Layar monitor iMac 27 inci di hadapanku berpendar terang, kontras dengan kegelapan ruang studio yang hanya menyisakan lampu indikator pendingin ruangan yang berkedip hijau. Aku menyesap kopi hitam yang sudah mendingin, membiarkan rasa pahitnya membakar lidah, berusaha menetralkan sisa-sisa adrenalin yang masih berdenyut di pelipisku.
Klik. Satu foto muncul. Klik. Foto lain menyusul.
Aku berhenti pada satu frame. Di sana, Maya berdiri dalam balutan lace tipis koleksi L’Amour. Namun, bukan kain mahal itu yang mencuri perhatianku. Itu adalah tatapannya—sebuah kombinasi antara kerentanan yang murni dan keberanian yang hampir bersifat predator. Dan yang paling menggangguku adalah det**l halus pada lekuk tubuhnya yang kini benar-benar polos, sebuah transformasi fisik yang ia pamerkan seolah-olah itu adalah senjata barunya.
Si****. Tanganku sedikit gemetar saat menggerakkan kursor.
Selama lima belas tahun karierku, aku dikenal sebagai "Si Tangan Dingin". Aku bisa memotret model tercantik di dunia tanpa merasakan apa pun selain obsesi terhadap komposisi, cahaya, dan bayangan. Bagiku, tubuh manusia hanyalah geometri yang bernapas. Namun, hari ini, Maya menghancurkan geometri itu. Dia bukan lagi objek; dia adalah subjek yang aktif menyerang batas-pribadiku.
"Kau masih di sini, Aris?"
Suara itu lembut, namun di telingaku terdengar seperti dentuman keras di ruangan yang sunyi ini. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di ambang pintu ruang edit. Aroma parfumnya—campuran vanila dan sesuatu yang tajam seperti merica—mendahului kehadirannya.
"Pekerjaanku belum selesai," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Suaraku terdengar lebih serak dari yang kuinginkan.
Maya melangkah ma**k. Aku bisa mendengar gesekan pelan kakinya di atas lant** kayu. Dia sudah berganti pakaian—hanya kaos putih kebesaran dan celana denim pendek—tapi di mataku, bayangan dirinya yang hanya mengenakan sutra tipis tadi sore masih melekat kuat.
Dia berhenti tepat di samping kursiku, menyandarkan pinggulnya di tepian meja. "Bagaimana hasilnya? Apa 'estetika' yang kau inginkan sudah tercapai?"
Aku terpaksa menoleh. Maya menatapku dengan kepala sedikit miring, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan. Ada kilatan kemenangan di matanya, seolah dia tahu persis apa yang sedang bergolak di dalam kepalaku.
"Secara teknis, ini bagus," kataku dingin, mencoba membangun kembali dinding profesionalisme yang sempat retak. "Tapi kau terlalu banyak berimprovisasi di set tadi. Aku tidak suka kehilangan kendali atas arah pemotretan."
Maya tertawa kecil, suara yang entah bagaimana terasa terlalu intim di ruangan sesempit ini. "Kau tidak suka kehilangan kendali, atau kau takut karena aku yang memegangnya?"
Aku meletakkan cangkir kopi dengan bunyi denting yang keras. "Jaga bicaramu, Maya. Kau di sini karena kontrak, bukan karena kita teman sebaya yang bisa saling menggoda."
Aku berdiri, mencoba mengintimidasi dengan tinggi badanku, namun dia tidak bergeming. Justru, dia maju selangkah, ma**k ke dalam ruang personal yang seharusnya tidak boleh ia ma**ki. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya, mencium aroma tubuhnya yang masih menyisakan kehangatan studio.
"Reputasimu," bisik Maya, jarinya menyentuh tepian meja di belakangku, seolah-olah sedang menari di atas tuts piano. "Fotografer jenius yang tak tersentuh. Apa yang akan dikatakan orang-orang di agensi jika mereka tahu bahwa Aris yang agung hampir menjatuhkan kameranya hanya karena seorang model amatir memutuskan untuk sedikit lebih... terbuka?"
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dadaku dengan liar. Dia benar. Jika kabar ini keluar—jika ada yang melihat bagaimana aku menatapnya di balik lensa tadi—semua yang kubangun selama belasan tahun akan runtuh. Industri ini kejam; sekali kau dianggap tidak profesional karena terlibat secara emosional atau seksual dengan 'kanvasmu', kau akan menjadi bahan lelucon di setiap meja makan para eksekutif mode.
Aku adalah Aris. Aku adalah kendali itu sendiri.
"Keluar," kataku, suaraku rendah dan penuh penekanan.
Maya menatapku lama, mencari celah di balik topengku. Sesaat, aku hampir menyerah. Aku ingin meraih tengkuknya, membungkam keberaniannya itu dengan cara yang paling primitif. Keinginan itu ada di sana, gelap dan menuntut, bersembunyi di balik jas mahalku.
Namun, bayangan karirku yang hancur, wajah para kritikus yang sinis, dan hilangnya rasa hormat yang telah kubayar dengan darah dan air mata, menahanku.
"Keluar sekarang, Maya. Sebelum aku membatalkan semua kontrakmu dengan L’Amour," ancamku, sebuah gertakan yang aku sendiri tidak yakin bisa kulakukan mengingat klien sangat mencint**nya.
Maya menarik napas panjang, senyumnya tidak pudar, justru semakin lebar. Dia seolah menikmati kemarahanku. "Baiklah, Aris. Aku pergi."
Dia berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah yang sengaja dibuat berirama. Namun, sebelum benar-benar keluar, dia berhenti dan menoleh.
"Kau bisa menghapus foto-fotonya dari komputermu jika kau mau, Aris. Tapi kau tidak akan pernah bisa menghapusnya dari kepalamu."
Pintu tertutup dengan bunyi klik yang tajam.
Aku kembali terhempas di kursi, menyandarkan kepala pada sandaran yang dingin. Ruangan itu kembali sunyi, tapi keheningan itu terasa menyesakkan. Aku menatap layar monitor lagi. Jariku bergerak ke arah tombol *delete*. Ini adalah pilihan yang ma**k akal. Hapus fotonya, hapus godaannya, kembali ke kehidupan yang teratur.
Namun, kursor itu tetap diam.
Aku tahu aku sedang bermain api. Dan yang membuatku muak pada diriku sendiri adalah fakta bahwa aku justru merindukan rasa panasnya. Aku kembali membuka folder foto sesi terakhir—foto-foto yang seharusnya tidak pernah dilihat oleh mata publik, foto-foto yang menunjukkan sisi Maya yang paling provokatif.
Tiba-tiba, ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan ma**k dari direktur kreatif L’Amour.
*“Aris, aku dengar sesi hari ini luar biasa. Kirimkan lima foto terbaik untuk teaser besok pagi. Pastikan yang paling berani.”*
Aku menatap pesan itu, lalu menatap foto Maya di layar. Jika aku mengirimkan foto-foto ini, aku tidak hanya mempromosikan jenama itu, aku sedang memamerkan kelemahanku sendiri kepada dunia. Dan aku tahu, Maya sedang menungguku di luar sana, menanti langkah mana yang akan kuambil untuk menghancurkan diriku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!