Rahasia di Balik Pintu Kamar 304

Bab 3: Bab 3 - Kesepakatan tercapai untuk saling membantu kare...

Pengaturan Membaca

Cermin kecil di atas meja belajarku memantulkan wajah yang tampak begitu gelisah. Aku merapikan letak kacamata, lalu menunduk menatap pisau c**ur baru yang masih tersegel dalam kemasannya. Di sampingnya, botol *shaving foam* beraroma stroberi dan handuk kecil putih seolah-olah menantangku. Sebagai seorang perfeksionis, aku benci jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana, dan rutinitas perawatan diri malam ini terasa jauh lebih rumit daripada sekadar merapikan alis atau menc**ur bulu kaki.

Suara gemuruh dari unit AC di sudut kamar 304 terdengar lebih keras dari biasanya, mengisi keheningan yang mulai terasa menyesakkan. Di tempat tidur seberang, Mira duduk bersila sambil mengaplikasikan losion ke lengannya. Gerakannya sant**, kontras dengan aku yang sedari tadi hanya mematung memandangi peralatan di meja.

"Kamu masih belum mulai, Ta?" suara Mira memecah lamunanku. Ia menatapku dengan binar jenaka yang biasanya membuatku tenang, tapi kali ini malah membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang.

"Aku... aku cuma takut luka lagi," gumamku sambil memutar-mutar botol busa di tanganku. Aku teringat kejadian bulan lalu, luka kecil yang perih akibat sudut pandang yang terbatas di dalam kamar mandi yang sempit. "Susah sekali melihat bagian belakangnya sendirian. Aku tidak mau berakhir dengan plester di tempat yang... aneh."

Mira menutup botol losionnya dengan bunyi *klik* yang tajam. Ia bangkit, mendekat ke arahku, lalu bersandar di pinggiran meja. Aroma sabun mandinya yang segar menyeruak, memenuhi ruang pribadiku. "Memang susah, sih. Aku juga sering kesulitan. Kadang-kadang aku merasa harus menjadi pesenam sirkus hanya untuk menjangkau area bawah itu."

Aku tertawa kecil, meski tawaku terdengar sedikit dipaksakan. "Benar, kan? Padahal aku ingin semuanya benar-benar bersih dan mulus. Rasanya risih kalau ada yang terlewat."

Mira terdiam sejenak, matanya menatap pisau c**ur di meja, lalu kembali menatap mataku. Ada keraguan yang melintas di wajahnya, tapi itu hanya bertahan sedetik sebelum digantikan oleh binar tekad yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Tita, kenapa kita tidak saling bantu saja?"

Kata-kata itu meluncur begitu saja, tapi dampaknya terasa seperti dentuman keras di kepalaku. Aku mengerjap, mencoba mencerna maksudnya. "Maksudmu?"

"Ya... saling bantu," Mira mengangkat bahu, berpura-pura sant** meskipun aku bisa melihat jemarinya sedikit meremas pinggiran meja. "Daripada kamu luka lagi karena tidak bisa melihat dengan jelas, aku bisa melakukannya untukmu. Dan sebaliknya. Kita kan sudah janji tidak ada rahasia di antara kita, bukan? Ini cuma soal... estetika dan kebersihan."

Ruangan itu mendadak terasa lebih panas. Aku bisa merasakan semburat merah menjalar dari leher ke pipiku. Pikiranku mulai berputar pada kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Menampilkan bagian tubuh yang paling intim di depan sahabatku sendiri? Logikaku sebagai seorang perfeksionis mengatakan ini ma**k akal. Ini adalah solusi paling efisien untuk hasil yang sempurna. Namun, sisi pemaluku berteriak bahwa ini melanggar batas yang tak terlihat.

"Tapi, Mir... itu... bukannya aneh?" bisikku, suaranya hampir hilang.

Mira tertawa pelan, sebuah suara yang seharusnya menenangkan namun entah mengapa malah membuat perutku mulas karena gugup. "Aneh kalau kita menganggapnya aneh, Ta. Kita berdua mahasiswi dewasa sekarang. Ini cuma seperti pergi ke salon untuk *waxing*, bedanya ini gratis dan kita melakukannya di kenyamanan kamar sendiri. Lagipula, siapa lagi yang bisa kita percaya kalau bukan satu sama lain?"

Aku menatap Mira lama. Ia benar. Sejak kami menempati kamar 304, kami telah berbagi banyak halβ€”cerita tentang kegagalan kuis, kerinduan pada rumah, hingga mimpi-mimpi konyol tentang masa depan. Mira adalah orang yang paling mengerti betapa aku benci ketidakrapian.

"Kamu yakin tidak akan merasa... risih?" tanyaku, memastikan.

Mira mengulurkan tangan, menyentuh pundakku dengan lembut. Sentuhan itu singkat, namun meninggalkan sensasi hangat yang menjalar di kulitku. "Hanya kalau kamu juga setuju. Aku serius, Ta. Aku ingin membantumu. Aku tahu kamu ingin segalanya sempurna, dan aku bisa menjamin tidak akan ada luka atau helai yang tertinggal."

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung yang kini terasa seperti tabuhan genderang. Ketakutanku akan penilaian orang lain biasanya menghalangiku, tapi di sini, hanya ada Mira. Di balik pintu kamar 304 yang terkunci rapat, dunia luar terasa sangat jauh.

"Baiklah," kataku akhirnya, suaraku sedikit bergetar. "Mari kita lakukan. Saling membantu."

Begitu kata-kata itu terucap, suasana di dalam kamar berubah. Ada semacam tegangan listrik yang tiba-tiba merayap di udara, membuat bulu kudukku meremang. Ini bukan lagi sekadar percakapan sant** tentang perawatan diri. Ada sebuah kesepakatan baru yang tidak tertulis, sebuah pergeseran dinamika yang belum sepenuhnya kupahami.

"Oke," jawab Mira, suaranya kini setingkat lebih rendah. Ia mengambil pisau c**ur itu dari meja dengan gerakan yang lambat, hampir seolah-olah ia juga sedang mengulur waktu untuk menenangkan sarafnya sendiri. "Siapa yang mau duluan?"

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Aku... aku bisa duluan."

Aku berjalan menuju tempat tidurku dengan kaki yang terasa seperti jeli. Setiap langkah terasa begitu berat namun sekaligus mendebarkan. Aku mulai menyiapkan handuk, sementara Mira mengambil botol *shaving foam*. Saat aku mulai duduk di tepi ranjang dan tanganku bergerak ragu untuk membuka kancing celana pendekku, aku menangkap tatapan Mira. Tatapan itu tidak lagi sekadar tatapan seorang sahabat yang ingin membantu; ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatku merasa sangat terekspos sekaligus sangat diinginkan.

Tanganku gemetar saat kain katun itu meluncur turun, dan aku menyadari bahwa setelah malam ini, hubungan kami tidak akan pernah sama lagi. Keheningan di kamar itu kini terasa begitu tebal, hingga suara desah napasku sendiri terdengar seperti pengakuan dosa yang belum terucap. Kesepakatan telah dibuat, dan saat Mira melangkah mendekat dengan busa putih di tangannya, aku tahu tidak ada jalan untuk berbalik.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca