Sutra dingin dari jubah mandi L’Amour menyentuh kulitku, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar bisa merasakan setiap serat kainnya. Tanpa lapisan pelindung alami yang biasanya ada di sana, sensasinya hampir mengejutkan—seperti sengatan listrik halus yang merambat dari pangkal paha hingga ke tulang belakang setiap kali aku melangkah. Ruang ganti yang biasanya terasa pengap kini dipenuhi oleh udara AC yang terasa tajam dan provokatif di atas permukaan kulitku yang baru saja terbuka.
Aku berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan diriku. Wajahku masih sama, tapi ada sesuatu di mataku yang tidak lagi naif. Aku menyesuaikan posisi tali b** renda hitam yang nyaris tidak menutupi apa pun, lalu membiarkan jubah mandi itu merosot jatuh ke lant**.
"Maya? Aris sudah siap di set. Lima menit lagi," suara Sarah, asisten produksi, terdengar dari balik tirai.
"Aku keluar sekarang," jawabku. Suaraku terdengar lebih dalam, lebih mantap dari biasanya.
Saat aku melangkah keluar menuju studio utama, keheningan seolah menyambutku. Lampu-lampu *strobe* yang besar berdiri tegak seperti prajurit, dan lant** studio yang dingin mengirimkan sensasi geli yang familiar ke telapak kakiku. Aris sedang berdiri di balik kamera, mengutak-atik tripod dengan ekspresi datar yang sudah menjadi ciri khasnya. Dia tidak menoleh, setidaknya tidak sampai aku berdiri tepat di tengah-tengah *backdrop* putih yang bersih.
"Posisi awal, Maya. Ingat, ini bukan katalog baju tidur biasa. Ini tentang otoritas atas tubuhmu sendiri," ucap Aris tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Aku menarik napas panjang. Biasanya, instruksi itu akan membuatku gugup. Aku akan sibuk memikirkan apakah perutku terlihat buncit atau apakah sudut rahangku sudah c**up tajam. Namun hari ini, fokusku teralihkan oleh gesekan celana dalam berbahan *lace* yang sangat tipis terhadap area sensitif yang baru saja kusentuh dengan silet semalam. Setiap kali aku menggeser berat badanku, sensasi gesekan itu memicu lonjakan adrenalin yang aneh.
Aku tidak menunggu aba-abanya. Aku merebahkan diri di atas kursi *chaise-longue* beludru yang telah disiapkan. Aku membiarkan kakiku terbuka sedikit lebih lebar dari yang biasanya aku berani lakukan, membiarkan kain renda itu bekerja dengan kulitku. Aku memejamkan mata sejenak, meresapi sensasi "te*******" yang menghantui setiap gerakanku.
*Klik. Klik.*
Suara rana kamera mulai bekerja. Aku membuka mata dan menatap langsung ke lensa, membayangkan Aris ada di sana, melihat apa yang kurasakan.
"Bagus. Tahan di situ," gumam Aris. Ada nada sedikit terkejut dalam suaranya yang biasanya monoton.
Aku mulai bergerak mengikuti insting tubuhku. Aku melengkungkan punggung, merasakan setiap inci kulit punggungku menyentuh beludru kursi yang kasar namun lembut. Aku tidak lagi memikirkan pose; aku hanya bereaksi terhadap rangsangan fisik yang sedang kualami. Sensitivitas yang luar biasa ini memberiku kekuatan—seolah-olah aku memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di ruangan ini, sebuah rahasia yang membuatku merasa tak terkalahkan.
Namun, di sudut mataku, aku melihat Sarah berbisik pada penata rias di pinggir set. Mereka saling bertukar pandang, lalu kembali menatapku dengan kening berkerut.
"Ada yang aneh dengan Maya hari ini," bisik Sarah, c**up keras untuk ditangkap telingaku di tengah kesunyian studio. "Dia biasanya... lebih penurut. Sekarang dia terlihat seperti ingin memakan kamera."
"Atau memakan Aris," sahut penata rias itu dengan tawa kecil yang sinis.
Aku mendengarnya, tapi anehnya, aku tidak peduli. Validasi yang biasanya kucari dari senyum ramah mereka kini terasa tidak berarti dibandingkan dengan tatapan intens Aris di balik lensanya. Aris berhenti memotret sejenak, menurunkan kameranya, dan menatapku langsung. Matanya yang tajam seolah sedang membedah setiap inci keberanian yang baru saja kutunjukkan.
"Kau berbeda, Maya," katanya datar. "Terlalu agresif untuk konsep awal."
"Bukankah L’Amour tentang keinginan?" tantangku sambil duduk tegak, membiarkan satu tali b** merosot turun ke bahuku secara sengaja. Aku bisa merasakan detak jantungku berpacu di area yang baru saja kuc**ur, sebuah denyut yang membuat seluruh tubuhku terasa hangat. "Aku hanya memberikan apa yang diminta kontrak. Kesempurnaan. Dan keberanian."
Suasana di set mendadak berubah. Udara terasa lebih berat, dipenuhi oleh ketegangan yang tidak kasat mata. Para kru yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing kini terdiam, memperhatikan interaksi kami. Mereka terbiasa melihat model yang mengikuti instruksi fotografer seperti boneka, bukan model yang balik menantang sang maestro.
Aris tidak marah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat. Dia kembali menempelkan matanya pada *viewfinder*.
"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh keberanianmu itu bisa membawamu," tantangnya balik. "Sarah, matikan lampu utama. Gunakan *rim light* saja. Aku ingin melihat bayangan, bukan sekadar kulit."
Lampu studio meredup, menyisakan cahaya remang yang hanya membingkai siluet tubuhku. Di bawah cahaya yang minim itu, aku merasa semakin berani. Aku bisa merasakan tatapan Aris yang kini tidak lagi hanya bersifat profesional; ada percikan obsesi yang mulai menyala di sana. Aku tahu aku sedang bermain api, mengaburkan batas yang seharusnya tidak kuseberangi.
Saat aku bergerak lebih dekat ke arah kamera, hampir ma**k ke ruang pribadi Aris, aku membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengarnya di sela suara rana yang berisik.
"Lihat lebih dekat, Aris. Jangan hanya lewat lensa."
Aris membeku. Jarinya berhenti di atas tombol rana. Untuk sesaat, hanya ada suara napas kami yang saling memburu di kegelapan studio, sementara di belakang sana, bisik-bisik para staf mulai berubah menjadi suasana penuh kecurigaan yang mencekam. Aku tahu, setelah hari ini, tidak akan ada yang sama lagi—baik karierku, maupun cara Aris menatapku. Namun, sensasi di bawah kulitku mengatakan bahwa ini barulah permulaan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!