Lampu neon di kamar mandi apartemenku berdenging rendah, memancarkan cahaya putih pucat yang membuat segalanya tampak terlalu nyata. Di atas meja wastafel yang dingin, sebuah kotak kecil berwarna rose gold tergeletak terbuka. Di dalamnya, sebuah silet c**ur premium dengan lima mata pisau berkilau tajam, seolah-olah siap menghakimi keraguanku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin besar yang mulai berembun. Wajah di sana adalah wajah yang sama dengan yang kulihat selama dua puluh tahun terakhirβtulang pipi yang tinggi, mata cokelat yang selalu tampak haus akan sesuatu, dan rambut panjang yang berantakan. Namun, di balik jubah mandi satin ini, ada sebuah ekspektasi yang beratnya melebihi berat tubuhku sendiri.
"Hanya estetika, Maya. Ini demi garis pakaian dalam mereka yang paling minimalis," suara Sandra, agenku, terngiang kembali di telingaku. "LβAmour tidak menjual kain; mereka menjual siluet. Dan siluet tidak butuh... gangguan."
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang memukul-mukul rongga dadaku. Jari-jariku yang gemetar meraih botol *shaving foam*. Cairan putih itu keluar dengan bunyi *psshht* yang pelan, dingin dan beraroma lavender yang menenangkan, namun tetap saja tidak bisa meredam rasa takut yang merayap di tengkukku.
Selama ini, aku selalu membiarkan segala sesuatunya tumbuh alami. Ada semacam rasa aman dalam privasi yang tertutup itu. Namun, kontrak dengan L'Amour telah merenggut privasi itu dan menggantinya dengan tuntutan perfeksionisme. Aku melepaskan jubah mandiku, membiarkannya merosot ke lant** keramik yang dingin. Untuk pertama kalinya, aku melihat diriku sendiri dengan cara yang akan dilakukan oleh lensa kamera Aris besok: sebagai sebuah kanvas yang harus dibersihkan dari segala noda.
Aku duduk di tepi *bathtub*, menaikkan satu kaki, dan mulai mengoleskan busa putih itu. Teksturnya lembut, tapi kulitku meremang saat bersentuhan dengannya. Ada rasa ngeri yang aneh membayangkan bilah logam tajam itu akan menari di area yang begitu sensitif. Bagaimana jika tanganku terpeleset? Bagaimana jika aku berdarah dan meninggalkan bekas luka tepat di hari pemotretan paling penting dalam karierku?
"Jangan bodoh, Maya," bisikku pada kesunyian kamar mandi. "Ini hanya rambut. Ini bukan bagian dari jiwamu."
Aku menarik napas dalam-dalam, memegang gagang silet itu dengan erat. Tarikan pertama terasa begitu asing. Bunyi gesekan halus saat mata pisau memangkas helai demi helai rambut menciptakan sensasi geli yang menusuk hingga ke perut bagian bawah. Aku memejamkan mata sejenak, merasakan dinginnya logam yang menyapu kulitku.
Rasa takut itu perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa ingin tahu yang aneh. Setiap sapuan silet membawa pergi lapisan diriku yang lamaβsi gadis naif yang selalu ingin bersembunyi. Di bawah busa yang mulai luruh tersiram air, kulitku tampak berbeda. Lebih cerah, lebih terekspos, dan entah mengapa, terasa lebih berkuasa.
Aku terus bergerak dengan lebih percaya diri, mengikuti lekuk tubuhku sendiri yang selama ini jarang kujelajahi dengan saksama. Ada kepuasan aneh saat melihat permukaan kulitku menjadi semulus pualam. Ini bukan sekadar tentang estetika; ini adalah ritual. Aku sedang menguliti rasa maluku, membuang sisa-sisa masa remaja yang masih menempel, dan bersiap menjadi wanita yang diinginkan oleh industri ini.
Setelah hampir satu jam, aku berdiri kembali di depan cermin. Aku menyiram area itu dengan air dingin, membuatku terkesiap kecil. Saat aku mengeringkan diriku dengan handuk lembut, aku terpaku melihat pantulanku.
Aku merasa... kosong, tapi juga penuh secara bersamaan. Tanpa perlindungan alami itu, aku merasa sangat rentan, seolah-olah setiap emosi yang kurasakan sekarang bisa terlihat langsung dari permukaan kulitku. Namun, ada kilatan baru di mataku. Sebuah keberanian yang belum pernah ada sebelumnya. Aku menyentuh area yang sekarang halus itu dengan ujung jariku, merasakan sensasi baru yang mengirimkan gelombang listrik aneh ke seluruh tubuhku.
Aku membayangkan Aris. Aku membayangkan pria perfeksionis itu berdiri di balik kamera besok, dengan mata tajamnya yang tidak pernah melewatkan det**l sekecil apa pun. Selama ini, aku selalu merasa kecil di bawah tatapannya. Aku selalu merasa seperti murid yang takut melakukan kesalahan di depan gurunya.
Tapi sekarang, dengan transformasi ini, sesuatu dalam diriku bergeser.
Aku mengenakan kembali jubah mandiku, tapi rasanya berbeda. Gesekan kain satin pada kulitku yang baru terasa jauh lebih intens, lebih intim. Aku melangkah keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidur di mana draf kontrak LβAmour masih tergeletak.
Besok bukan hanya tentang memotret pakaian dalam mahal. Besok adalah tentang bagaimana aku akan menatap balik ke arah lensa Aris. Aku bukan lagi Maya yang bisa ia intimidasi dengan keheningannya. Aku telah menanggalkan lebih dari sekadar rambut malam ini; aku telah menanggalkan ketakutanku untuk dilihat sepenuhnya.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimutiku. Namun, pikiranku terus berlari menuju studio besok pagi. Aku bertanya-tanya, saat lampu studio yang panas itu menyentuh kulitku yang kini polos, apakah Aris akan menyadari bahwa gadis yang ia hadapi bukan lagi gadis yang sama? Dan apakah ia siap menghadapi apa yang akan kutunjukkan padanya?
Debar jantungku kini bukan lagi karena takut, melainkan karena antisipasi yang membakar. Permainan baru saja dimulai, dan untuk pertama kalinya, aku merasa memegang kendali atas taruhannya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!