Udara di dalam kamar 304 terasa lebih berat dari biasanya, padahal kipas angin kecil di atas meja belajar sudah berputar maksimal, berusaha menghalau hawa gerah siang bolong. Aku mengalihkan pandangan dari layar laptop, tempat draf esai sosiologi yang baru separuh jalan itu berkedip-kedip menuntut perhatian. Fokusku teralihkan oleh suara helaan napas panjang yang berulang kali keluar dari arah ranjang di seberangku.
Tita duduk meringkuk di sana. Bahunya yang kecil tampak tegang, dan tangannya sibuk mengotak-atik sesuatu di bawah tumpukan buku referensi. Dia tampak gelisah, sesekali menggigit bibir bawahnyaβkebiasaan buruknya kalau sedang merasa tidak nyaman atau sedang memikirkan sesuatu terlalu keras.
"Ta, kalau kamu tarik napas sedalam itu terus, kayaknya oksigen di kamar ini bakal habis cuma buat kamu," godaku sambil memutar kursi.
Tita tersentak, bahunya melonjak sedikit. Dia menoleh padaku dengan wajah yang sedikit memerah. "Eh? Kelihatan ya?"
"Bukan cuma kelihatan, kedengaran sampai lorong kayaknya," aku tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. "Kenapa sih? Tugas Pak Sugeng bikin kamu mau meledak?"
Tita menggeleng, lalu menutup buku tebalnya dengan gerakan ragu. "Bukan tugas, Mir. Ini... emm, sesuatu yang lain. Agak memalukan."
Aku menaikkan sebelah alis, penasaran. Jarang sekali Tita yang perfeksionis dan selalu tertata ini merasa 'malu' karena hal yang bukan urusan akademis. Aku bangkit dari kursi, lalu duduk di tepi ranjangnya, menjaga jarak yang c**up agar dia tidak merasa terintimidasi, tapi c**up dekat untuk menunjukkan bahwa aku mendengarkan.
"Cerita aja. Kita kan sudah janji nggak ada rahasia di kamar ini," kataku lembut.
Tita menghela napas lagi, kali ini lebih pelan. Tangannya meremas pinggiran sprei. "Ini soal... itu. Kamu tahu kan, besok ada praktikum olahraga di kolam renang? Kita harus pakai baju renang itu."
Aku mengangguk. "Terus? Kamu takut tenggelam?"
"Bukan!" Tita memutar bola matanya, sedikit keberanian muncul di wajahnya. "Aku baru sadar kalau... area di bawah sana... berantakan sekali. Tadi aku coba bersihin pakai gunting kecil sama pisau c**ur biasa, tapi malah gatal banget dan kayaknya ada yang lecet. Aku takut nanti pas pakai baju renang, ada yang 'keluar' atau malah merah-merah semua."
Aku hampir saja tertawa, tapi segera kutahan saat melihat gurat kecemasan yang nyata di matanya. Bagi Tita, ini bukan sekadar urusan bulu halus; ini soal kontrol dan citra diri. Dia takut terlihat ceroboh di depan orang lain.
"Oh, masalah klasik," kataku dengan nada sant**. "C**ur sembarangan memang resep jitu buat bikin iritasi, Ta. Apalagi kalau kamu cuma pakai sabun mandi biasa atau malah kering-keringan."
Tita menatapku seolah aku baru saja membocorkan rahasia negara. "Memangnya ada cara lain? Aku baca di internet, katanya pakai *waxing* tapi kedengarannya sakit sekali. Aku nggak berani kalau harus dicabut paksa begitu."
"Ya jangan *waxing* kalau nggak kuat mental," balasku sambil menyandarkan punggung ke dinding. "Tapi pakai pisau c**ur biasa juga bahaya kalau nggak tahu tekniknya. Kamu butuh *shaving cream* yang lembut, atau paling nggak kondisioner rambut supaya licin. Dan pisaunya harus yang baru, yang mata pisaunya lebih dari satu supaya nggak perlu ditekan kuat-kuat."
