Layar iMac tiga puluh dua inci di hadapan Aris berpijar, menerangi ruangan studio yang remang-remang dengan cahaya biru yang tajam. Di sana, di atas latar belakang kain sutra berwarna gading yang jatuh meliuk, seorang wanita menatap balik ke arahku. Aku hampir tidak mengenalinya.
Wanita itu memiliki tulang pipi yang tegas, sorot mata yang lapar namun dingin, dan kulit yang tampak sehalus porselen yang baru dipoles. Lingerie dari renda hitam L’Amour melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan setiap kurva yang kini tak lagi terhalang oleh apa pun. Di sana, di area yang selama ini aku anggap sebagai privasi paling rahasia, kini terpampang sebagai sebuah karya seni yang bersih, mulus, dan provokatif.
"Kau melihatnya?" suara Aris memecah kesunyian, berat dan serak, seolah dia sendiri baru saja bangun dari trans panjang.
Aku menelan ludah, merasakan tenggorokanku kering. Aku melangkah mendekat, aroma kopi hitam dan parfum berkayu milik Aris merayap ma**k ke indra penciumanku. "Itu... aku?"
Aris memutar kursinya sedikit, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Matanya yang biasanya hanya melihat melalui lensa kamera kini membedahku secara langsung. "Secara teknis, ya. Tapi secara estetika? Ini adalah standar baru. Kau tidak hanya mengikuti arahan, Maya. Kau bertransformasi."
Aku menyentuh pinggiran meja kayu yang dingin, mencoba menyeimbangkan diri. Melihat hasil akhir kampanye ini seperti melihat versi diriku yang telah melewati api penyucian. Ritual di kamar mandi malam itu—dinginnya bilah silet, detak jantung yang memburu, dan sensasi asing yang menggelitik saat kulitku bertemu udara tanpa penghalang—semuanya terbayar di layar ini. Tidak ada lagi garis antara gadis naif yang takut akan opini orang dan model yang siap menaklukkan dunia.
"Hasilnya terlalu sempurna," bisikku, jari-jariku tanpa sadar meraba perutku sendiri di balik blus tipis yang kukenakan. Aku masih bisa merasakan kehalusan itu, sebuah rahasia yang kini menjadi konsumsi publik, atau setidaknya konsumsi bagi mereka yang mampu membeli kemewahan L’Amour.
"Kesempurnaan itu mahal, Maya. Dan kau baru saja membayarnya dengan harga penuh," Aris berdiri, tubuhnya yang jangkung menciptakan bayangan panjang yang menelanku. Dia melangkah mendekat, berhenti tepat di batas ruang pribadiku. "Banyak model yang bisa tampil te*******, tapi sangat sedikit yang bisa tampil... seberani ini. Kau menyerahkan segalanya pada kamera."
Aku mendongak, menantang tatapannya. Ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Ketakutan yang biasanya muncul saat berhadapan dengan Aris telah menguap, digantikan oleh kesadaran akan kekuatan baru. Jika aku bisa menyerahkan bagian paling intim dari diriku untuk visinya, maka akulah yang memegang kendali atas bagaimana dia melihatku.
"Bukankah itu yang kau inginkan dari awal, Aris?" tanyaku dengan nada yang lebih berani, hampir menyerupai bisikan menggoda. "Kau ingin kanvas yang kosong. Aku memberikannya padamu."
Aris menyipitkan mata. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah seringai tipis yang jarang ia tunjukkan. "Kau mulai belajar bermain, rupanya."
"Aku hanya belajar cara bertahan di duniamu," balasku sambil melangkah satu tindak lebih dekat. Aku bisa melihat pantulan diriku di pupil matanya yang gelap. "Dan sekarang setelah kampanye ini keluar, hidupku tidak akan pernah sama lagi, kan?"
Aris terdiam sejenak, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh helai rambutku, namun ia menahannya di udara. Jarak antara kami terasa bermuatan listrik, seolah ada kabel tegangan tinggi yang baru saja terkelupas.
"Tidak akan," jawabnya pelan. "Kau telah melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali. Kau bukan lagi sekadar wajah cantik di majalah. Kau adalah obsesi."
Aku merasakan getaran aneh di dadaku—campuran antara kemenangan dan kengerian. Aku telah mencapai apa yang kuinginkan: validasi mutlak dari pria yang paling sulit dipuaskan di industri ini. Namun, aku juga menyadari bahwa privasiku, rasa maluku, dan mungkin bagian dari kemanusiaanku telah tertinggal di lant** kamar mandi bersama potongan-potongan halus yang kuc**ur habis hari itu.
Aku memalingkan wajah kembali ke layar, menatap sosok 'Maya' yang baru. Dia tampak begitu berkuasa, begitu tak tersentuh. Aku menyadari bahwa mulai saat ini, hubungan kami bukan lagi sekadar fotografer dan model. Ini adalah simbiosis yang berbahaya.
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanyaku, masih menatap fotoku sendiri. "Setelah semua orang melihat ini, apa yang tersisa untuk diberikan?"
Aris melangkah ke belakangku, suaranya kini tepat di samping telingaku, mengirimkan desir dingin ke sepanjang tulang belakangku. "Kita baru saja menyentuh permukaan, Maya. Masih banyak yang bisa kita gali jika kau c**up berani untuk kehilangan lebih banyak lagi."
Aku memejamkan mata sejenak, menghirup udara studio yang dingin. Aku tahu ini adalah titik di mana aku seharusnya berhenti, berbalik, dan lari kembali ke kehidupanku yang normal. Tapi saat aku membuka mata dan melihat betapa indahnya kehancuran yang tertangkap dalam foto itu, aku tahu aku tidak akan pergi.
Aku berbalik menghadapi Aris, meletakkan tanganku di dadanya, merasakan detak jantungnya yang stabil namun kuat di bawah kemeja hitamnya. Aku bisa merasakan kekuasaan itu berpindah tangan, mengalir dari layar komputer ke ujung jari-jariku.
"Aku tidak takut kehilangan," kataku mantap, mataku mengunci matanya dengan intensitas yang membuat Aris sedikit tersentak. "Asalkan kau bisa menjamin bahwa di akhir semua ini, aku adalah satu-satunya yang kau lihat."
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, dia meraih tanganku yang ada di dadanya, mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang hampir menyakitkan, namun aku menyukainya. Di bawah lampu studio yang remang, sebuah kontrak baru yang tak tertulis telah ditandatangani di antara kami—sebuah kontrak yang jauh lebih mengikat daripada apa pun yang diberikan L’Amour.
Tiba-tiba, ponsel Aris yang terletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul di layar kunci, menampilkan nama agenku dengan pesan mendesak: *“Aris, hentikan proses cetaknya sekarang. Ada masalah dengan kontrak eksklusivitas Maya.”*
Aris melepaskan tanganku, matanya beralih ke ponsel, lalu kembali padaku dengan kilatan yang sulit dibaca. Sebuah rahasia baru baru saja mengetuk pintu, dan aku merasa pondasi yang baru saja kubangun mulai bergetar.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!