Udara di dalam kamar 304 terasa lebih berat malam ini, seolah-olah molekul oksigen di dalamnya telah jenuh oleh ketegangan yang tidak terucapkan. Aku duduk di tepi tempat tidurku, meremas ujung seprai hingga buku-buku jariku memutih. Di seberang ruangan, Mira sedang membelakangiku, pura-pura sibuk menata buku di raknya yang sebenarnya sudah rapi. Suara gesekan kertas dan kayu terdengar nyaring di tengah keheningan asrama yang mulai merayap.
Pikiranku berputar seperti komidi putar yang rusak. Kejadian kemarin—sentuhan jemari Mira yang ragu namun mendamba, kelembutan kulit yang kami bagi di bawah cahaya lampu remang—terus terulang seperti film tanpa henti. Aku adalah Tita yang perfeksionis, si mahasiswi teladan yang selalu punya rencana cadangan untuk setiap masalah. Namun, untuk situasi ini, tidak ada buku panduan yang bisa membantuku.
"Mira," panggilku pelan. Suaraku terdengar asing, parau dan tipis.
Mira menghentikan gerakannya. Bahunya yang tegang perlahan meluruh, tapi dia tidak langsung berbalik. "Ya, Ta?"
"Kita tidak bisa terus begini. Maksudku... diam-diaman seolah tidak ada yang terjadi." Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang terasa menyempit. "Kejadian itu... saat kita... menc**ur... dan setelahnya..."
Mira akhirnya berbalik. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak letih, dengan binar mata yang sulit kuartikan. Dia berjalan perlahan dan duduk di lant**, tepat di depanku, sehingga posisi kepalanya sejajar dengan lututku. "Aku tahu. Aku juga tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku merasa seperti pencuri di kamarku sendiri, Ta. Takut kalau setiap gerak-gerikku akan membongkar apa yang kita rasakan."
Aku menunduk, menatap wajahnya. Rasa takut akan penilaian orang lain—orang tua kami, teman-teman di kampus, ibu asrama yang galak—tiba-tiba menghantamku seperti gelombang pasang. "Kalau mereka tahu, Mira... karier kita, nama baik kita... semuanya akan hancur sebelum sempat dimulai."
Mira meraih tanganku, melepaskan cengkeramanku dari seprai dan menggenggamnya dengan hangat. "Tapi apakah itu salah? Merasakan sesuatu yang seindah itu?"
Aku menggigit bibir bawahku, merasakan sedikit perih. "Dunia ini tidak selalu melihat keindahan dengan cara yang sama, Mir. Aku takut. Aku pengecut dalam hal ini."
"Aku juga takut," aku Mira jujur. Jempolnya mengusap punggung tanganku dengan gerakan melingkar yang menenangkan, memicu getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhku. "Tapi aku lebih takut kehilangan ini. Kehilangan rasa ini. Kamu tahu sendiri, sejak kita di sini, di kamar ini, semuanya terasa berbeda. Lebih hidup."
Aku menatap mata cokelatnya, mencari keraguan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah ketulusan yang te*******. Sisi perfeksionisku ingin segera mengakhiri ini, mengembalikan segalanya ke garis awal sebagai 'sekadar sahabat'. Namun, bagian dari diriku yang selama ini tertekan, yang merindukan koneksi mendalam yang melampaui kata-kata, justru ingin mendekapnya lebih erat.
"Jadi, apa yang kita lakukan?" tanyaku, hampir berbisik.
Mira menarik napas dalam-dalam. "Kita buat aturan. Hanya kita berdua. Di balik pintu ini." Dia menunjuk pintu kamar yang sudah kukunci rapat sejak tadi. "Di luar sana, kita adalah Tita dan Mira yang biasa. Mahasiswi yang rajin, sahabat yang normal. Tapi di sini... di dalam 304... kita bisa menjadi apa pun yang kita inginkan."
Sebuah kesepakatan rahasia. Sebuah pakta yang berbahaya namun menggoda. Hatiku berdegup kencang, antara rasa ngeri dan gairah yang kembali menyala. Aku tahu, dengan menyetujui ini, aku sedang melangkah ke atas lapisan es tipis yang bisa pecah kapan saja. Tapi saat melihat tatapan Mira yang penuh harap, aku menyadari bahwa aku sudah terlalu jauh untuk mundur.
"Hanya di sini?" tanyaku memastikan.
"Hanya di sini. Rahasia ini milik kita, Ta. Terkunci rapat bersama aroma lotion dan suara kipas angin ini," jawabnya dengan nada yang lebih mantap.
Aku perlahan mengangguk, sebuah gerakan kecil yang terasa seperti beban berat yang terlepas, sekaligus beban baru yang menekan pundakku. "Baiklah. Kita lanjutkan. Tapi jika ada tanda-tanda seseorang curiga, kita harus... kita harus tahu kapan harus berhenti."
Mira tersenyum, tipe senyum yang membuat perutku terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Dia bangkit dari lant** dan duduk di sampingku di tempat tidur. Jarak di antara kami menghilang. Aroma tubuhnya yang khas—campuran sabun bayi dan keringat tipis—menyerbu indra penciumanku.
"Terima kasih, Tita," bisiknya. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku merangkul bahunya, merapatkan tubuh kami. Untuk sesaat, ketakutan akan dunia luar memudar, digantikan oleh kenyamanan fisik yang sangat nyata. Namun, di sudut pikiranku yang paling gelap, aku tahu bahwa menjaga rahasia sebesar ini di sebuah asrama yang dindingnya seolah memiliki telinga adalah misi yang hampir mustahil.
Tepat saat itu, terdengar suara ketukan keras di pintu kamar kami, diikuti oleh suara tawa beberapa mahasiswi dari lorong. Tubuh kami berdua tersentak kaku. Aku menahan napas, menatap pintu kayu yang menjadi satu-satunya penghalang antara dunia rahasia kami dan realitas yang menghakimi.
"Tita! Mira! Kalian di dalam? Ayo ke kantin, ada pengumuman penting soal ospek fakultas!" teriak sebuah suara dari luar—suara Sarah, ketua angkatan yang paling vokal.
Mira menatapku dengan mata lebar, jari-jarinya masih tertinggal di lenganku. Inilah awal dari sandiwara itu. Aku harus belajar memakai topengku sekarang juga, atau semuanya akan berakhir sebelum kesepakatan ini benar-benar dimulai. Aku berdeham, mencoba membuang sisa-sisa keintiman dari suaraku.
"Sebentar, Sarah! Kami sedang... sedang merapikan tugas!" balasku dengan nada yang kubuat senormal mungkin, meski tanganku masih sedikit gemetar saat melepaskan pelukan Mira.
Mira berdiri, merapikan bajunya yang sedikit kusut, lalu menatapku sekali lagi dengan tatapan yang seolah berkata, *permainan dimulai.* Aku berdiri mengikutinya, namun langkahku terhenti saat aku melihat sesuatu di lant** dekat tempat tidur—sebuah jepit rambut milik Mira yang jatuh tepat di bawah bantal duniaku. Sebuah det**l kecil yang jika dilihat oleh mata yang salah, bisa menjadi awal dari kehancuran kami. Aku segera memungutnya dan menyembunyikannya di dalam saku, menyadari bahwa mulai detik ini, ketelitianku bukan lagi untuk tugas kuliah, melainkan untuk menjaga agar rahasia di balik pintu kamar 304 tetap menjadi rahasia.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!