Udara di dalam Kamar 304 terasa jauh lebih pekat daripada biasanya, seolah oksigen telah digantikan oleh aroma losion vanila yang manis dan uap hangat yang tersisa dari kamar mandi. Tita bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdentum keras di dadanya, sebuah ritme yang tidak beraturan dan menuntut. Di bawah pendar lampu meja yang remang-remang, bayangan mereka berdua jatuh memanjang di dinding, saling tumpang tindih dalam keintiman yang baru saja mereka temukan.
Mira berada sangat dekat. Terlalu dekat bagi siapa pun yang menyebut diri mereka hanya sekadar "sahabat". Jemari Mira, yang biasanya lincah saat mengetik tugas kuliah, kini bergerak dengan kelembutan yang menyiksa di sepanjang garis paha Tita. Tita menarik napas pendek, jemarinya meremas seprai katun di bawahnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tita?" bisik Mira. Suaranya serak, rendah, dan penuh dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan yang dirasakan Tita. "Kamu... kamu oke?"
Tita tidak langsung menjawab. Ia adalah si perfeksionis, si mahasiswa teladan yang selalu merencanakan segalanya tiga langkah ke depan. Namun, saat ini, tidak ada rencana. Tidak ada logika yang bisa menjelaskan mengapa sentuhan Mira terasa seperti aliran listrik yang membakar keragu-raguannya. Ia menunduk, menatap wajah Mira yang terbingkai rambut yang sedikit berantakan.
"Aku... aku nggak tahu," jawab Tita jujur, suaranya nyaris hilang. "Tapi jangan berhenti. Tolong, jangan berhenti."
Permintaan itu seolah menjadi izin yang ditunggu-tunggu. Mira bergerak lebih dekat, merayap di atas ka**r sempit itu sampai napas hangatnya menyapu leher Tita. Tita memejamkan mata, membiarkan sensasi itu mengambil alih. Ketika bibir Mira menyentuh kulit lembut di balik telinganya, Tita merasakan gelombang kejutan yang membuatnya melengkungkan punggung. Itu bukan sekadar rasa penasaran lagi; itu adalah eksplorasi wilayah asing yang selama ini terkunci rapat dalam dirinya.
Tangan Tita yang gemetar perlahan naik, menyentuh bahu Mira, merasakan kehalusan kulit temannya itu. Ia merasa seolah-olah ia sedang mempelajari bahasa baru, bahasa yang tidak diajarkan di kelas mana pun. Setiap sentuhan, setiap gesekan kulit mereka, adalah kata-kata yang belum pernah berani ia ucapkan.
"Mira, ini..." Tita terengah, mencoba mencari kata-kata saat jemari Mira mengeksplorasi lebih jauh, menyentuh area yang tadi baru saja mereka rapikan dengan begitu hati-hati. Rasa malu yang biasanya membentengi Tita mulai runtuh, digantikan oleh gairah yang berdenyut-denyut.
Namun, di tengah kemelut rasa itu, sebuah suara dari luar tiba-tiba memecah suasana.
*Gedebuk.*
Lalu diikuti oleh suara tawa yang nyaring dari koridor asrama, disert** bunyi langkah kaki yang berat dan percakapan cepat antara dua mahasiswi lain yang tampaknya baru saja kembali dari kantin atau perpustakaan.
Tita tersentak. Seluruh tubuhnya menegang seketika. Ia menarik napas tajam dan secara naluriah mendorong bahu Mira sedikit menjauh. Keduanya membeku di posisi mereka, nyaris tidak berani bernapas. Tita menatap pintu kamar kayu yang tertutup rapat, menyadari betapa tipisnya batas antara rahasia mereka dan dunia luar yang menghakimi.
"Sshh," desis Mira, meletakkan satu jari di depan bibirnya sendiri. Matanya yang lebar menatap Tita, memantulkan ketakutan yang sama.
Mereka mendengarkan dengan saksama. Suara kunci diputar di kamar sebelah, suara pintu yang menutup dengan keras, dan kemudian keheningan kembali menyelimuti koridor. Namun, keheningan itu sekarang terasa berbeda. Keheningan itu sarat dengan pengingat bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang dianggap tabu, sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi yang selama ini dijaga ketat oleh Tita.
"Mereka sudah ma**k," bisik Mira setelah beberapa saat, suaranya nyaris tak terdengar. "Nggak ada yang tahu, Tita. Cuma kita."
Tita menelan ludah. Jantungnya masih berdegup kencang karena kaget, tapi perlahan-lahan, ketegangan itu mulai berubah kembali menjadi jenis desakan yang berbeda. Ketakutan itu justru menambah semacam adrenalin yang berbahaya ke dalam campuran emosinya. Ia melihat ke arah Mira, melihat bagaimana mata temannya itu menggelap karena keinginan yang tak terucapkan.
"Bagaimana kalau ada yang dengar?" tanya Tita, sebuah keraguan terakhir yang masih bertahan di benaknya.
Mira tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat nakal sekaligus penuh pengertian. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tita, ujung hidung mereka bersentuhan. "Maka kita harus sangat, sangat pelan."
Tangan Mira kembali ke tempat semula, kali ini dengan tekanan yang lebih pasti, seolah meyakinkan Tita bahwa mereka aman di dalam gelembung kecil ini. Tita melepaskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Ia membiarkan kepalanya jatuh kembali ke bantal, membiarkan dirinya tenggelam kembali ke dalam sentuhan-sentuhan yang kini terasa lebih berani.
Rasa ingin tahu Tita kini mengalahkan rasa takutnya. Ia mulai membalas sentuhan itu, tangannya menjelajahi lekuk tubuh Mira dengan keberanian yang tidak pernah ia sangka miliki. Setiap inci kulit yang ia temukan, setiap respons kecil berupa desahan halus dari bibir Mira, membuat Tita merasa berkuasa sekaligus rapuh.
Dunia di luar pintu Kamar 304 seolah menghilang. Tidak ada lagi tugas kuliah, tidak ada lagi ekspektasi orang tua, tidak ada lagi citra "si perfeksionis". Yang ada hanyalah panasnya kulit Mira, aroma vanila yang memabukkan, dan penemuan-penemuan baru tentang tubuhnya sendiri dan tubuh sahabatnya.
Namun, saat Tita merasa mereka sudah mencapai titik di mana tidak ada lagi jalan untuk kembali, sebuah pikiran melintas di benaknya yang perfeksionis: *Setelah malam ini, apa kita masih bisa kembali menjadi sekadar teman sekamar?*
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab, saat Mira membimbing tangan Tita untuk merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam, membawa mereka ke ambang batas yang akan mengubah segalanya selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!