Tita menggelengkan kepala dengan cepat, ekspresinya dipenuhi keraguan. "Tapi tetap saja, Mir. Kulit di situ kan tipis banget. Gimana kalau aku kepotong lagi? Tadi saja sudah perih banget. Aku nggak bisa lihat dengan jelas kalau sambil nunduk-nunduk gitu di depan cermin kecil."
"Ya karena sudut pandangnya salah," ujarku spontan. "Kamu nggak akan pernah bisa rapi kalau cuma nebak-nebak lewat cermin bedak."
"Terus aku harus gimana?" Suaranya mencicit, penuh keputusasaan yang imut sekaligus menyedihkan. "Aku nggak mau besok jadi pusat perhatian di kolam renang gara-gara hal konyol begini."
Aku memperhatikannya sejenak. Tita adalah sosok yang sangat teliti dalam segala hal, tapi dalam urusan tubuhnya sendiri, dia tampak seperti anak kecil yang tersesat. Ada dorongan aneh di dalam dirikuβmungkin rasa setia kawan, atau mungkin rasa ingin tahu yang tipisβuntuk membantunya lebih dari sekadar memberi saran.
"Sini, aku lihat dulu seberapa parah lecetnya," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap klinis dan objektif, seolah-olah aku adalah seorang perawat profesional.
Wajah Tita langsung memerah padam sampai ke telinga. "Hah? Maksud kamu... dilihat langsung?"
"Iya, kenapa? Kita kan perempuan semua. Aku nggak akan menghakimi kamu, Ta," aku meyakinkannya, meskipun jantungku sendiri tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. "Kalau memang lecetnya parah, kamu butuh salep sebelum itu makin iritasi kena kaporit besok."
Tita terdiam, menatap jemarinya yang masih meremas sprei. Dia tampak sedang bertarung dengan rasa malunya yang besar dan ketakutannya akan kegagalan estetik besok pagi. Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi, hanya ada suara dengung kipas angin yang seolah-olah ikut menunggu jawabannya.
"Kamu... kamu benar-benar nggak keberatan?" tanya Tita nyaris berbisik.
Aku tersenyum tipis, mencoba menenangkan kegelisahannya yang menular. "Tentu nggak. Namanya juga teman sekamar. Masa hal begini saja harus dirahasiakan?"
Tita menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian dari setiap sudut tubuhnya. Dia perlahan bergerak untuk mengunci pintu kamar, sebuah tindakan sederhana yang entah kenapa membuat suasana di dalam kamar berubah seketika. Suara klik kunci itu bergema, menandakan bahwa apa pun yang terjadi setelah ini hanya akan menjadi milik kami berdua.
Saat dia kembali ke tepi ranjang, tangannya gemetar ketika menyentuh pinggiran celana pendeknya. Aku bisa melihat keraguan terakhir di matanya, sebuah permohonan bisu untuk memastikan bahwa aku tidak akan menertawakannya. Aku hanya mengangguk kecil, memberikan dukungan tanpa kata. Namun, di dalam hati, aku mulai menyadari bahwa pembicaraan sant** tentang perawatan diri ini baru saja melewati ambang pintu menuju sesuatu yang jauh lebih intim dari yang aku bayangkan sebelumnya.
"Oke," bisik Tita, lebih kepada dirinya sendiri. "Tolong ya, Mir... jangan ketawa kalau kelihatannya aneh."
Aku mencondongkan tubuh ke depan, sementara udara di antara kami mendadak terasa semakin panas, seolah-olah kipas angin itu tak lagi berfungsi sama sekali. Kesadaran bahwa aku akan melihat bagian paling pribadi dari sahabatku sendiri membuat perutku terasa seperti diaduk oleh ribuan kupu-kupu yang gelisah. Dan saat Tita mulai menurunkan kain yang menghalangi pandanganku, aku tahu dinamika di antara kami tidak akan pernah sama lagi setelah detik ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!