Udara di dalam Kamar 304 terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh muatan listrik yang siap meledak kapan saja. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, berdegup kencang di balik tulang rusuk, senada dengan bunyi detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu keras. Di hadapanku, Tita masih mematung. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar saat memegang botol losion, sebuah benda remeh yang mendadak terasa seperti artefak sakral di antara kami.
Aku memperhatikannya dari sudut mataku. Lampu meja yang temaram menyepuh profil wajahnya dengan cahaya kekuningan, menonjolkan garis rahangnya yang tegas namun menyimpan kelembutan. Tita si perfeksionis. Tita yang selalu memastikan segala sesuatunya berada di tempat yang tepat. Namun malam ini, aku bisa melihat tatanan dunianya mulai retak. Ada sesuatu yang liar di balik matanya yang biasanya teduh, sebuah rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan ketakutan yang ia sembunyikan.
"Ta?" bisikku. Suaraku terdengar parau, asing bahkan di telingaku sendiri.
Tita tersentak kecil. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya melirik perlahan. "Ya, Mir?"
"Tanganmu gemetar," kataku, menunjukkan observasi yang seharusnya tidak kuucapkan jika aku ingin mempertahankan ilusi ketenangan ini.
Dia segera meletakkan botol itu ke atas meja nakas, suara benturannya dengan kayu terdengar mengejutkan di tengah kesunyian. Tita menunduk, menatap jemarinya sendiri seolah-olah tangan itu bukan miliknya. "Aku hanya... aku tidak tahu. Mungkin aku terlalu banyak minum kopi tadi sore."
Aku tahu itu bohong. Kami berdua tahu. Tidak ada hubungannya dengan kafein. Ini adalah akumulasi dari minggu-minggu terakhir; sentuhan-sentuhan yang tidak sengaja, tawa yang tertahan terlalu lama, dan momen-momen di mana kami saling menatap sedikit lebih lama dari yang seharusnya dianggap wajar oleh sepasang sahabat.
Aku bergerak sedikit, membuat ranjang berderit pelan. Jarak di antara kami kini tak lebih dari beberapa inci. Aku bisa mencium aroma sampo stroberinya yang manis bercampur dengan aroma hangat kulitnya. Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih menuntut. Aku ingin meraih tangannya, meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja, namun aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa menjamin hal itu.
"Tita, lihat aku," pintaku lembut.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Saat mata kami bertemu, aku merasakan hantaman fisik di dadaku. Di sana, di pupil matanya yang melebar, aku melihat pantulan dirikuβseorang gadis yang juga sedang berdiri di tepi jurang, siap untuk melompat atau ditarik mundur. Ketakutannya begitu nyata, begitu rapuh, hingga membuatku ingin melindunginya sekaligus ingin menghancurkan dinding pertahanan yang selalu ia bangun tinggi-tinggi.
Tanpa sadar, tanganku bergerak. Ujung jariku menyentuh dagunya, menuntun wajahnya agar tetap searah denganku. Kulitnya terasa sehalus sutra, namun suhunya panas, seolah-olah ada api yang berkobar di bawah permukaannya. Tita menahan napas. Matanya sedikit terbelalak, bibirnya terbuka sedikit, hendak memprotes atau mungkin justru memohon.
"Kau selalu ingin semuanya sempurna, kan?" bisikku, kini jarak kami hanya menyisakan ruang untuk helaan napas. "Tapi kadang-kadang, hal yang paling tidak sempurna adalah yang paling kita butuhkan."
Aku tidak memberinya waktu untuk menjawab. Aku memangkas jarak yang tersisa, menempelkan bibirku ke bibirnya.
Dunia seolah berhenti berputar. Untuk satu detik yang mengerikan, Tita membeku. Tubuhnya kaku, tangannya terkepal di sisi tubuhnya, dan aku merasa baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Rasa malu mulai merayap naik ke leherku, siap menelanku bulat-bulat. Aku hendak menarik diri, hendak meminta maaf dan berpura-pura bahwa ini hanyalah eksperimen g*** lainnya.
Namun kemudian, segalanya berubah.
Tita mengeluarkan suara rintihan kecil yang teredam di sela bibir kamiβsebuah suara yang terdengar seperti kepasrahan sekaligus kelegaan. Tiba-tiba, kekakuan itu luruh. Jemarinya yang tadi gemetar kini merayap naik, mencengkeram kemejaku dengan erat, seolah-olah aku adalah satu-satunya benda padat di dunia yang sedang berguncang.
Ia membalas ciumanku. Awalnya ragu, kikuk, dan penuh ketidakpastian khas Tita. Namun dalam hitungan detik, gairah yang selama ini kami tekan di bawah permukaan meledak. Ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang mendalam, lapar, dan menuntut. Rasa stroberi dari lip balm-nya bercampur dengan rasa asin yang samar, mungkin air mata, mungkin hanya keringat dingin.
Aku bisa merasakan debar jantungnya yang liar di dadaku saat ia menarikku lebih dekat, seolah ingin meleburkan batas antara kulit kami. Semua aturan, semua kecemasan tentang apa yang akan dikatakan orang lain, dan semua label "persahabatan" yang kami agungkan, menguap begitu saja di udara Kamar 304 yang pengap.
Sentuhannya di punggungku terasa seperti jejak api. Tita yang pemalu, Tita yang perfeksionis, kini menciumku dengan intensitas yang membuat kepalaku pening. Aku kehilangan kendali, dan anehnya, aku tidak ingin menemukannya kembali. Kami terhanyut dalam pusaran sensasi baru yang terlalu lama disangkal.
Saat kami akhirnya menarik diri untuk menghirup udara, wajah Tita merona hebat. Rambutnya sedikit berantakan, dan bibirnya tampak bengkak serta kemerahan. Ia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnyaβcampuran antara keterkejutan yang amat sangat dan keinginan yang belum tuntas.
"Mir..." suaranya gemetar, bukan lagi karena takut, tapi karena sesuatu yang jauh lebih kuat.
Aku mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari, mencoba menenangkan badai di dalam dirinya sekaligus di dalam diriku. "Jangan katakan apa-apa, Ta. Jangan dipikirkan."
Ia mengangguk pelan, namun aku tahu pikirannya yang perfeksionis sedang bekerja lembur, mencoba mengategorikan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap pintu kamar kami yang terkunci rapat, satu-satunya penghalang antara rahasia kami dan dunia luar yang tidak akan pernah mengerti.
"Lalu, apa sekarang?" tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Aku menatap matanya dalam-dalam, menyadari bahwa mulai malam ini, dinamika di antara kami telah bergeser secara permanen. Tidak ada jalan kembali ke cara kami yang dulu. Kami telah melewati ambang pintu yang tidak memiliki pegangan di sisi baliknya.
"Sekarang," kataku sambil menariknya kembali ke dalam pelukanku, "kita lihat seberapa jauh pintu ini bisa membawa kita."
Namun di sudut hatiku, sebuah tanya muncul tanpa permisi: Apakah Tita akan menyesali ini saat matahari terbit besok, ataukah ini justru awal dari keruntuhan yang lebih besar bagi kami berdua?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!