Lampu-lampu studio yang benderang terasa seperti matahari yang hanya bersinar untukku. Di tengah ruangan yang luas dan dingin itu, aku berdiri hanya dengan balutan sutra tipis dan renda transparan dari koleksi utama L’Amour. Warna biru tengah malam itu kontras dengan kulitku yang kini terasa jauh lebih sensitif, seolah-olah setiap inci permukaannya telah dipoles hingga mencapai tingkat kemurnian yang berbahaya.
Aku bisa merasakan sisa dingin dari ritual di kamar mandi semalam. Kulit di area paling pribadiku terasa asing namun membebaskan; sebuah rahasia yang tersembunyi di balik kain mahal ini, memberiku sejenis keberanian yang tajam dan tak terduga. Aku tidak lagi merasa seperti domba yang siap disembelih oleh ekspektasi industri. Aku merasa seperti pemangsa yang baru saja mengasah kuku-kukunya.
"Maya, geser bahumu sedikit ke kiri. Kau tampak kaku," suara berat Aris memecah kesunyian, bergema di antara dinding-dinding studio yang tinggi.
Aku tidak langsung menuruti perintahnya. Alih-alih menggeser bahu sesuai instruksinya, aku justru memutar tubuhku perlahan, membiarkan kain sutra itu jatuh lebih rendah di pinggulku. Aku menatap langsung ke lensa kameranya, menembus kaca hitam itu untuk menemukan mata Aris yang tersembunyi di baliknya.
"Aku tidak kaku, Aris," bisikku, suaraku c**up pelan hingga ia harus berusaha keras untuk mendengarnya melalui keheningan yang tegang. "Aku hanya sedang merasakan bahannya. Bukankah kau bilang aku harus 'menyatu' dengan L'Amour?"
Aris menurunkan kameranya sejenak. Wajahnya yang biasanya datar dan tanpa emosi kini menunjukkan kerutan tipis di dahi. Ia menatapku tanpa bantuan lensa, seolah mencari tahu apa yang berubah dariku sejak sesi pemotretan terakhir. Ia tidak tahu—ia tidak bisa tahu—tentang sensasi baru yang berdesir di balik kain itu setiap kali aku bergerak.
"Pose kedua. Duduk di kursi itu. Berikan aku sisi yang lebih... mentah," perintahnya lagi, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.
Aku melangkah menuju kursi beludru di tengah set. Setiap langkah membuat kulitku yang baru saja dic**ur bersih bergesekan lembut dengan tepi celana dalam renda itu. Sensasinya elektrik, membuat bulu kudukku meremang bukan karena dingin, tapi karena kesadaran akan tubuhku sendiri yang kini terasa begitu terekspos namun terkendali.
Aku duduk dengan kaki menyilang secara provokatif, membiarkan lengkungan tubuhku tertangkap sempurna oleh cahaya *rim light*. Aku bisa mendengar suara *klik* kamera yang cepat, ritme yang biasanya mengikuti gerakanku, tapi kali ini aku yang mendikte ritme itu. Aku sengaja melambatkan gerakan, mengulur waktu dalam setiap transisi pose, membuat Aris menunggu momen yang tepat.
"Lebih dekat," gumam Aris. Ia melangkah maju, meninggalkan tripodnya dan beralih ke kamera genggam. "Tatap aku seolah-olah kau memiliki seluruh dunia ini, Maya. Berhenti meminta izin dengan matamu."
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar asing bahkan di telingaku sendiri. "Aku sudah berhenti meminta izin sejak aku ma**k ke studio ini, Aris."
Aku mencondongkan tubuh ke depan, membiarkan rambutku jatuh menutupi sebagian wajahku, sementara tanganku merayap naik dari paha menuju pinggang. Aku bisa melihat jari-jari Aris yang memegang kamera sedikit mengencang. Ada ketegangan yang tidak terucapkan di antara kami, sebuah garis tipis yang biasanya ia jaga dengan profesionalisme yang kaku, kini mulai retak.
"Kau berbeda hari ini," ucap Aris di sela-sela bidikannya. Matanya kini tidak lagi terpaku sepenuhnya pada komposisi cahaya, melainkan pada bagaimana cahaya itu membelai kulitku.
"Mungkin aku hanya akhirnya menyadari apa yang kau inginkan," balasku sambil memberikan tatapan paling intens yang pernah kukeluarkan. "Atau mungkin, aku hanya menyadari apa yang *aku* inginkan."
Aku berdiri secara tiba-tiba, mendekatinya hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. Bau parfumnya yang beraroma kayu cendana dan tembakau memenuhi indra penciumanku, bercampur dengan aroma studio yang khas. Aris tidak mundur. Ia justru menurunkan kameranya sepenuhnya, membiarkannya tergantung di lehernya.
Di bawah lampu studio yang panas, aku bisa melihat butiran keringat halus di pelipisnya. Matanya yang tajam kini tampak gelap, penuh dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ambisi artistik.
"Kau bermain api, Maya," suaranya rendah, hampir seperti geraman.
Aku tersenyum tipis, merasa sangat berkuasa melihat pria yang selama ini kutakuti kini tampak terhuyung di tepi jurang yang kubuat sendiri. Aku mengulurkan tangan, ujung jariku nyaris menyentuh kerah kemeja hitamnya, menciptakan jarak yang begitu intim hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.
"Lalu kenapa kau tidak memadamkannya, Aris? Atau kau lebih suka melihatnya membakar kita berdua?"
Tepat saat itu, asisten studio di sudut ruangan menjatuhkan sesuatu, menciptakan suara denting logam yang keras yang memecah mantra di antara kami. Aris berkedip, seolah baru saja tersadar dari hipnotis. Ia berdehem dan melangkah mundur selangkah, kembali mengenakan topeng profesionalnya yang dingin, meski napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
"C**up untuk hari ini," katanya ketus, tanpa menatapku. "Kita lanjutkan besok untuk sesi *close-up*."
Aris berbalik dan berjalan cepat menuju meja monitor tanpa menoleh lagi. Aku berdiri sendirian di tengah lampu-lampu yang perlahan mulai dipadamkan satu per satu, merasakan detak jantungku yang mengg***. Aku telah melompati garis itu. Aku bukan lagi sekadar objek di depan lensanya; aku adalah gangguan yang tidak bisa ia abaikan.
Namun, saat aku berjalan menuju ruang ganti, sebuah pesan ma**k ke ponselku yang kutinggalkan di atas meja rias. Itu dari manajerku, tapi isinya membuat rasa kemenanganku seketika menguap.
*“Aris baru saja mengirimkan draf foto-foto awal ke klien. Ada sesuatu yang salah, Maya. Kita perlu bicara sekarang juga.”*
Aku menatap cermin, melihat pantulan wanita yang baru saja merasa tak terkalahkan, kini bertanya-tanya apakah permainan yang kumulai justru akan menjadi jerat yang mencekik leherku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!