Lant** ubin koridor fakultas yang dingin biasanya memberikan sensasi menenangkan di bawah sepatuku, tetapi hari ini, setiap langkah terasa seperti guncangan yang mengacaukan keseimbangan. Aku berusaha mengatur napas, menyesuaikan irama langkahku dengan Tita yang berjalan di sampingku. Dia tampak begitu tenang—setidaknya dari luar. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, matanya fokus pada buku catatan di pelukannya, dan ekspresinya sedatar permukaan air di gelas yang tak tersentuh.
Namun, aku tahu Tita. Aku melihat jemarinya yang memegang buku itu sedikit gemetar, dan ada rona merah tipis yang tidak mau hilang dari cuping telinganya sejak kami meninggalkan asrama pagi tadi.
"Kau sudah baca bab empat untuk kelas Pak Sanusi?" suara Tita memecah keheningan di antara kami. Suaranya kecil, hampir tertelan oleh keriuhan mahasiswa lain yang berlalu lalang.
Aku berdehem, mencoba mengusir kekakuan di tenggorokanku. "Sudah. Sedikit. Aku lebih banyak terjaga semalam."
Kalimat itu meluncur begitu saja, dan aku langsung merutuki diriku sendiri. 'Terjaga semalam' adalah kode yang terlalu berbahaya. Ingatanku langsung melesat kembali ke cahaya lampu temaram kamar 304, ke aroma sabun stroberi yang memenuhi udara, dan ke sensasi kulit Tita yang halus di bawah jemariku. Aku bisa merasakan kembali bagaimana napasnya yang tertahan menggelitik leherku saat aku membantunya semalam. Sentuhan itu... itu bukan sekadar perawatan diri. Itu adalah garis yang kami langgar bersama.
Tita tidak menjawab. Dia hanya mengangguk cepat, mempercepat langkahnya saat kami mema**ki ruang kuliah.
Di dalam kelas, suasana terasa menyesakkan. Aku duduk di sebelah Tita, seperti biasa. Namun, jarak sepuluh sentimeter di antara kursi kami terasa seperti jurang yang menganga. Aku mencoba fokus pada presentasi di depan, tetapi mataku terus melirik ke samping. Aku memperhatikan cara Tita menggigit ujung pulpennya saat dia berpikir—sebuah kebiasaan perfeksionis yang biasanya kupikir menggemaskan, tapi sekarang membuat perutku mulas karena keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menonton.
"Permisi, kursi ini kosong?"
Sebuah suara berat membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihat seorang mahasiswa dari kelas sebelah—namanya kalau tidak salah adalah Adrian—berdiri di samping Tita. Dia memberikan senyum lebar yang memamerkan lesung pipitnya, tipe senyum yang biasanya membuat mahasiswi baru tersipu.
Tita mendongak, matanya mengerjap pelan. "Oh, iya. Kosong, silakan."
Adrian duduk dan segera memulai percakapan. "Tita, kan? Yang presentasinya minggu lalu sangat det**l itu? Aku benar-benar terkesan dengan caramu menjelaskan teori interaksi sosial."
Tita merona. Kali ini merahnya lebih jelas. "Terima kasih. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik."
Aku merasakan sesuatu yang tajam menusuk ulu hatiku. Bukan rasa sakit fisik, melainkan semburan emosi panas yang terasa asing: cemburu. Aku memperhatikan bagaimana Adrian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Tita, bagaimana dia tertawa saat Tita melontarkan komentar kecil yang sopan, dan bagaimana tangannya hampir bersentuhan dengan tangan Tita di atas meja saat mereka mendiskusikan catatan kuliah.
Setiap kali Adrian tertawa, aku merasa ingin menarik Tita pergi dari sana. Pikiranku berteriak: *Dia tidak tahu bagaimana rasanya kulitmu. Dia tidak tahu rahasia yang kita bagi semalam di balik pintu yang terkunci.*
"Mira?" Tita menoleh ke arahku, menyadari kebisuanku yang terlalu lama. "Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat."
"Aku oke," jawabku pendek, mungkin sedikit terlalu ketus. Aku membuka buku catatanku dengan kasar, membalik halamannya hingga menimbulkan suara robekan kecil yang mengganggu.
