Lensa Canon 85mm di tanganku terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah seluruh ekspektasi dari jenama L’Amour tertumpu pada bidikan sore ini. Aku mengatur *shutter speed*, mengabaikan dengung pendingin ruangan yang berjuang melawan panas dari lampu-lampu studio berkekuatan ribuan watt. Bagiku, studio ini adalah gereja; tempat di mana kesempurnaan dikonstruksi dan c**** disingkirkan tanpa ampun.
"Maya, ma**k ke set," suaraku bergema, datar dan dingin seperti biasa.
Aku tidak menoleh sampai aku mendengar deru napas halus di dekat kursi tinggi berbahan beludru merah tua itu. Saat aku mengangkat pandangan dari layar monitor, ada sesuatu yang menghentakkan kesadaranku. Maya berdiri di sana, hanya berbalut setelan dalaman renda hitam yang begitu tipis hingga tampak seperti jaring laba-laba yang memerangkap kulitnya.
Biasanya, model di tahap ini akan menunjukkan sedikit kegugupan—sedikit tarikan di bahu atau gerakan reflek menutupi bagian tubuh. Namun, Maya yang berdiri di depanku hari ini adalah orang yang berbeda. Ada garis punggung yang lebih tegak, dagu yang terangkat dengan kemiringan yang menantang, dan yang paling mencolok: aura keheningan yang tajam.
"Siap, Aris?" tanyanya. Suaranya rendah, tidak lagi terdengar seperti gadis naif yang mencemaskan sudut bibirnya di pemotretan bulan lalu.
Aku berdeham kecil, menyesuaikan fokus pada lensa. "Duduk. Beri aku pose tiga perempat. Ingat, ini L’Amour. Aku ingin kemewahan yang liar, bukan kepolosan."
Maya bergerak. Dan di situlah duniaku sedikit bergeser. Saat dia menyilangkan kakinya yang jenjang, aku melihat hasil dari ritual yang tertulis di kontraknya. Kulitnya di bawah sana tampak begitu bersih, halus, dan memantulkan cahaya lampu studio dengan cara yang... provokatif. Tanpa sehelai rambut pun, garis-garis tubuhnya menjadi sangat geometris, murni, dan jujur.
*Klik.*
Satu foto tertangkap. Aku mengerutkan kening. Komposisinya sempurna, tapi ada sesuatu yang menggangguku.
"Bahu kirimu terlalu kaku," tegurku, mencoba mengembalikan kontrol yang biasanya aku pegang dengan penuh otoritas. "Jangan terlihat seperti sedang menunggu instruksi. Kau adalah pemilik ruangan ini."
Maya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru memiringkan kepalanya, membiarkan rambut cokelat gelapnya jatuh menjunt** di satu sisi lehernya yang jenjang. Dia menatap langsung ke dalam lensa. Bukan menatap kamera, tapi seolah-olah dia menatap mataku yang berada di balik lubang bidik.
Jantungku berdegup sekali, keras. Aku menyesuaikan *focal point* tepat pada iris matanya. Di sana, aku tidak menemukan ketakutan. Aku menemukan sejenis api yang menantangku untuk mendekat.
"Begini?" tanyanya pelan. Dia menggeser pinggulnya sedikit ke depan, sebuah gerakan yang sangat halus namun drastis mengubah bagaimana bayangan jatuh di lekuk tubuhnya.
Aku menahan napas. "Tahan di situ."
*Klik. Klik. Klik.*
Cahaya *flash* yang meledak berkali-kali seolah menjadi detak jantung baru di ruangan itu. Aku mulai bergerak mengitari set, mencari sudut-sudut mustahil yang biasanya hanya bisa dicapai oleh model papan atas. Maya mengikuti setiap gerakanku tanpa perlu diperintah. Dia seolah bisa membaca ke mana lensa ini akan membidik.
Namun, semakin aku mencari kesempurnaan visual, semakin aku teralihkan oleh intensitas yang dia pancarkan. Saat aku berjongkok untuk mengambil sudut rendah, Maya mencondongkan tubuhnya ke arahku. Jarak kami sekarang hanya terpisahkan oleh tripod dan sepotong besi kamera. Aku bisa mencium aroma vanila dan sabun antiseptik yang samar dari kulitnya—sebuah kontradiksi yang aneh.
"Aris," bisiknya, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan kru di belakang *reflector*. "Kau mencari apa di balik lensa itu? Keindahan, atau sesuatu yang lain?"
Tanganku yang memegang *shutter* sempat goyah. Itu adalah pelanggaran protokol. Model tidak seharusnya berbicara dengan nada seperti itu saat pemotretan sedang berlangsung. Aku seharusnya memarahinya, menyuruhnya kembali fokus. Tapi kata-kataku tertahan di tenggorokan.
Aku menurunkan kamera dari wajahku, membiarkan mata kami bertemu secara langsung tanpa perantara kaca dan sensor digital. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun karierku, aku merasa te******* di depan subjekku sendiri.
"Aku mencari kejujuran, Maya," jawabku, suaraku sedikit lebih parau dari yang kuinginkan. "Dan kau memberikan sesuatu yang... berbahaya."
Maya tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya diketahui oleh wanita yang baru saja menyadari kekuatan penuh dari tubuhnya sendiri. Dia mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh tepian lensa kameraku dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian.
"Bukankah itu yang kau inginkan dari kontrak ini?" tantangnya. Matanya berkilat, nakal dan berkuasa. "Kesempurnaan yang melampaui batas?"
Aku menelan ludah, merasakan peluh dingin mulai merayap di tengkukku. Profesionalisme yang selama ini menjadi perisai bajaku mulai retak. Aku tahu aku harus mundur satu langkah, menginstruksikan asisten untuk mengganti latar belakang, atau setidaknya memutus kontak mata yang menyesakkan ini.
Tapi tanganku justru kembali mengangkat kamera. Aku tidak ingin berhenti. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa menarikku ke dalam permainannya.
"Berbaringlah di atas beludru itu," perintahku, suaraku kini sepenuhnya dikendalikan oleh insting primitif yang tak ingin aku akui. "Buka sedikit kakimu. Tunjukkan padaku bahwa kau tidak memiliki rahasia lagi untuk disembunyikan."
Maya mematuhinya dengan kelenturan yang mematikan. Saat dia merebahkan diri dan menatapku dengan tatapan yang bisa menghancurkan karier pria mana pun, aku menyadari satu hal: di studio ini, bukan lagi aku yang memegang kendali atas cahayanya. Maya-lah yang kini menentukan di mana bayangan itu akan jatuh.
Tanganku kembali menekan tombol *shutter*, tapi kali ini, bukan lagi sekadar pekerjaan. Setiap kilatan lampu terasa seperti percikan api yang menyambar bensin yang baru saja ia tumpahkan di antara kami. Aku tahu, jika aku tidak berhenti sekarang, garis tipis profesionalisme ini tidak hanya akan memudar—ia akan terbakar habis.
Dan saat Maya perlahan menarik tali tipis di bahunya, aku tahu aku tidak akan menyuruhnya berhenti.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!