Cahaya matahari yang menyusup melalui celah gorden bukan lagi sekadar penanda waktu bagiku pagi ini. Ia terasa seperti sorot lampu panggung yang menelanjangi setiap inci kegelisahanku. Aku tetap memejamkan mata, meskipun kesadaranku sudah pulih sepenuhnya. Aku bisa merasakan berat selimut di atas tubuhku, dan yang lebih mendebarkan, aku bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari sisi kiri tempat tidur.
Mira masih di sana.
Suara napasnya yang teratur adalah satu-satunya melodi di kamar 304 saat ini. Aku mengepalkan jemari di balik selimut, merasakan tekstur seprai yang terasa lebih kasar dari biasanya pada kulitku yang sensitif. Ingatan tentang semalam—tentang sentuhan, tentang aroma krim c**ur yang bercampur dengan wangi stroberi dari losion, dan tentang bagaimana napas kami saling memburu—menyerang kepalaku tanpa ampun.
Bagaimana mungkin sebuah rutinitas kecantikan yang sepele bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu... destruktif bagi ketenanganku?
Aku memberanikan diri untuk membuka mata sedikit. Mira berbaring membelakangiku, bahunya yang polos terlihat di atas batas selimut. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Sebagai seorang yang selalu merencanakan segala sesuatu dengan presisi, situasi ini adalah mimpi buruk. Tidak ada panduan dalam buku teks manapun tentang bagaimana cara menyapa sahabatmu setelah kau menghabiskan malam dengan menjelajahi batas-batas yang seharusnya tidak dilanggar.
Tiba-tiba, Mira bergerak. Ia menggeliat pelan, dan jantungku seolah berhenti berdetak. Aku segera memejamkan mata kembali, berpura-pura masih terlelap dalam tidur yang dalam.
"Tita?" Suaranya serak, khas orang yang baru bangun tidur, tapi ada nada ragu yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak siap.
"Aku tahu kamu sudah bangun," bisiknya lagi. Kali ini lebih dekat. Aku bisa merasakan pergerakan ka**r saat ia berbalik menghadapku.
Mau tidak mau, aku membuka mata. Pandangan kami bertemu. Mata Mira yang biasanya berbinar penuh percaya diri kini tampak redup, diliputi oleh kabut kecemasan yang sama dengan yang kurasakan. Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan ini telah habis tersedot oleh gajah besar yang berdiri di tengah ruangan—kejadian semalam.
"Pagi," ucapku pendek, suaraku nyaris hilang.
"Pagi," balasnya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Jam berapa sekarang?"
"Tujuh lewat lima belas. Kita ada kelas jam sembilan."
"Oh. Iya."
Kami berdua terdiam lagi. Dialog formal ini terasa seperti sebuah lelucon yang buruk. Biasanya, kami akan berebut kamar mandi sambil tertawa, membicarakan dosen mana yang paling membosankan, atau sekadar mengeluh tentang kurang tidur. Tapi sekarang, bahkan untuk sekadar bangkit dari tempat tidur pun terasa seperti tugas yang mustahil.
Aku mencoba duduk, menarik selimut untuk menutupi dadaku. Gerakan itu terasa begitu defensif, dan aku melihat Mira menyadarinya. Sorot matanya berubah, ada kilatan luka yang lewat dengan cepat sebelum ia kembali memasang wajah datar.
"Tita, soal semalam..."
"Aku harus mandi duluan," potongku cepat. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku takut jika dia mengatakannya, segalanya akan menjadi nyata. Aku takut dia akan bilang itu adalah sebuah kesalahan, atau lebih buruk lagi, dia akan bertanya apa arti semua itu bagiku.
Aku segera turun dari tempat tidur, meraih handukku dengan gerakan kikuk. Saat aku berjalan melewati tempat tidurnya, jemari Mira sempat menyentuh pergelangan tanganku. Hanya sentuhan ringan, namun rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar hingga ke tulang punggungku. Aku tersentak dan berhenti, tapi tidak berani menoleh.
"Jangan lari, Ta," ucap Mira pelan. "Kita nggak bisa pura-pura nggak terjadi apa-apa."
Aku menarik napas panjang, menatap pintu kamar mandi yang tertutup. "Aku nggak lari, Mir. Aku cuma... aku butuh waktu untuk berpikir. Kamu tahu aku nggak bisa langsung memproses hal-hal seperti ini."
