. Aku bisa melihat bahunya yang mendadak kaku. Ia perlahan menoleh, matanya menyapu seisi perpustakaan yang tidak terlalu ramai sore itu.
Aku segera menenggelamkan wajahku ke dalam buku, pura-pura sangat tekun membaca bab tentang semiotika. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Aku baru saja menyebutkan tentang "foto di kafe kemarin". Sasa memang mengunggah foto di kafe kemarin, tapi @BlueRaven seharusnya tidak tahu det**l perasaan di balik foto itu kecuali jika... atau tunggu, apakah @BlueRaven seharusnya tahu dia sedang mengerjakan tugas Pak Handoko?
Ponselku bergetar lagi. Kali ini lebih lama.
**@sasa_ariana:** *Raven... bagaimana kamu tahu aku sedang membahas Baudrillard? Aku tidak menyebutkan nama dosenku atau mata kuliahnya secara spesifik di pesan tadi.*
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Aku mencoba menyusun kalimat pembelaan di kepalaku. *Aku hanya menebak karena itu teori populer? Tidak, itu terlalu lemah.*
**@sasa_ariana:** *Dan soal foto di kafe itu... dari mana kamu tahu aku merasa sedih saat itu? Aku tidak pernah menuliskannya di caption. Aku bahkan memasang wajah paling bahagia yang pernah aku punya.*
Sasa berdiri dari kursinya. Ia membawa ponselnya dengan genggaman erat, matanya masih mengedar ke sekeliling ruangan, mencari seseorang yang tampak mencurigakan. Aku bisa merasakan tatapannya melewati kepalaku, berhenti sejenak, lalu berpindah ke mahasiswa lain di ujung ruangan.
"Ayo, Elang, berpikir," batinku panik.
Aku memberanikan diri melirik sedikit dari balik buku. Sasa kini berjalan perlahan menyusuri lorong antar meja. Langkah kakinya yang mengenakan *sneakers* putih terdengar berdecit pelan di atas lant** marmer. Ia berjalan menuju deretan meja belakangβtempatku berada.
Aku menahan napas, mematikan layar ponsel, dan mema**kkannya ke dalam tas dengan gerakan sealami mungkin. Aku harus bersikap biasa saja. Aku adalah Elang, mahasiswa kutu buku yang tidak peduli pada sekitar.
Langkah kaki itu berhenti tepat di samping mejaku. Aku bisa mencium aroma parfum vanila lembut yang selalu ia pakai. Jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusukku.
"Elang?" suara Sasa terdengar ragu, namun ada nada tuntutan di sana.
Aku mendongak, memasang ekspresi datar yang paling meyakinkan yang bisa kubuat. "Ya? Ada apa, Sa?"
Sasa menyipitkan mata, menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin berpaling. Ia memegang ponselnya yang masih menyala, menampilkan jendela percakapan dengan @BlueRaven. "Tadi pagi di kelas Pak Handoko... kamu duduk di belakangku, kan?"
Aku mengerutkan kening, mencoba terlihat bingung. "Iya, memangnya kenapa? Ada barangmu yang tertinggal?"
Sasa terdiam sejenak, matanya mencari-cari kejujuran di wajahku. Ia tampak bimbang, seolah sedang menimbang-nimbang antara logika dan instingnya. "Enggak, bukan itu. Cuma... kamu dari tadi di sini?"
"Sejak kelas berakhir," jawabku singkat, lalu kembali menatap bukuku. "Aku harus menyelesaikan tugas Pak Handoko sebelum besok."
Sasa tidak bergeming. Ia masih berdiri di sana, menatapku seolah aku adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Tiba-tiba, ponsel di tangan Sasa berdenting. Sebuah notifikasi ma**k. Ia melihat layarnya, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
"Aneh ya," gumamnya, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Barusan aku kirim DM lagi ke @BlueRaven, dan di saat yang bersamaan, tas kamu bergetar."
Duniaku serasa runtuh. Aku lupa mematikan fitur getar untuk notifikasi akun itu. Aku mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menjaga wajahku agar tetap tenang meski badai sedang mengamuk di dalam dadaku.
Sasa meletakkan ponselnya di atas mejaku, tepat di atas buku komunikasi yang sedang kubaca. Layarnya menunjukkan pesan baru yang baru saja ia kirim: *Raven, kalau itu kamu, tolong angkat kepalamu.*
Aku terpaku. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan, lebih berat daripada ribuan kata yang pernah kami pertukarkan di dunia maya. Pilihannya hanya dua: terus berbohong dan mempertaruhkan kepercayaan yang sudah kami bangun, atau jujur dan menghancurkan dinding pelindung yang selama ini menjagaku tetap aman.
Sasa perlahan mendekatkan wajahnya, suaranya nyaris berbisik. "Elang... apakah kamu adalah Raven?"
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!