Adrian memandangku sekilas, lalu kembali pada Tita. "Anyway, Tita, nanti sore ada diskusi kelompok di kafe depan. Kamu mau ikut? Kami butuh seseorang dengan ketelitian sepertimu."
Tita tampak ragu. Dia melirikku sebentar, seolah meminta izin atau mencari alasan untuk menolak. Sifat ragu-ragunya muncul ke permukaan. "Aku... aku tidak yakin. Aku ada banyak tugas asrama."
"Ayolah, hanya satu jam. Aku bisa mengantarmu kembali ke asrama setelah itu," desak Adrian dengan nada yang terlalu ramah di telingaku.
Tanganku di bawah meja mengepal kuat hingga kuku-kukuku menekan telapak tangan. Aku membayangkan Tita duduk di kafe itu, tersenyum pada Adrian, dan membiarkan laki-laki itu mengantarnya pulang. Pikiran itu membuat darahku mendidih. Aku tidak tahan membayangkan orang lain menyentuh lengan Tita atau melihat sisi rapuh yang dia tunjukkan padaku semalam.
"Tita ada janji denganku nanti sore," potongku tiba-tiba. Suaraku terdengar lebih stabil daripada yang kurasakan.
Adrian menaikkan alisnya, tampak terkejut dengan interupsi yang tiba-tiba. Tita menoleh ke arahku dengan mata membulat, mulutnya sedikit terbuka seolah ingin bertanya 'janji apa?', tapi dia tidak membantah.
"Oh, begitu ya? Sayang sekali," kata Adrian, suaranya terdengar kecewa namun tetap sopan. Dia akhirnya berbalik ke depan saat dosen memulai kuliah, tapi dia masih sempat memberikan satu kerlingan terakhir pada Tita.
Sepanjang sisa jam pelajaran, aku tidak bisa mendengar sepatah kata pun dari dosen. Jantungku berdegup kencang, campuran antara rasa puas karena telah "menyelamatkan" Tita dan rasa takut akan apa yang baru saja kulakukan. Aku telah mengklaimnya secara implisit di depan orang lain.
Saat kelas berakhir dan mahasiswa mulai berhamburan keluar, Tita menarik lenganku, menahan langkahku di sudut koridor yang agak sepi.
"Mira, tadi itu apa?" tanyanya dengan suara berbisik yang intens. "Kita tidak punya janji apa pun sore ini."
Aku menatap matanya, mencari tanda-tanda kemarahan, tapi yang kutemukan hanyalah kebingungan dan sesuatu yang lebih dalam—ketakutan yang sama dengan yang kurasakan.
"Aku hanya tidak suka cara dia menatapmu," jawabku jujur, suaraku serak.
Tita terdiam. Dia tidak melepaskan pegangannya di lenganku. Alih-alih menjauh, dia malah melangkah selangkah lebih dekat, hingga aku bisa mencium aroma stroberi yang sama dari semalam. Di tengah keramaian kampus yang bising, mendadak hanya ada kami berdua.
"Hanya karena itu?" bisik Tita, matanya mengunci mataku.
Aku bisa merasakan ketegangan yang sama kembali merayap di antara kami, lebih kuat dari sebelumnya karena sekarang kami berada di ruang publik. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin berbagi dirinya dengan siapa pun, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
Tepat saat aku hendak menjawab, ponsel Tita bergetar di sakunya. Dia tersentak, memutuskan kontak mata kami, dan merogoh ponselnya. Ekspresinya berubah seketika saat membaca pesan yang ma**k.
"Mira... ini dari ibu asrama," katanya, suaranya bergetar. "Dia bilang dia melakukan inspeksi mendadak pagi ini dan ingin bicara dengan kita berdua di kantornya sekarang juga."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Inspeksi? Apakah kami meninggalkan sesuatu di kamar? Alat c**ur itu? Atau mungkin... suasana kamar yang masih menyisakan jejak apa yang kami lakukan? Ketakutan baru yang lebih besar dari sekadar cemburu kini menyergapku, membuat perutku terasa melilit hebat.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!