"Apa yang perlu dipikirkan?" Mira duduk di tepi ka**r, membiarkan rambutnya yang berantakan jatuh menutupi sebagian wajahnya. "Kita sahabat, kan?"
Kata 'sahabat' itu keluar dari mulutnya seperti sebuah peluru. Aku berbalik, menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. "Masihkah? Setelah apa yang kita lakukan? Sahabat nggak saling menyentuh seperti itu, Mira. Sahabat nggak merasakan apa yang aku rasakan semalam."
Wajah Mira memucat. "Lalu kita apa? Kamu mau kita jadi orang asing?"
Pertanyaan itu menghantamku tepat di ulu hati. Sebagai seorang perfeksionis, aku selalu butuh label. Aku butuh struktur. Tapi hubungan ini sekarang berada di wilayah abu-abu yang menakutkan. Jika kami melanjutkan ini, kami mempertaruhkan segalanya—persahabatan kami, kenyamanan di kamar ini, bahkan reputasi kami di asrama yang konservatif ini. Namun, jika kami berhenti, aku tahu bayangan sentuhannya akan selalu menghantuiku setiap kali kami berada dalam satu ruangan.
"Aku nggak tahu," jawabku jujur, suaraku bergetar. "Aku cuma takut, Mir. Aku takut aku bakal merusak satu-satunya hal baik yang kupunya di kampus ini hanya karena aku nggak bisa menahan diri."
Mira berdiri, melangkah mendekatiku. Aku ingin mundur, tapi punggungku sudah menyentuh pintu kamar mandi. Ia berhenti tepat di depanku, aromanya yang khas—campuran sabun dan kulit hangat—memenuhi indra penciumanku.
"Kamu nggak sendirian dalam hal ini," bisik Mira. Ia mengangkat tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyelipkan sehelai rambut ke belakang telingaku. "Aku juga takut. Tapi menghindari ini nggak akan membuat perasaanku hilang."
Aku menatap matanya, mencari kejujuran di sana, dan yang kutemukan adalah kerentanan yang sama besar dengan milikku. Untuk sesaat, keteganganku mengendur. Namun, tepat saat suasana mulai mencair, suara ketukan keras di pintu kamar mengejutkan kami berdua.
"Tita! Mira! Kalian di dalam?" Suara melengking Siska, ketua blok asrama, terdengar dari balik pintu. "Ada pengumuman mendadak di aula bawah sepuluh menit lagi. Semua harus turun!"
Kami berdua terlonjak menjauh seolah-olah baru saja tertangkap melakukan kejahatan. Mira buru-buru meraih kaosnya di lant**, sementara aku memegang gagang pintu kamar mandi dengan erat.
"Iya, Siska! Sebentar lagi kami turun!" sahut Mira dengan nada suara yang dipaksakan ceria.
Setelah langkah kaki Siska menjauh, keheningan kembali menyelimuti kami, tapi kali ini terasa berbeda. Ada urgensi yang mengganjal. Kami harus keluar dari kamar ini, menghadapi dunia luar, dan bersikap seolah-olah kami masih Tita dan Mira yang lama.
Aku menatap Mira sekali lagi sebelum ma**k ke kamar mandi. "Kita bicarakan ini nanti malam?"
Mira mengangguk, tapi matanya menunjukkan keraguan yang mendalam. "Tentu. Nanti malam."
Saat aku menutup pintu kamar mandi dan menyalakan pancuran air, aku menyadari satu hal. Pintu kamar 304 mungkin bisa menyembunyikan rahasia kami dari dunia luar, tapi ia tidak bisa melindungiku dari kebenaran yang mulai kusadari: persahabatan kami yang sederhana sudah mati semalam, dan aku tidak tahu apa yang tumbuh menggantikannya.
Dan yang lebih menakutkan, saat aku melihat pantulan diriku di cermin yang beruap, aku tidak yakin apakah aku ingin kembali ke masa lalu. Aku menyentuh bibirku sendiri, merasakan sisa-sisa tekanan bibir Mira yang seolah masih tertinggal di sana, sementara di luar, suara langkah kaki mahasiswa lain di koridor mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, menuntut jawaban yang belum siap kuberikan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!