Jari-jariku sedikit gemetar saat menyentuh pinggiran kertas bertekstur *eggshell* yang tergeletak di atas meja kaca. Di atasnya, logo emas timbul bertuliskan 'L’Amour' seolah sedang mengejekku, memancarkan kemewahan yang selama ini hanya berani aku bayangkan dari balik layar ponsel. Wangi ruangan kantor Sarah—agenku—beraroma kopi mahal dan parfum mawar kering, atmosfer yang biasanya menenangkanku, tapi kali ini justru terasa menyesakkan.
"Ini bukan sekadar kontrak, Maya. Ini adalah tiketmu keluar dari katalog baju lebaran dan pemotretan hijab instan," suara Sarah memecah kesunyian. Ia menyesap espresonya, matanya yang tajam menatapku dari balik bingkai kacamata hitam. "L’Amour tidak memilih sembarang wajah. Mereka memilih *tubuh* yang bisa menjual mimpi."
Aku menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokanku yang kering. "Aku tahu, Sarah. Ini luar biasa."
"Tapi?" Sarah meletakkan cangkirnya dengan denting halus. Ia tahu ada keraguan yang terselip di balik senyum kaku yang kupaksakan.
Aku membalik halaman ke lampiran teknis, sebuah dokumen tambahan yang biasanya berisi jadwal diet atau jam kerja. Namun, poin nomor empat dicetak tebal. *Persyaratan Estetika Kulit dan Area Sensitif.* Mataku terpaku pada deretan kalimat yang menuntut persiapan fisik total. Mereka tidak hanya meminta kulitku mulus tanpa cela; mereka meminta kanvas yang benar-benar bersih. Tanpa helai rambut satu pun di seluruh area tubuh, terma**k area paling pribadi yang selama ini aku jaga dengan privasi penuh.
"Mereka meminta... semuanya?" tanyaku lirih, hampir berupa bisikan. "Maksudku, semuanya harus benar-benar bersih? Untuk koleksi *Lace and Skin* ini?"
Sarah menyandarkan punggungnya, ekspresinya melunak namun tetap profesional. "Fotografernya adalah Aris. Kamu tahu reputasinya. Dia tidak suka melakukan *retouch* berlebihan pada tekstur kulit. Dia ingin semuanya tampak nyata, organik, namun sempurna. Pakaian dalam yang akan kamu pakai berbahan sutra transparan dan renda *Chantilly* yang sangat tipis. Garis atau bayangan sekecil apa pun akan merusak estetika desainnya."
Aku menatap pantulan diriku di permukaan meja kaca yang gelap. Di usia dua puluh tahun, aku sering merasa sudah mengenal tubuhku sendiri. Namun, membaca tuntutan itu membuatku merasa seolah tubuh ini bukan lagi milikku, melainkan sebuah properti yang harus dipahat dan dibersihkan sesuai standar industri yang kejam. Ada rasa dingin yang merayap di tengkukku—sebuah perpaduan antara rasa tidak aman dan rasa haus akan validasi.
"Apakah aku bisa melakukannya?" gumamku lebih kepada diri sendiri.
"Hanya jika kamu ingin menjadi bintang, Maya," jawab Sarah tenang. "Dunia model tidak peduli pada rasa malumu. Mereka peduli pada hasil akhir di balik lensa. Kontrak ini bernilai lebih dari seluruh penghasilanmu tahun lalu. Bayangkan papan reklame di Bundaran HI. Bayangkan namamu disebut di Paris."
Aku menarik napas panjang, mencoba memenuhi paru-paruku dengan keberanian yang belum benar-benar ada. Aku membayangkan wajah ibuku saat aku mengirimkan uang bulanan yang lebih besar, atau tatapan teman-teman modelku yang selama ini meremehkanku. Keinginan untuk diakui, untuk menjadi 'seseorang', mulai mengalahkan rasa risih yang menggerogoti nurani.
Tanganku meraih pulpen *fount**n* di atas meja. Tinta hitamnya mengalir lancar saat aku membubuhkan tanda tangan di atas materai. *Selesai.* Secara hukum, aku telah menyerahkan kendali atas estetikaku kepada L’Amour.
"Bagus," Sarah tersenyum, kilat kepuasan terpancar di matanya. "Pemotretan dimulai tiga hari lagi. Aku sudah menjadwalkan janji di klinik kecantikan langgananku untuk perawatan seluruh tubuhmu. Tapi untuk area... itu, mereka menyarankan kamu melakukannya sendiri agar kulitmu tidak iritasi akibat bahan kimia klinis sebelum pemotretan. Mereka ingin kulit yang tenang, bukan yang kemerahan karena *waxing* agresif."
"Aku melakukannya sendiri?" tanyaku, jantungku berdegup lebih kencang.
"Gunakan silet terbaik. Hati-hati. Jangan sampai ada luka sekecil apa pun," Sarah berdiri, menandakan pertemuan berakhir. "Aris tidak suka keterlambatan, dan dia membenci ketidaksempurnaan."
Malam itu, apartemen kecilku terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi yang beruap setelah mandi air panas. Lampu neon yang putih pucat menyinari setiap jengkal kulitku, menonjolkan setiap kekurangan yang biasanya kuabaikan.
Aku meletakkan pisau c**ur baru yang masih tersegel di pinggiran wastafel. Benda logam kecil itu tampak mengancam, berkilau di bawah cahaya lampu. Jemariku gemetar saat aku menyentuh kain handuk yang melilit tubuhku, perlahan membiarkannya jatuh ke lant**.
Aku menatap bayanganku. Inilah aku. Seorang gadis yang rela menelanjangi harga dirinya demi selembar kontrak. Selama ini, aku selalu menyembunyikan sisi ini, bagian paling rentan dari kewanitaanku. Namun sekarang, demi tuntutan profesionalisme—atau mungkin demi obsesiku pada kesuksesan—aku harus menghilangkannya.
Aku meraih krim penc**ur dan mengoleskannya dengan ragu. Dingin. Aku menarik napas, mencoba menenangkan debar jantung yang kian liar. Saat ujung silet yang dingin menyentuh kulit sensitifku untuk pertama kalinya, sebuah sensasi aneh menjalar di tulang belakangku. Bukan sekadar rasa takut, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti... pelepasan.
Aku melihat helai-helai itu jatuh, hanyut bersama aliran air, meninggalkan kulit yang terasa asing dan sangat sensitif terhadap udara dingin di kamar mandi. Setiap tarikan silet terasa seperti pernyataan perang terhadap diriku yang lama. Aku sedang membentuk diriku yang baru, versi yang diinginkan oleh Aris, versi yang diinginkan oleh dunia.
Namun, di tengah keheningan itu, sebuah pertanyaan muncul dan menghantuiku: Jika aku mengubah segala hal dalam diriku demi lensa kamera, apa yang akan tersisa dari Maya yang asli saat lampu studio dipadamkan?
Aku menatap silet di tanganku, menyadari bahwa garis tipis antara dedikasi dan keg***an baru saja aku lewati. Dan besok, aku harus menghadapi Aris—pria yang memegang kendali atas citra baruku ini. Apakah dia akan melihat usahaku, ataukah aku hanya akan menjadi objek lain di bawah perintah teknisnya?
Satu hal yang pasti, tidak ada jalan untuk kembali. Aku telah memulainya, dan rasa perih yang samar di kulitku justru membuatku merasa lebih hidup dari sebelumnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!