Lampu sorot studio yang berpijar putih kebiruan terasa panas di kulitku, namun sensasi dingin justru merayap di sepanjang tulang belakangku. Di ruangan yang luas ini, hanya ada aku, Aris, dan dengung rendah pendingin ruangan yang seolah tak mampu meredam debar jantungku. Para asisten baru saja keluar untuk istirahat kopi, meninggalkan kami dalam keheningan yang sarat akan tegangan listrik yang tak kasat mata.
Aku berdiri di atas podium kecil yang dialasi kain beludru hitam. Mengenakan koleksi terbaru L’Amour—setelan *lace* merah marun yang begitu tipis hingga aku merasa hampir te*******—aku bisa merasakan setiap pori-poriku bernapas. Rasa halus dan licin di area yang baru saja kusentuh dengan silet beberapa jam lalu memberikan sensasi yang asing namun memabukkan. Kehilangan helai-helai halus itu ternyata memberiku semacam kekuatan baru; aku merasa lebih tajam, lebih terekspos, dan entah bagaimana, lebih berkuasa.
Aris berdiri di balik kamera *medium format*-nya, wajahnya tersembunyi di balik lensa. Ia tidak banyak bicara sejak sesi pemotretan dimulai dua jam lalu. Hanya instruksi-instruksi pendek yang keluar dari bibirnya yang tipis.
"Dagu sedikit ke bawah, Maya. Tatapannya jangan terlalu kosong. Aku butuh rasa lapar, bukan kebingungan," suara Aris datar, namun memiliki otoritas yang membuatku ingin membuktikan sesuatu.
Aku mengatur napas. Alih-alih mengikuti instruksinya secara harfiah, aku memiringkan kepala ke samping, membiarkan rambut panjangku jatuh menutupi satu bahu, lalu perlahan jemariku merayap naik, menyusuri paha dalamku sendiri, berhenti tepat di batas kain renda yang sangat minim itu. Aku menatap langsung ke lensa kamera, membayangkan matanya ada di sana, memperhatikan setiap gerak-gerikku.
Aku melihat tubuh Aris sedikit menegang di balik kamera. Ia menurunkan kameranya, membiarkannya tergantung di tali leher, lalu menatapku langsung. Matanya yang tajam memicing, menyelidiki anomali dalam sikapku.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya pelan. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun bergema di ruangan yang sunyi.
"Memberimu rasa lapar yang kamu minta," jawabku, suaraku terdengar lebih berani dari yang kubayangkan. Aku melangkah turun dari podium, setiap gerakan terasa ringan dan sengaja. "Bukankah L’Amour tentang gairah yang tak terucapkan, Aris? Tentang apa yang ada di balik bayangan?"
Aku berjalan mendekatinya. Jarak kami kini hanya tinggal satu meter. Bau parfumnya yang maskulin—campuran antara kayu cendana dan tembakau—mulai memenuhi indra penciumanku. Aris tidak mundur. Ia justru menyilangkan tangan di depan dada, mempertahankan fasad profesionalnya yang dingin, meski aku bisa melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah.
"Kamu tahu aturannya, Maya," katanya, nada suaranya kini mengandung peringatan. "Model dan fotografer. Batas itu ada karena suatu alasan. Kontrakmu dengan L’Amour bernilai miliaran. Satu laporan dariku tentang perilaku tidak profesional, dan kariermu berakhir sebelum benar-benar dimulai."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa berbahaya bahkan bagi diriku sendiri. Aku tahu risikonya. Aku tahu satu langkah salah bisa melemparkanku kembali ke apartemen sempit dan audisi-audisi yang melelahkan. Namun, adrenalin yang mengalir di nadiku jauh lebih kuat daripada rasa takut itu.
"Lalu kenapa kamu tidak mengambil telepon dan menelepon manajemenku sekarang?" tantangku. Aku melangkah lebih dekat lagi, hingga ujung jemariku menyentuh kancing kemeja hitamnya yang paling atas. "Kenapa kamu masih di sini, sendirian denganku, di ruangan yang terkunci ini?"
Aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Aris meraih pergelangan tanganku, cengkeramannya kuat namun tidak menyakiti. Matanya berkilat antara amarah dan sesuatu yang jauh lebih gelap yang coba ia tekan.
"Maya, jangan bermain api," bisiknya tajam.
"Aku tidak sedang bermain, Aris. Aku sedang menunjukkan kepadamu siapa sebenarnya model yang kamu potret hari ini." Aku menarik tanganku dari genggamannya, namun bukannya menjauh, aku justru sedikit berjinjit, mendekatkan bibirku ke telinganya. "Aku merasa sangat... bersih sekarang. Begitu halus. Tidakkah kamu ingin tahu mengapa hasil fotoku hari ini terlihat sangat berbeda?"
Aku merasakan napas Aris memburu. Tangannya yang bebas kini berada di pinggangku, awalnya mungkin untuk mendorongku menjauh, namun jarinya justru mencengkeram kain satin di sisiku dengan erat. Batas profesionalisme yang selama ini ia jaga dengan begitu ketat mulai menunjukkan retakan kecil yang fatal.
Di saat itulah, terdengar suara langkah kaki dan tawa para asisten yang kembali dari arah lorong. Suara pintu yang terbuka dari kejauhan membuat kami berdua tersentak.
Aris segera melepaskan pinggangku dan mundur selangkah, kembali meraih kameranya dengan gerakan cepat yang terlatih. Wajahnya kembali menjadi topeng es yang tak terbaca, seolah interaksi beberapa detik lalu hanyalah halusinasi yang dipicu oleh panasnya lampu studio.
"Kembali ke posisi, Maya," perintahnya, suaranya kembali dingin dan berjarak. "Kita masih punya sepuluh *look* lagi yang harus diselesaikan sebelum malam."
Aku kembali ke podium, mengatur pose seolah tidak terjadi apa-apa saat para asisten ma**k membawa peralatan tambahan. Namun, saat lampu kilat kembali menyambar, aku melihat Aris melalui celah rambutku. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengatur fokus lensa, dan aku tahu, aku tidak lagi sekadar objek di depan kameranya.
Permainan ini baru saja dimulai, dan meski aku telah mempertaruhkan seluruh karierku di atas meja judi ini, aku tidak berniat untuk kalah. Namun, saat aku melihat kilat kemarahan yang tertahan di mata Aris saat ia memberikan instruksi berikutnya, sebuah pemikiran melintas: bagaimana jika gairah yang kubangkitkan ini bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan, melainkan sesuatu yang akan menghancurkanku sepenuhnya?
"C**up untuk hari ini," kata Aris tiba-tiba, memutus sesi pemotretan padahal masih ada beberapa baju yang belum tersentuh. Ia berbalik tanpa menatapku, berjalan menuju ruang monitor. "Maya, temui aku di kantorku sepuluh menit lagi. Ada hal serius yang perlu kita bicarakan mengenai kontrakmu."
Jantungku mencelos. Apakah aku baru saja menghancurkan segalanya?
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!