Aroma kopi espresso yang kuat bercampur dengan wangi parfum mahal dan sisa-sisa hairspray yang menggantung di udara studio. Di depanku, cermin besar dengan deretan lampu bohlam putih yang menyilaukan memantulkan sosok yang hampir tidak kukenali. Gaun dalaman dari koleksi ‘Dark Desire’ garapan L’Amour melekat di tubuhku seperti kulit kedua—terbuat dari sutra hitam yang nyaris transparan dengan aksen renda bordir tangan yang merambat di sepanjang pinggang dan panggul.
Aku menggerakkan jemariku perlahan, merasakan sensasi halus dari kain itu menyentuh kulitku yang kini benar-benar licin. Perubahan itu masih terasa asing, namun anehnya, memberikan semacam kekuatan rahasia. Tidak ada lagi hambatan antara kain dan kulitku. Aku merasa lebih terbuka, lebih rentan, namun di saat yang sama, jauh lebih berkuasa.
"Jangan hanya melamun, Maya. Waktu kita bukan untuk mengagumi diri sendiri."
Suara tajam itu datang dari arah pintu. Sandra, model senior yang sudah menjadi wajah L’Amour selama tiga tahun terakhir, berdiri bersandar di kusen pintu dengan menyilangkan tangan di dada. Ia mengenakan jubah satin merah darah, namun tatapannya lebih dingin dari es.
"Maaf, Kak Sandra," ujarku sambil berdiri, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil.
Sandra melangkah mendekat, matanya memindai tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ketelitian seorang kurator seni yang mencari c**** pada lukisan palsu. "Aku dengar kamu melakukan 'persiapan khusus' untuk tema ini. Berani juga. Tapi ingat, di depan kamera Aris, keberanian saja tidak c**up. Kamu butuh kelas. Jangan sampai kamu terlihat seperti murahan hanya karena kamu terlalu bersemangat memamerkan... kulit barumu."
Kalimatnya menusuk tepat di ulu hati, tapi aku hanya tersenyum tipis. Aku tidak akan membiarkannya melihatku goyah. "Terima kasih sarannya, Kak. Aku akan mengingatnya."
Di set pemotretan, suasananya berubah total dari sesi pertama yang serba putih dan lembut. Kini, ruangan itu didominasi oleh bayangan. Lampu-lampu ditata sedemikian rupa untuk menciptakan kontras yang tajam—*chiaroscuro* yang dramatis. Di tengah set, sebuah sofa beludru hitam diletakkan di bawah sorotan lampu tunggal yang temaram.
Aris berdiri di sana, sibuk memeriksa pengaturan pada kameranya. Ia tidak mengenakan jas seperti biasanya, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang dan jam tangan perak yang berkilat. Saat ia mendongak dan melihatku berjalan mendekat, gerakannya terhenti sejenak.
Tatapan Aris tidak lagi sedingin biasanya. Ada kilatan pengakuan di sana, sebuah pengakuan atas transformasi yang telah kulalui.
"Vera ingin sesuatu yang lebih... berisiko untuk set ini," ujar Aris tanpa basa-basi, suaranya rendah dan serak. Vera, perwakilan agensi yang perfeksionis, berdiri di sudut ruangan dengan tablet di tangan, mengangguk tegas.
"Maya," Vera memanggilku. "Tema 'Dark Desire' bukan tentang kecantikan. Ini tentang rasa lapar. Kami ingin melihat sisi dirimu yang tersembunyi. Jangan takut untuk menunjukkan kulitmu. Semakin sedikit yang kau tutupi secara emosional, semakin baik hasilnya."
Aku menarik napas panjang, melangkah menuju sofa beludru itu. Dinginnya AC studio menyentuh kulit lenganku yang terbuka, memicu bulu kudukku berdiri. Namun, saat aku duduk dan mengatur posisi, aku teringat akan sensasi silet yang dingin tempo hari di kamar mandiku. Aku teringat bagaimana rasanya melepaskan lapisan pelindung diriku.
"Bagus, Maya. Tekuk lututmu sedikit lagi ke arah kamera," instruksi Aris.
*Klik.*
Lampu strobo menyambar, memutus kegelapan sesaat.
"Lagi. Jangan lihat aku sebagai fotografer. Lihat aku sebagai sesuatu yang sangat kau inginkan, tapi tidak bisa kau miliki," suara Aris terdengar seperti bisikan di telingaku, meski ia berdiri beberapa meter dariku.
Aku membiarkan rambutku jatuh menutupi sebagian wajah, menatap langsung ke dalam lensa kamera. Aku bisa merasakan tatapan Sandra dari balik layar monitor di sudut ruangan—tatapan penuh kebencian sekaligus kecemasan. Itu justru memac**u. Aku menggeser sedikit tali sutra di bahuku, membiarkannya merosot perlahan, mengekspos garis bahu dan area di bawahnya yang kini tampil sempurna tanpa cela.
"Ya, seperti itu," gumam Aris. Ia mulai bergerak lebih cepat, mengambil sudut-sudut yang lebih intim.
Tiba-tiba, Vera menyela. "Tunggu! Aris, coba pose yang lebih ekstrem. Maya, lepaskan tali pengikat di bagian samping pinggulmu. Biarkan kainnya jatuh mengikuti gravitasi. Kita butuh estetika yang lebih berani untuk *spread* utama."
Aku tertegun sejenak. Jika aku melepaskan ikatan itu, gaun ini hanya akan bergantung pada satu titik yang sangat riskan. Itu hampir menyerempet batas p****grafi, namun di dunia haute couture, mereka menyebutnya seni tingkat tinggi.
Aku melirik ke arah Aris, mencari semacam perlindungan atau setidaknya persetujuan. Namun, Aris hanya diam, matanya tetap terpaku pada jendela bidik kamera. Ia menungguku. Ia ingin melihat sejauh mana aku bersedia hancur demi sebuah mahakarya.
"Kenapa? Kamu takut, Maya?" tantang Sandra dengan suara c**up keras untuk didengar semua orang di studio. "Atau kamu baru sadar kalau kontrak emas ini punya harga yang tidak sanggup kamu bayar?"
Keheningan menyelimuti ruangan. Semua kru menatapku. Suara detak jam dinding di sudut studio terasa seperti dentuman godam di kepalaku. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkukku, namun gairah aneh yang kutemukan di kamar mandi itu kembali bangkit. Gairah untuk melampaui batas.
Tanganku bergerak menuju pita kecil di pinggul kiriku. Jemariku gemetar sedikit, tapi mataku tidak lepas dari mata Aris yang tersembunyi di balik kamera.
"Lakukan, Maya," bisik Aris, hampir tidak terdengar. "Tunjukkan padaku apa yang ada di balik lensa itu."
Saat aku menarik ujung pita itu dan merasakan kain hitam mulai meluncur turun dari kulitku, aku tahu tidak ada jalan kembali. Aku baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar tema pemotretan ini.
Namun, tepat saat kain itu hampir menyingkap segalanya, pintu studio terbuka dengan dentuman keras, dan seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal ma**k dengan wajah merah padam.
"Hentikan pemotretan ini sekarang juga!" serunya, membuat Aris menurunkan kameranya dengan kasar.
Aku terkesiap, segera menarik kain sutra itu untuk menutupi tubuhku, jantungku berdegup kencang melawan tulang rusukku. Dunia yang baru saja kubangun di bawah lampu studio hancur seketika, menyisakan pertanyaan besar yang menggantung di udara yang tiba-tiba terasa mencekik.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!