Layar ponsel yang terang benderang menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar Sasa yang remang. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun kantuk seolah enggan singgah. Di luar, rintik hujan sisa sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang merayap ma**k melalui celah jendela. Sasa meringkuk di balik selimut tebal, jarinya sibuk menggulir kolom percakapan dengan satu akun yang belakangan ini menjadi candu baginya: @BlueRaven.
Tadi siang, Sasa baru saja menghadiri rapat besar organisasi kampus. Di sana, ia kembali menjadi "Sasa yang Sempurna"—si ekstrovert yang selalu punya solusi, yang tawanya paling nyaring, dan yang pendapatnya paling didengar. Namun, begitu pintu kamar kosnya tertutup, energi itu luruh seketika. Ia merasa seperti balon yang kehabisan udara. Kosong.
*“Kadang aku merasa seperti aktor yang lupa cara turun dari panggung,”* tulis Sasa di kolom *Direct Message*. Ia tidak butuh waktu lama untuk melihat status ‘Typing’ di pojok atas layar.
*“Panggung itu memang melelahkan kalau lampunya terlalu terang, Sa. Kamu nggak harus selalu berdiri di bawah lampu sorot untuk dianggap ada,”* balas @BlueRaven.
Sasa tersenyum tipis. Entah bagaimana, sosok anonim ini selalu tahu kata-kata yang tepat untuk membalut luka-luka tak kasat matanya. @BlueRaven tidak pernah menghakiminya, tidak pernah menuntutnya untuk tampil ceria. Di mata Raven, Sasa merasa... c**up.
Namun, rasa c**up itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang menggebu. Selama berbulan-bulan, mereka hanya bertukar kata lewat biner dan piksel. Sasa ingin lebih. Ia ingin melihat sorot mata yang menyembunyikan kebijaksanaan itu. Ia ingin mendengar suara yang selama ini hanya ia bayangkan di dalam kepalanya.
Jantung Sasa berdegup lebih kencang. Ia mengubah posisinya menjadi duduk tegak, membiarkan selimutnya merosot ke pinggang. Jemarinya gemetar saat mengetikkan sebuah kalimat yang sudah lama tertahan di ujung lidah.
*“Raven, boleh aku tanya sesuatu yang agak... impulsif?”*
*“Tanya saja.”*
Sasa menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang risiko dari pertanyaannya. Jika Raven menolak, apakah hubungan mereka akan menjadi canggung? Namun, rasa kesepian malam ini terasa begitu mencekik, dan ia butuh lebih dari sekadar teks di layar.
*“Apa kamu pernah terpikir untuk... bertemu? Maksudku, secara nyata. Bukan sebagai akun, tapi sebagai manusia. Besok sore di kafe deket kampus?”*
Sasa menahan napas. Ia meletakkan ponselnya di atas ka**r, seolah benda itu tiba-tiba menjadi panas. Ia menatap langit-langit kamar, menghitung detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Satu menit berlalu. Dua menit. Status ‘Seen’ sudah muncul, tapi tidak ada balasan.
***
Di sisi lain kota, di sebuah kamar kos yang jauh lebih sederhana, Elang tersedak air mineral yang tengah diminumnya. Ia terbatuk-batuk kecil, matanya membelalak menatap layar ponsel yang tergeletak di atas meja belajar.
*“Apa kamu pernah terpikir untuk... bertemu?”*
Pesan itu seperti bom atom yang meledak tepat di depan wajahnya. Elang mendadak lupa cara bernapas. Ia bangkit dari kursi, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
“Sial,” bisiknya pelan. “Kenapa harus sekarang, Sa?”
Elang melirik jam. Ia tahu Sasa pasti sedang menunggu dengan cemas. Ia bisa membayangkan gadis itu—yang duduk hanya satu bangku di depannya setiap kuliah Psikologi Umum—sedang menggigit bibir dengan cemas, atau mungkin memilin ujung rambutnya seperti yang sering ia lakukan saat gugup di kelas.
