Lampu neon di dalam ruang ganti itu berdengung rendah, seolah-olah ikut merasakan kegugupan yang merambat di bawah permukaan kulitku. Aku berdiri sendirian di depan cermin besar berbingkai lampu-lampu bulat yang menyilaukan. Di hadapanku, tersampir di atas maneken beludru hitam, adalah sepotong kain yang oleh jenama L’Amour disebut sebagai 'pakaian dalam'. Bagiku, itu lebih tampak seperti jalinan benang sutra tipis yang nyaris tak kasatmata.
Tanganku sedikit gemetar saat meraih *thong* berbahan renda premium berwarna *burgundy* gelap itu. Teksturnya begitu halus, namun di jemariku yang mendadak sensitif, kain itu terasa seperti sengatan listrik kecil. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang memukul-mukul rongga dadaku, lalu mulai melangkah ma**k ke dalam potongan kain tersebut.
Seketika itu juga, duniaku seolah bergeser.
Efek dari ritual yang kulakukan semalam di kamar mandi—setiap inci bulu yang telah hilang—kini memberikan sensasi yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Saat kain sutra itu ditarik ke atas, melewati pangkal pahaku, aku tersentak pelan. Tidak ada lagi lapisan pelindung alami yang biasanya meredam gesekan. Sekarang, hanya ada kulit bertemu kain.
Permukaan renda yang rumit itu terasa sangat tajam dan presisi saat menyentuh area yang kini benar-benar polos. Setiap helai benangnya seolah memetakan saraf-saraf baru yang selama ini tertidur. Aku merasa begitu... terbuka. Begitu terekspos. Dinginnya udara dari pendingin ruangan yang menyusup ke sela-sela kain terasa seperti ribuan jarum es yang menggelitik lembut, membuat bulu kuduk di lenganku meremang.
Aku berpegangan pada tepi meja rias, mencoba mengatur napas yang mendadak pendek. Rasanya aneh. Ada sensasi perih yang samar, namun bercampur dengan kehalusan yang adiktif. Setiap kali aku bergeser sedikit saja, kain itu bergesekan dengan kulit sensitifku, mengirimkan sinyal aneh ke otakku—sebuah pengingat konstan bahwa aku telah berubah.
"Maya? Kamu sudah siap? Aris tidak suka menunggu." Suara ketukan di pintu mengejutkanku. Itu suara Citra, asisten produksi.
"S-sebentar lagi, Citra!" sahutku, suaranya sedikit parau.
Aku segera meraih b** yang serasi—hanya dua segitiga tipis tanpa busa yang disatukan oleh kaitan emas kecil. Saat aku mengenakannya, kulit dadaku pun terasa sangat responsif. Kain itu terasa seperti kulit kedua, namun lebih provokatif. Aku menatap bayanganku di cermin. Gadis di sana tampak sama, namun matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Ada kilat keberanian yang lahir dari rasa rentan yang ekstrem ini.
Aku memutar tubuh, memerhatikan bagaimana pakaian dalam itu nyaris tidak menutupi apa pun. Area yang kemarin masih menjadi rahasia pribadiku, kini hanya dibatasi oleh sehelai benang sutra yang setiap gesekannya membuatku ingin memejamkan mata. Aku merasa lebih kecil, namun entah bagaimana, lebih kuat.
Dengan tangan yang masih sedikit lembap karena keringat dingin, aku mengenakan jubah sutra panjang transparan di atasnya. Jubah itu tidak banyak menolong untuk menyembunyikan apa pun, tapi setidaknya memberiku sedikit perasaan aman sebelum melangkah keluar.
Aku membuka pintu ruang ganti. Koridor studio itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah yang kuambil adalah siksaan sekaligus kenikmatan baru; cara pahaku bersentuhan tanpa penghalang, cara kain renda itu bergeser mengikuti gerak panggulku. Aku merasa seolah-olah setiap orang yang melewatiku bisa melihat transformasi yang baru saja kualami, seolah-olah kulitku yang kini mulus sempurna itu memancarkan aura yang berbeda.
Langkahku terhenti di ambang pintu studio utama. Ruangan itu luas, gelap di bagian pinggir, namun bermandikan cahaya terang di tengahnya—panggungku. Di sana, Aris sedang sibuk memeriksa kamera *medium format*-nya. Ia tidak menoleh, tapi kehadirannya memenuhi ruangan itu dengan otoritas yang mengintimidasi.
"Maya, ma**klah," perintahnya tanpa mengalihkan pandangan dari lensa. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang sunyi itu.
Aku melangkah maju, ma**k ke bawah sorotan lampu *softbox* yang hangat. Rasa hangat itu menerpa kulitku, kontras dengan dinginnya AC sebelumnya. Aku bisa merasakan sensasi berdenyut di area pribadiku yang terus bergesekan dengan kain renda itu setiap kali aku melangkah.
Aris akhirnya mendongak. Ia meletakkan kameranya, lalu menyilangkan lengan di depan dada. Matanya yang tajam dan dingin mulai memindai penampilanku, dari ujung kaki hingga ke wajahku. Tatapannya berhenti sejenak di bagian pinggangku, tempat jubah sutra itu tersingkap sedikit, memperlihatkan garis tipis pakaian dalam *burgundy* itu.
Aku menahan napas, menunggu penilaiannya. Jantungku berpacu begitu kencang sampai aku yakin Aris bisa mendengarnya.
"Lepaskan jubahnya," katanya pendek. Tidak ada emosi dalam suaranya, hanya tuntutan profesionalisme.
Tanganku bergerak ke simpul tali sutra di pinggangku. Jariku gemetar hebat. Saat simpul itu terlepas dan jubah itu meluncur jatuh ke lant** studio yang dingin, aku merasa seolah-olah seluruh duniaku baru saja dilucuti. Aku berdiri di sana, hampir sepenuhnya tanpa busana di bawah tatapan pria paling perfeksionis di industri ini, dengan setiap jengkal kulitku yang baru dic**ur terasa terbakar oleh cahaya lampu dan gesekan renda yang kini terasa semakin intim.
Aris terdiam. Matanya yang biasanya hanya melihat komposisi dan pencahayaan, kini tampak terpaku pada sesuatu yang lain. Untuk pertama kalinya, aku melihat celah dalam topeng profesionalnya. Pupil matanya melebar, dan ada jeda yang terlalu lama sebelum ia kembali meraih kameranya.
"Posisi pertama," gumamnya, namun suaranya kali ini tidak sedingin tadi. Ada sedikit serak yang tertahan di sana, sebuah nada yang membuat perutku mulas oleh kombinasi rasa takut dan gairah yang tak terduga.
Aku tahu, mulai detik ini, tidak ada jalan untuk kembali. Garis tipis itu sudah kulewati.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!