Cahaya biru dari monitor ganda berukuran dua puluh tujuh inci itu adalah satu-satunya sumber kehidupan di dalam studio yang gelap gulita. Jam dinding di sudut ruangan sudah melewati angka dua pagi, namun Aris masih mematung di kursinya. Suasana sunyi hanya dipecah oleh dengung halus kipas CPU dan bunyi klik mouse yang ritmis. Di atas meja kayu eknya, cangkir espresso ketiga malam itu sudah mendingin, meninggalkan ampas hitam yang mencerminkan suasana hatinya: pekat dan pahit.
Aris menghela napas panjang, jemarinya bergerak lincah di atas *trackpad*, memperbesar salah satu foto dari sesi pemotretan sore tadi. Maya. Gadis itu seolah melompat keluar dari layar.
Dalam bidikan itu, Maya sedang bersandar pada pilar beton kasar, kontras dengan kelembutan sutra dari koleksi terbaru 'L'Amour' yang membalut tubuhnya. Namun, bukan kain mahal itu yang mencuri perhatian Aris. Matanya terpaku pada tatapan Mayaβtajam, menantang, sekaligus menyimpan kerentanan yang begitu dalam. Ada keberanian baru yang terpancar dari setiap pori-porinya, sebuah transformasi yang membuat Aris merasa seolah-olah ia sedang memotret orang asing, bukan lagi gadis naif yang pertama kali melangkah ma**k ke studionya.
Aris memperbesar gambar itu hingga ke tingkat seratus persen. Ia menelusuri det**l kulit Maya yang kini tampak begitu murni dan halus tanpa cela. Keputusannya untuk meminta Maya melakukan persiapan fisik ekstrem itu awalnya hanyalah tuntutan teknis demi estetika yang presisi. Namun sekarang, melihat hasilnya di layar, Aris merasa ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya. Ia bisa merasakan kembali ketegangan di udara studio tadi sore, bagaimana setiap kali Maya menggerakkan pinggulnya atau sedikit menarik tali b**-nya, napas Aris seolah tertahan di tenggorokan.
"Sial," gumamnya pelan, suaranya parau karena jarang digunakan berjam-jam.
Ia bersandar di kursi, membiarkan punggungnya yang kaku beristirahat sejenak. Aris selalu membanggakan profesionalismenya. Baginya, model adalah kanvas; cahaya adalah cat; dan kamera adalah kuasnya. Ia tidak pernah membiarkan subjeknya ma**k ke bawah kulitnya. Namun, Maya berbeda. Gadis itu tidak sekadar mengikuti arahannya; dia seolah mengerti apa yang dicari Aris sebelum Aris sempat mengucapkannya. Dia memainkan lensa seolah itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.
Jari Aris kembali bergerak, menggulir ke rangkaian foto berikutnya. Ini adalah bagian yang paling berisiko. Foto-foto di mana protokol profesionalisme mulai kabur.
Dalam satu frame, Maya sedikit membungkuk ke arah kamera, memberikan senyum tipis yang hanya bisa diartikan sebagai godaan murni. Cahaya *rim light* jatuh di lekuk tubuhnya yang sekarang tampak begitu terdefinisi, menunjukkan setiap hasil dari pengorbanan yang dilakukannya. Aris teringat bagaimana di sela-sela pemotretan, Maya menatapnya tepat di mata, tanpa rasa malu, seolah menantang Aris untuk melihat lebih jauh dari sekadar apa yang ditangkap sensor kamera.
Aris memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Sebagai fotografer utama L'Amour, tugasnya adalah memberikan hasil yang menjualβelegan, provokatif namun tetap berkelas. Tapi foto-foto di hadapannya ini melampaui batas itu. Ini bukan lagi soal pakaian dalam; ini soal keintiman yang mentah. Jika ia menyertakan foto-foto ini dalam draf akhir untuk klien, ia tahu kampanye ini akan menjadi ledakan besar. Namun, itu juga berarti membiarkan dunia melihat sisi Maya yang seharusnya hanya miliknya.
*Hanya miliknya?* Pikiran itu menghantam Aris seperti godam. Sejak kapan ia merasa memiliki subjek fotonya?
Ia meraih mouse, menyeret kursor ke folder bertajuk "OUTTAKES". Sebuah folder yang seharusnya berisi sampah visualβfoto yang terlalu gelap, terlalu goyang, atau terlalu intim untuk dikonsumsi publik. Aris memilih sepuluh foto paling provokatif dari Maya, foto-foto yang menunjukkan setiap senti kulitnya yang halus dan ekspresi gairah yang tidak tersembunyi.
Jari telunjuknya menggantung di atas tombol *Delete*.
Hapuskan semua ini, Aris. Selamatkan kariermu. Selamatkan reputasimu sebagai fotografer yang dingin dan tak tersentuh. Jangan biarkan obsesi ini menghancurkan segalanya.
Namun, matanya kembali menatap layar. Di sana, Maya tampak seperti dewi yang baru lahir dari rasa sakit dan transformasi. Keindahan yang begitu mutlak sehingga menghapusnya terasa seperti tindak kriminal terhadap seni itu sendiri. Aris merasakan detak jantungnya berpacu, adrenalin yang sama dengan saat ia pertama kali memegang kamera sepuluh tahun lalu kembali membuncah.
Ia tidak menghapus foto-foto itu. Sebaliknya, ia membuat folder baru di dalam hard drive eksternal pribadinya, menamainya dengan satu huruf saja: *M*.
Ia menyeret foto-foto paling berisiko itu ke sana, menjauhkannya dari mata klien, menjauhkannya dari mata dunia. Tapi konflik sesungguhnya baru saja dimulai. Ia masih harus memilih satu foto utama untuk sampul depan kampanye. Ada satu bidikan di mana Maya menatap kamera dengan posisi tangan yang sangat rendah, hampir menyentuh area pribadinya yang baru dic**ur, dengan sorot mata yang seolah mengatakan, *"Aku melakukan ini untukmu."*
Jika Aris menggunakan foto itu, ia akan melambungkan karier Maya sekaligus mempertaruhkan integritasnya sendiri. Jika ia tidak menggunakannya, ia mengkhianati potensi terbaik dari karya ini.
Suara notifikasi ponsel mengejutkannya di tengah keheningan. Sebuah pesan singkat ma**k.
*Maya: "Sudah lihat hasilnya, Aris? Aku tidak bisa tidur memikirkannya."*
Aris menatap layar ponselnya, lalu kembali ke layar monitor yang menampilkan wajah Maya yang memenuhi bingkai. Jemarinya gemetar saat ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar pengamat di balik lensa. Ia telah ma**k ke dalam permainan yang diciptakan Maya, dan sekarang, dialah yang terjebak dalam fokus.
Aris tidak membalas pesan itu. Ia meraih kembali mouse-nya, matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya. Ia tidak menekan tombol *Delete*. Ia justru menekan tombol *Enhance*.
"Kau ingin bermain, Maya?" bisiknya pada kegelapan studio. "Mari kita lihat sejauh mana kita bisa melangkah sebelum semuanya terbakar."
Aris mulai mengedit foto paling kontroversial itu, sengaja memperjelas det**l yang seharusnya ia samarkan, seolah-olah ia sedang sengaja menaruh bensin di atas api yang siap melalap mereka berdua. Tanpa ia sadari, tangannya mengepal di atas meja, menyadari bahwa besok pagi, saat ia menyerahkan draf ini kepada pihak L'Amour, tidak akan ada jalan kembali bagi mereka berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!