Garis Tipis di Balik Lensa

Bab 3: Bab 3 - Menyelesaikan ritual menc**ur dan merasakan sen...

Pengaturan Membaca

Lampu pendar putih di kamar mandi apartemenku terasa jauh lebih terang dari biasanya, memantul di atas permukaan ubin porselen yang dingin dan steril. Di atas wastafel, sebuah pisau c**ur baru dengan bilah baja yang masih berkilau tergeletak di samping botol gel c**ur beraroma lidah buaya. Tanganku sedikit gemetar saat meraihnya.

Ini bukan sekadar urusan estetika biasa. Ini adalah tuntutan kontrak. Pihak L’Amour telah mengirimkan memo det**l tentang "persiapan kanvas"—istilah halus mereka untuk mengatakan bahwa tidak boleh ada satu helai rambut pun yang mengganggu garis jahitan *lingerie* sutra mereka yang sangat tipis.

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar yang mulai berembun. Wajah di sana tampak seperti orang asing—seorang gadis dua puluh tahun yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah bagian dari profesionalisme. Namun, ada denyut ketakutan yang merayap di tengkukku. Bagaimana jika aku terluka? Bagaimana jika tekstur kulitku berubah?

Aku menarik napas panjang, membiarkan uap air hangat memenuhi paru-paruku, lalu mulai memba**h area sensitif itu dengan air suam-suam kuku. Sensasi jemariku sendiri di sana terasa berbeda malam ini. Ada antisipasi yang ganjil, seolah-olah aku sedang melakukan ritual inisiasi menuju dunia yang lebih gelap dan lebih berkilau.

Gel putih itu menyentuh kulitku, dingin dan licin. Aku berjongkok di bawah pancuran, menciptakan ruang sempit yang hanya dihuni oleh napas dan suara air yang menderu. Perlahan, aku mengarahkan bilah silet itu. Gerakan pertamanya terasa sangat hati-hati, hampir ragu. *Sret.* Suara gesekan logam pada helai rambut terdengar begitu nyaring di telingaku.

Setiap tarikan silet membawa rasa dingin yang tajam, diikuti oleh rasa ringan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Perlahan, keraguan itu terkikis, berganti dengan rasa ingin tahu yang obsesif. Aku melihat helai-helai hitam itu hanyut terbawa air menuju lubang pembuangan, menghilang selamanya bersama dengan lapisan kenaifanku.

Satu sisi dalam diriku merasa ngeri. Aku merasa seperti sedang menelanjangi diriku lebih jauh dari sekadar melepaskan pakaian. Aku sedang menghapus perlindungan alami yang diberikan alam. Namun, sisi lain—sisi yang haus akan validasi, sisi yang ingin dipandang sempurna oleh lensa Aris—merasakan kepuasan yang aneh. Setiap kali jemariku meraba area yang kini mulai halus, ada sengatan listrik kecil yang menjalar ke perutku.

"Ini demi L'Amour," bisikku pada uap air. "Demi karirmu."

Tapi saat aku selesai dan membilas sisa-sisa busa, kata-kata itu terasa seperti kebohongan kecil. Aku tidak lagi melakukannya hanya untuk kontrak. Aku melakukannya karena aku menyukai sensasi kulit yang bersentuhan langsung dengan udara tanpa penghalang. Saat aku berdiri dan mengeringkan diriku dengan handuk mikrofiber, setiap gesekan kain terasa sepuluh kali lebih tajam, lebih intens.

Aku berdiri di depan cermin lagi, kali ini tanpa uap. Aku memiringkan tubuh, mengamati setiap inci kulit yang kini tampak begitu polos, begitu rentan, namun entah bagaimana, tampak lebih berkuasa. Aku merasa seperti patung marmer yang baru saja selesai dipahat. Tanpa sadar, jemariku bergerak, membelai permukaan kulit yang sekarang sehalus sutra itu. Rasanya asing, sangat asing, sampai-sampai membuat napas menderu pendek. Ada semacam keberanian baru yang mekar di dadaku—sebuah rahasia kecil yang hanya aku yang tahu, tersembunyi di balik jubah mandi katun ini.

Aku membayangkan tatapan Aris besok di studio. Aris, yang matanya seolah bisa menembus lapisan pakaian paling tebal sekalipun. Aris, yang tidak pernah puas dengan "c**up baik". Pria itu menuntut kesempurnaan mutlak, dan untuk pertama kalinya, aku merasa aku memiliki sesuatu yang benar-benar bisa memenuhi standar g***nya.

Aku kembali ke kamar, namun tidurnya tidak kunjung datang. Pikiranku berkelana ke studio besok. Aku membayangkan lampu-lampu sorot yang panas, aroma kopi mahal di set, dan bunyi klik kamera yang ritmis. Aku membayangkan bagaimana rasanya berdiri di sana, di bawah arahan pria yang dingin itu, dengan kulit yang begitu sensitif terhadap setiap perubahan suhu.

Tiba-tiba, rasa malu yang tadi sempat menghantuiku menguap sepenuhnya. Berganti dengan rasa haus yang berbahaya. Aku bukan lagi Maya yang hanya mengikuti perintah. Aku adalah Maya yang telah mempersiapkan dirinya menjadi sebuah mahakarya.

Aku meraih ponsel di nakas, membuka profil media sosial Aris. Foto-fotonya selalu hitam putih, dramatis, dan penuh dengan bayangan yang bercerita. Dia menangkap esensi model-modelnya seolah dia sedang menguliti jiwa mereka. Besok, dia akan mencoba melakukan hal yang sama padaku.

Namun, kali ini, aku tidak akan hanya berdiri diam. Aku ingin melihat reaksinya saat dia menyadari bahwa aku bukan lagi sekadar gadis muda yang bisa ia intimidasi dengan tatapan tajamnya. Aku ingin tahu sejauh mana ia bisa mempertahankan profesionalismenya saat aku mulai memainkan peran yang ia buat untukku—dengan sedikit improvisasi yang tidak ia duga.

Jemariku meraba permukaan halus di balik pakaian tidurku sekali lagi, memastikan setiap incinya sempurna. Besok bukan hanya tentang pemotretan dalaman. Besok adalah tentang siapa yang memegang kendali di balik lensa.

Dan aku sudah tidak sabar untuk memulai permainan itu. Namun, sebuah pertanyaan kecil menyelinap di sudut pikiranku: apakah aku benar-benar siap dengan konsekuensi jika Aris menangkap lebih dari sekadar citra fisikku? Jika dia melihat gairah yang mulai membakar ini, apakah dia akan memadamkannya, atau justru ikut terbakar bersamaku?

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca