Suara derit kipas angin plafon yang berputar lesu menjadi satu-satunya melodi di Kamar 304 sore itu. Tita menatap tumpukan buku teks Psikologi Perkembangan di hadapannya, namun fokusnya buyar total. Jemarinya yang ramping terus memainkan ujung pulpen, sementara kakinya sesekali bergeser tidak nyaman di atas kursi kayu asrama yang keras. Ada rasa gatal yang samar, sebuah sensasi menggelitik yang mengganggu di balik lapisan pakaian dalamnya, membuat konsentrasinya buyar setiap kali ia mencoba membaca satu paragraf saja.
Ia melirik ke arah cermin kecil di atas meja belajarnya. Pantulan wajahnya menunjukkan gurat kelelahan yang nyata. Rambut hitamnya diikat simpul asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang menempel di leher karena keringat. Tita selalu membanggakan dirinya sebagai orang yang perfeksionis. Catatan kuliahnya disusun berdasarkan kode warna, skincare-nya berjejer rapi sesuai urutan pemakaian, bahkan lipatan bajunya di dalam lemari memiliki presisi yang hampir obsesif. Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuatnya merasa "berantakan"βsesuatu yang tersembunyi di balik jins ketat yang ia kenakan.
"Ti, lo denger nggak sih gue ngomong apa?"
Suara riang Mira memecah keheningan. Sahabat sekaligus teman sekamarnya itu tengah berbaring telungkup di atas ka**r, kakinya berayun-ayun di udara sambil sibuk menatap layar ponsel.
Tita tersentak, pulpennya terjatuh ke lant**. "Eh, sori, Mir. Kenapa?"
Mira membalikkan tubuhnya, menatap Tita dengan mata bulatnya yang penuh selidik. "Lo aneh banget dari tadi. Cemas gitu. Ada tugas yang belum kelar? Atau lo lagi mikirin cowok dari fakultas teknik yang kemarin nyapa lo di kantin?"
Tita memaksakan tawa kecil, membungkuk untuk mengambil pulpennya. "Nggak, bukan itu. Cuma... gerah banget hari ini."
"Gerah atau risih?" Mira bangkit duduk, menyilangkan kakinya. Ia menyibak rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap, ekspresinya berubah menjadi lebih lembut. "Lo dari tadi geser-geser duduk mulu kayak orang lagi bisulan. Ada apa sih?"
Tita menggigit bibir bawahnya. Inilah kelemahannya. Ia ingin menceritakan segalanya pada Mira, satu-satunya orang yang paling dekat dengannya sejak mereka menginjakkan kaki di asrama ini tiga bulan lalu. Tapi, membicarakan hal yang begitu privat terasa seperti melanggar batas yang ia bangun sendiri. Ia takut dianggap aneh, atau lebih buruk lagi, dianggap terlalu berlebihan dalam mengurusi hal-hal kecil.
"Sebenarnya..." Tita memulai dengan suara nyaris berbisik. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Gue merasa... nggak nyaman di 'bawah' sana."
Mira mengangkat alisnya, tidak terlihat terkejut sama sekali. "Nggak nyaman gimana? Keputihan? Atau gatal?"
Pipi Tita merona merah seketika. "Bukan! Maksudnya... itu... rambutnya. Kayaknya udah terlalu lebat dan gue nggak tahu cara ngerapiinnya tanpa bikin iritasi. Terakhir kali gue coba pakai alat c**ur biasa, hasilnya malah perih dan tumbuh makin kasar. Gue merasa kotor, Mir. Kayak nggak terawat."
Kalimat itu meluncur begitu saja, melepaskan beban yang selama seminggu ini mengendap di dadanya. Tita menunduk, tidak berani menatap reaksi Mira. Ia membayangkan Mira akan tertawa atau menganggapnya konyol karena terlalu memusingkan hal sesepele pertumbuhan rambut tubuh.
Namun, yang terdengar justru helaan napas simpati. Mira turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat, lalu duduk di tepi meja Tita. "Ti, lihat gue."
Tita mendongak perlahan.
"Itu normal banget, sayang. Kita semua ngalamin itu. Apalagi kalau lo tipikal yang suka semuanya harus bersih dan rapi kayak gini," kata Mira sambil menunjuk meja belajar Tita yang tertata sempurna. "Gue juga dulu gitu. Kalau dibiarin memang bikin gerah, apalagi kita sering pakai jins ketat seharian di kampus."
"Tapi gue takut mau coba lagi," aku Tita jujur. "Gue nggak bisa lihat dengan jelas kalau ngerjain sendiri, dan kalau pakai krim perontok, kulit gue sensitif banget."
Mira terdiam sejenak, menatap Tita dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keheningan yang tiba-tiba terasa tebal di antara mereka, hanya diiringi suara putaran kipas angin yang semakin lambat. Cahaya matahari sore yang mulai menguning ma**k melalui celah gorden, memberikan semu hangat pada kulit mereka.
"Gue bisa bantu," ucap Mira tiba-tiba. Suaranya rendah, namun tegas.
Tita mengerutkan kening. "Bantu? Maksudnya?"
"Gue punya *trimmer* khusus yang lembut buat kulit sensitif. Dan kalau lo mau... gue bisa bantu lo ngerapiinnya. Supaya nggak iritasi dan hasilnya bener-bener bersih sesuai kemauan lo."
Jantung Tita berdegup kencang secara aneh. Pikiran tentang Mira berada begitu dekat dengan bagian tubuhnya yang paling privat mengirimkan gelombang kegelisahan yang berbeda ke seluruh syarafnya. Bukan rasa malu yang sama seperti tadi, melainkan sesuatu yang lebih tajam, sesuatu yang membuatnya merasa te******* bahkan sebelum sehelai benang pun dilepaskan.
"Mir, itu... apa nggak aneh?" tanya Tita, suaranya gemetar.
Mira tersenyum tenang, sebuah senyum yang tampak begitu tulus namun entah kenapa membuat perut Tita terasa melilit. "Kita kan sahabat, Ti. Di asrama ini, siapa lagi yang bisa kita percaya kalau bukan satu sama lain? Anggap aja ini bagian dari perawatan diri. *Self-care* bareng."
Tita memandang pintu kamar mereka yang tertutup rapat, lalu kembali menatap Mira yang masih menunggu jawabannya. Ketelitian dan sifat perfeksionis Tita bergejolak; ia ingin perasaan "bersih" itu, ia ingin ketidaknyamanan ini hilang. Namun, di balik itu, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh, sebuah pintu yang baru saja diketuk dan ia tidak tahu apakah ia siap untuk membukanya.
"Sekarang?" tanya Tita hampir tanpa suara.
Mira berdiri, lalu berjalan menuju pintu dan memutar kunci. Suara *klik* yang dihasilkan terdengar begitu final di telinga Tita.
"Sekarang," jawab Mira sambil berbalik, matanya mengunci pandangan Tita. "Nggak akan ada yang ma**k. Cuma kita berdua."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!