Elang ingin sekali mengiyakan. Demi Tuhan, ia ingin sekali duduk di depan Sasa, menatap matanya tanpa harus bersembunyi di balik nama samaran. Ia ingin memberi tahu Sasa bahwa ia ada di sana, tepat di belakangnya, memperhatikan setiap helai rambutnya yang jatuh, setiap helaan napas lelahnya yang tak pernah disadari orang lain.
Namun, kenyataan menghantamnya. Sasa adalah matahari, dan Elang hanyalah bayangan yang pudar. Jika Sasa tahu bahwa @BlueRaven adalah Elang—si pria pendiam yang dianggap sombong dan membosankan oleh teman-teman seangkatannya—apakah Sasa akan tetap menatapnya dengan kekaguman yang sama? Atau akankah Sasa merasa dikhianati?
Jari Elang melayang di atas *keyboard* virtual. Ia harus menolak. Tapi bagaimana caranya agar Sasa tidak merasa ditolak secara personal?
*“Sa, aku...”* Elang menghapus kalimat itu. Terlalu ragu-ragu.
Ia mencoba lagi. *“Besok aku ada urusan keluarga.”* Klise. Sasa akan tahu itu bohong.
Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa sampai ke telinga. Ia harus memberikan alasan yang menjaga jarak namun tetap membiarkan pintu itu terbuka sedikit.
*“Sa, aku minta maaf,”* ketiknya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. *“Aku pengen banget ketemu kamu. Benar-benar ingin. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan diriku sendiri sebelum aku berani berdiri di depanmu. Aku takut kalau kita ketemu sekarang, sihir yang kita punya di sini bakal hilang.”*
Ia menatap pesan itu lama sekali sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Begitu pesan itu terkirim, Elang langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke atas bantal. Ia menjatuhkan diri di kursi, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa seperti pengecut, tapi ia lebih takut kehilangan Sasa daripada dianggap pengecut.
***
Di kamarnya, Sasa membaca pesan itu berulang kali. Ada rasa kecewa yang menusuk dadanya, sebuah penolakan halus yang membuatnya merasa sedikit bodoh karena telah berharap terlalu banyak. Namun, ada satu kalimat yang membuatnya terpaku.
*“Aku takut kalau kita ketemu sekarang, sihir yang kita punya di sini bakal hilang.”*
Sasa memeluk lututnya, menatap layar ponsel yang mulai meredup. Alasan Raven terdengar sangat tulus, sekaligus sangat misterius. Siapa sebenarnya pria ini? Apa yang ia sembunyikan sampai-sampai ia merasa pertemuan mereka akan menghancurkan segalanya?
Kekecewaan Sasa perlahan berubah menjadi tekad yang baru. Jika Raven tidak mau menemuinya, maka ia yang akan menemukan Raven. Ia mulai mengingat kembali det**l-det**l kecil dari percakapan mereka selama ini. Raven pernah menyebutkan tentang aroma kopi di perpustakaan lant** tiga, tentang suara teknisi yang memperbaiki AC di gedung C, dan tentang bagaimana sinar matahari jatuh di koridor fakultas mereka pada jam dua siang.
“Kamu ada di dekatku, kan?” bisik Sasa pada kesunyian kamar.
Ia teringat kejadian tadi pagi di kelas. Seseorang sempat menjatuhkan pulpen tepat di bawah kursinya, dan ketika ia berbalik, ia hanya melihat punggung Elang yang tegap namun kaku. Sasa menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran konyol itu. Tidak mungkin Elang yang dingin itu adalah Raven-nya yang hangat.
Namun, sebuah benih kecurigaan baru saja tertanam di kepalanya. Sasa berjanji pada dirinya sendiri, mulai besok, ia tidak akan lagi hanya sekadar lewat di koridor kampus. Ia akan mulai memperhatikan. Ia akan mencari tahu siapa yang memiliki pola pikir yang sama dengannya, siapa yang diam-diam mengamati dunianya.
Sasa mematikan lampu tidurnya. Di kegelapan, ia berbisik kecil, “Aku akan menemukanmu, Raven. Entah kamu siap atau tidak.”
Malam itu, Sasa tertidur dengan sebuah rencana, sementara di tempat lain, Elang terjaga dengan rasa takut yang kian membesar, menyadari bahwa dinding rahasia yang ia bangun mulai menunjukkan retakan pertamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!