Lampu-lampu studio yang terpasang di langit-langit memancarkan panas yang mulai membuat kulitku lembap oleh keringat tipis. Di tengah set yang didesain menyerupai kamar tidur barok yang megah, aku berdiri hanya dengan balutan set dalaman sutra berwarna merah marun dari koleksi terbaru LβAmour. Renda-rendanya yang halus terasa menggelitik di atas kulit perutku, namun fokusku bukan pada pakaian itu. Fokusku sepenuhnya tertuju pada lensa kamera hitam besar yang diarahkan Aris padaku.
"Maya, dagu sedikit ke bawah. Beri aku tatapan yang lembut, *vulnerable*. Bayangkan kau sedang menunggu seseorang yang kau cint**, tapi kau ragu apakah dia akan datang," instruksi Aris dengan nada datar, nyaris tanpa emosi.
Aku mengatur napas. Biasanya, aku akan segera mematuhi setiap patah katanya seperti boneka yang patuh. Tapi hari ini, sensasi halus dan dingin di antara pangkal pahakuβhasil dari ritual silet yang kulakukan semalamβmemberiku sejenis keberanian yang asing. Aku merasa lebih ringan, lebih terekspos, namun entah bagaimana, lebih berkuasa.
Aku tidak menundukkan dagu. Sebaliknya, aku mengangkatnya tinggi-tinggi. Aku menarik napas panjang, membiarkan dadaku membusung dan bahuku tegak. Alih-alih memberikan tatapan ragu yang ia minta, aku menatap langsung ke dalam lensa kameranya dengan sorot mata yang penuh tantangan, mungkin sedikit predator.
Klik. Klik. Klik.
"Maya, aku bilang lembut. Kau terlalu keras. Ubah posisimu, miring ke kiri, tutup sedikit kakimu," tegur Aris. Ia menurunkan kamera sejenak, menatapku dengan kening berkerut.
Aku justru melakukan hal sebaliknya. Aku sengaja menggeser berat tubuhku ke kanan, membuka kaki sedikit lebih lebar, menunjukkan garis pinggulku yang kini tampak sempurna tanpa sehelai rambut pun yang mengganggu estetika kain mahal yang kukenakan. Aku bisa merasakan Aris menahan napas. Ada jeda tiga detik di mana ruangan itu terasa sunyi senyap, meski ada kru yang sibuk di sudut ruangan.
"C**up," suara Aris tiba-tiba meninggi, memecah kesunyian. "Semua orang, istirahat sepuluh menit. Maya, ikut aku ke ruang ganti sekarang."
Aku tidak memprotes. Dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, aku berjalan melewati para asisten yang menatapku dengan bingung. Aku ma**k ke ruang ganti yang sempit, hanya dibatasi oleh tirai beludru tebal dan cermin-cermin besar dengan lampu-lampu bulat yang menyilaukan.
Belum sempat aku berbalik sepenuhnya, Aris sudah menyusul ma**k. Ia menutup tirai dengan sentakan keras, mengunci kami dalam ruang sempit yang kini terasa menyesakkan karena aroma parfum maskulinnya yang tajam bercampur dengan bau kayu-kayuan.
"Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya. Suaranya rendah, bergetar karena kemarahan yang tertahan.
Aku bersandar pada meja rias, membiarkan jemariku menelusuri pinggiran meja yang dingin. "Aku hanya memberikan apa yang menurutku terlihat bagus, Aris. Bukankah kau ingin kejujuran di depan kamera?"
"Aku fotografernya di sini, Maya. Aku yang menentukan arah artistiknya. Kau melanggar instruksiku di depan semua orang. Kau ingin terlihat seperti amatiran yang mencari perhatian?" Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa melihat urat nadi yang berdenyut di pelipisnya.
Aku mendongak, tidak gentar sedikit pun. "Atau mungkin kau hanya takut karena kau tidak bisa mengendalikan apa yang kau lihat?"
Wajah Aris mengeras. Matanya menyapu tubuhku, turun ke arah di mana kain merah marun itu membalutku dengan sangat minim. Aku tahu apa yang ia cari. Ia mencari bukti dari transformasi yang ia tuntut dalam kontrak, dan ketika matanya mendarat di area yang kini mulus sempurna itu, pupil matanya melebar.
Keheningan di antara kami mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar kemarahan profesional. Udara di ruang ganti seolah tersedot keluar. Aku bisa mendengar deru napasnya yang mulai tidak teratur. Jarak kami sangat dekat hingga panas tubuhnya merambat ke kulitku yang terbuka.
Aris mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh bahuku untuk menekankan poinnya, tapi jemarinya berhenti hanya beberapa sentimeter dari kulitku. Ia ragu. Dan dalam keraguan itu, aku merasa menang.
"Kau berbeda hari ini," bisiknya, hampir seperti pengakuan dosa.
"Dunia ini tentang garis tipis, Aris. Kau sendiri yang mengatakannya padaku saat pertama kali kita bertemu," balasku, suaraku nyaris berbisik di depan bibirnya. "Garis antara estetika dan obsesi. Antara instruksi dan... godaan."
Aku melangkah satu senti lebih dekat, menantangnya untuk memundurkan langkah atau justru melanggarnya sekalian. Tanganku yang dingin menyentuh pergelangan tangannya, menuntun tangannya yang masih menggantung di udara untuk mendekat ke arah pinggangku.
"Apakah kau masih ingin aku bersikap lembut?" tanyaku dengan nada yang sengaja merendah, memancing reaksi darinya.
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencengkeram pinggangku dengan tiba-tiba, tarikan napasnya terdengar tajam di telingaku. Matanya yang biasanya dingin dan analitis kini berkilat dengan sesuatu yang jauh lebih gelap, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di balik lensa kameranya. Di ruang sempit ini, batas profesional yang ia bangun dengan susah payah mulai retak, dan aku bisa merasakan retakan itu tepat di bawah telapak tanganku.
"Kau tidak tahu apa yang kau mulai, Maya," geramnya tepat di depan wajahku, napasnya terasa panas menyapu kulit pipiku.
Suara asisten yang memanggil nama Aris dari luar tirai membuat kami berdua tersentak, namun Aris tidak melepaskan cengkeramannya pada pinggangku. Justru, ia mempereratnya, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus melepaskanku kembali ke lampu studio atau tetap mengurungku di sini, dalam kegelapan yang penuh rahasia ini. Aku tahu, setelah pintu ini terbuka kembali, tidak akan ada yang sama lagi di antara kami.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!