Garis Tipis di Balik Lensa

Bab 4: Bab 4 - Tiba di studio dan bertemu Aris, fotografer yan...

Pengaturan Membaca

Lant** beton studio yang dipoles hingga meng***p itu terasa dingin, bahkan menembus sol sepatu bot yang kukenakan. Begitu melangkah ma**k, suara bising jalanan Jakarta seolah terhisap hilang, digantikan oleh dengung rendah dari mesin pendingin ruangan dan aroma kopi hitam yang tajam bercampur bau ozon dari lampu-lampu strobo.

Aku merapatkan jaket denimku, namun sensasi di balik pakaianku jauh lebih nyata daripada suhu ruangan ini. Setiap langkah yang kuambil menciptakan gesekan halus antara kain celana dalam sutra tipis dan kulitku yang kini benar-benar polos. Sensasi itu baru, asing, dan sangat sensitif. Luka kecil yang hampir tak kasat mata akibat silet semalam memberikan sengatan kecil yang justru membuatku merasa terjaga. Aku merasa seolah-olah sedang membawa sebuah rahasia besar di balik lapisan pakaian iniβ€”sebuah persiapan ekstrem demi sebuah obsesi bernama kesempurnaan.

Di ujung ruangan yang luas itu, di depan latar belakang *cyclorama* putih yang bersih, seorang pria berdiri membelakangiku. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana kargo senada. Tubuhnya tegap, dengan bahu lebar yang tampak kaku. Aris. Sang maestro yang konon bisa membuat karier seorang model melesat ke Paris atau terkubur di tumpukan majalah diskon hanya dengan satu jepretan.

"Dua menit terlambat, Maya."

Suaranya rendah, tanpa intonasi basa-basi. Ia bahkan tidak menoleh saat mengatakannya. Ia sibuk mengutak-atik kamera medium format yang terpasang di atas tripod kokoh.

Aku menelan ludah, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar memburu. "Maaf, Mas Aris. Tadi ada kendala di parkiran."

Aris berbalik. Tatapannya tidak tertuju pada mataku, melainkan memindai seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah aku bukanlah manusia, melainkan sebuah manekin yang sedang diperiksa c**** produksinya. Matanya yang tajam di balik bingkai kacamata hitam tipis itu terasa seperti mata pisau yang sedang membedah kesiapanku.

"L'Amour tidak membayar untuk alasan," ucapnya dingin. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya mantap dan penuh otoritas. "Mereka membayar untuk estetika yang tidak bercela. Kamu tahu standar mereka, kan?"

"Tahu," jawabku singkat, berusaha menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun lututku sedikit gemetar.

Aris berhenti tepat di depanku. Jarak kami hanya sekitar satu meter. Bau parfumnya yang beraroma kayu cendana dan tembakau memenuhi indra penciumanku, menciptakan kontras yang aneh dengan suasana studio yang steril. Ia menyipitkan mata, menatap garis rahangku dengan intensitas yang membuatku ingin berpaling, namun aku memaksa diriku untuk tetap menatapnya.

"Kontrakmu menyebutkan 'kanvas yang bersih'," Aris berkata dengan suara hampir berbisik, namun setiap katanya terasa berat. "Tanpa garis, tanpa bayangan yang mengganggu, tanpa... hambatan fisik. Kamu sudah melakukannya?"

Aku tahu apa yang ia maksud. Ritual yang kulakukan semalam di kamar mandi, ketakutan yang kurasakan saat bilah silet menyentuh area paling pribadiku, semuanya memuncak pada pertanyaan ini. Rasa sensitif di bawah sana seolah berdenyut saat ia menyinggung hal itu.

"Sudah," jawabku, kali ini dengan nada yang lebih berani.

Aris menaikkan satu alisnya, tampak sedikit terkejut dengan ketegasan suaraku, namun ekspresinya kembali datar dalam sekejap. Ia mengitari tubuhku, seolah sedang menilai sebuah patung dari berbagai sudut. Intimidasi yang ia pancarkan begitu kuat hingga aku merasa menjadi sangat kecil di tengah studio yang luas ini. Aku merasa seperti objek eksperimen di bawah mikroskop.

"Banyak model mengira mereka bisa menipu kamera dengan *retouching*," Aris bicara sambil berjalan kembali ke arah kameranya. "Tapi saya tidak suka membuang waktu di depan komputer hanya untuk memperbaiki kemalasan model di lapangan. Saya ingin apa yang saya lihat di lensa adalah apa yang akan dicetak. Keaslian yang dipoles."

Ia berhenti dan menatapku lagi, kali ini tepat di mata. "Jangan kecewakan saya, Maya. L'Amour adalah panggung besar. Kalau kamu merasa belum siap menjadi 'dewasa', pintu keluar masih terbuka."

Kata 'dewasa' itu keluar dari mulutnya dengan penekanan yang provokatif. Ada tantangan di sana. Seolah ia meragukan apakah aku benar-benar memiliki keberanian untuk melampaui batas model remaja yang biasanya ia tangani.

Aku merasakan panas merambat ke pipiku, namun bukan karena malu. Itu adalah percikan amarah yang bercampur dengan dorongan aneh untuk membuktikan bahwa dia salah. Perubahan fisik yang kulakukan semalam bukan hanya soal tuntutan kontrak; itu adalah komitmen.

"Saya siap, Mas Aris," kataku, kali ini dengan senyum tipis yang sengaja kubuat sedikit misterius. "Sangat siap."

Aris terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan ketertarikan yang sangat tipis di matanya, sebuah retakan kecil pada dinding esnya yang profesional.

"Kita lihat saja nanti," gumamnya sambil memutar kenop pada kameranya. "Ganti pakaianmu. Tim rias sudah menunggu di ruang sebelah. Sepuluh menit, lalu kamu harus sudah di atas set dengan koleksi pertama. Dan Maya?"

Aku yang baru saja hendak berbalik, berhenti. "Ya?"

"Jangan pakai jubah mandi saat keluar nanti. Langsung dengan pakaian dalamnya. Saya perlu melihat bagaimana cahaya jatuh di kulitmu sebelum kita mulai memotret."

Instruksinya begitu blak-blakan. Di studio ini, privasi seolah menjadi barang mewah yang tidak terjangkau. Aku mengangguk pelan, jantungku berdegup kencang. Saat aku berjalan menuju ruang ganti, aku bisa merasakan tatapan Aris masih tertuju pada punggungku.

Setiap langkahku terasa lebih ringan sekaligus lebih berat. Aku tahu bahwa sebentar lagi, tidak akan ada lagi yang bisa kusembunyikan. Di bawah lampu-lampu yang menyilaukan itu, aku akan berdiri hampir te******* di depan pria dingin ini, membiarkan matanyaβ€”dan lensanyaβ€”menjelajahi setiap jengkal transformasi yang telah kulakukan.

Ketakutan itu masih ada, namun di baliknya, sebuah gairah baru mulai tumbuh. Gairah untuk dilihat, untuk diinginkan, dan untuk memegang kendali di atas panggung yang ia pimpin. Saat aku menyentuh gagang pintu ruang ganti, aku menyadari satu hal: permainan ini baru saja dimulai, dan aku tidak berniat untuk kalah.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca