Tanganku sedikit gemetar saat meraba permukaan meja kayu yang kasar, mencari-cari tas kosmetik kecil berwarna merah muda yang tadi kuletakkan sembarangan. Jantungku berdentum lebih cepat dari biasanya, sebuah ritme ganjil yang tidak sinkron dengan ketenangan semu di dalam kamar 304. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi aroma parfum vanila milik Tita yang tertinggal di udara justru membuat dadaku makin sesak.
"Mir, kamu yakin kita harus melakukan ini sekarang?" Suara Tita nyaris berupa bisikan, tipis dan penuh keraguan.
Aku menoleh. Tita duduk di pinggir tempat tidurnya, meremas ujung kaus kedodorannya hingga kain itu kusut. Wajahnya yang biasanya pucat kini merona merah padam, merayap hingga ke telinga. Matanya yang bulat menatapku dengan binar kecemasan yang membuatku ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja—atau justru ingin mendesaknya agar tidak mundur sekarang.
"Kalau tidak sekarang, kapan lagi, Ta? Besok kita sudah mulai jadwal ospek yang g*** itu. Kita nggak bakal punya waktu buat urusan 'perawatan diri' kayak gini," jawabku, berusaha terdengar sefungsional mungkin. Aku mengeluarkan isinya: sebotol *shaving foam* yang masih baru, cermin lipat kecil, dan dua buah pisau c**ur sekali pakai yang masih terbungkus plastik bening.
Logam tipis di balik plastik itu berkilat terpantul lampu neon asrama yang berkedip pelan. Aku menatanya di atas handuk putih yang sudah kubentangkan di lant**, tepat di area yang tidak akan terlihat jika seseorang tiba-tiba mengintip dari ventilasi atas pintu.
"Tapi... kalau Ibu Harti lewat gimana?" Tita melirik ke arah pintu kayu jati yang kokoh itu.
Nama itu c**up untuk membuat bulu kudukku berdiri. Ibu Harti, pengawas asrama bertangan besi, adalah sosok legendaris yang hobi melakukan inspeksi mendadak di jam-jam yang tidak ma**k akal. Langkah kakinya yang berat dan denting kunci di pinggangnya adalah suara paling ditakuti di koridor ini. Jika dia menangkap dua mahasiswi baru sedang melakukan hal seperti ini di balik pintu terkunci, penjelasannya tidak akan pernah terdengar ma**k akal di telinganya.
"Aku sudah dengar dia pergi ke ruang makan lima menit lalu buat absen anak-anak lant** satu. Kita punya waktu setidaknya tiga puluh menit," kataku meyakinkan diri sendiri lebih dari meyakinkannya.
Aku berdiri, melangkah menuju pintu dengan jinjitan kaki yang hati-hati. Aku memutar kunci ganda dengan gerakan sangat perlahan, berusaha meminimalisir bunyi *klik* yang mungkin bergema di koridor yang sunyi. Setelah memastikan pintu terkunci rapat, aku beralih ke lemari pakaian. Aku menarik kursi belajar dan mengganjal gagang pintu dengan sandarannya. Sebuah tindakan paranoid, tapi perlu.
"Bantu aku geser ka**r sedikit, Ta. Biar kita nggak mepet ke pintu," perintahku halus.
Tita bangkit, gerakannya kaku seperti robot. Kami bersama-sama mendorong tempat tidur single itu beberapa sentimeter, menciptakan ruang yang lebih luas di tengah kamar. Suasana mendadak menjadi sangat intim. Cahaya lampu yang agak redup memberikan bayangan-bayangan panjang di dinding putih yang mulai mengelupas.
Aku kembali berlutut di atas handuk, lalu menatap Tita yang masih berdiri mematung. "Duduk, Ta. Kamu bikin aku makin tegang kalau cuma berdiri di situ."
Dia menurut, duduk bersila di hadapanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun bayinya yang lembut. Aku bisa melihat urat nadi di lehernya berdenyut cepat. Ketelitian yang selama ini ia banggakan—sifat perfeksionis yang sering membuatnya stres sendiri—tampaknya sedang berperang dengan rasa malu yang luar biasa.
"Aku nggak pernah... maksudku, biasanya aku melakukannya sendiri, tapi hasilnya selalu berantakan dan... luka," gumam Tita, menunduk menatap jemari kakinya.
"Itulah gunanya sahabat, kan? Saling membantu," aku mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, meski suaraku terdengar sedikit serak. Aku meraih botol *shaving foam* dan mengocoknya. Suara gemericik cairan di dalamnya terasa begitu keras di dalam kamar yang kedap suara ini.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Berat dan ritmis. *Tap. Tap. Tap.*
Kami berdua membeku. Tita mencengkeram lenganku, kuku-kukunya sedikit menekan kulitku. Napasnya tertahan. Aku mematikan lampu meja, membuat kamar kami hanya diterangi remang cahaya yang merembes dari bawah celah pintu.
Suara itu makin dekat. Jantungku serasa ingin melompat keluar. Apakah itu Ibu Harti? Apakah dia merasa ada yang aneh dengan kamar 304 yang gelap padahal ini belum jam tidur? Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kami.
Dunia seolah berhenti berputar. Aku bisa membayangkan sosok wanita paruh baya itu berdiri di sana, memegang gagang pintu, siap memutar kuncinya dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Aku menatap Tita; matanya terpejam rapat, bibirnya bergetar seperti sedang merapalkan doa.
Lalu, terdengar suara gesekan kain dan bunyi *klik* dari arah koridor, disusul suara langkah kaki yang menjauh. Rupanya penghuni kamar sebelah yang baru saja ma**k.
Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kupendam, bahuku merosot lega. Tita melepaskan cengkeramannya, meninggalkan bekas merah di lenganku. "dekat banget," bisiknya dengan suara gemetar.
"Dia sudah pergi," kataku, berusaha mengembalikan keberanianku. Aku menyalakan kembali lampu meja, cahayanya yang kuning keemasan menyiram wajah Tita, memberikan kesan hangat yang ganjil.
Ketegangan karena takut ketahuan perlahan memudar, namun digantikan oleh jenis ketegangan lain. Sesuatu yang lebih pekat, lebih berat, yang menggantung di antara kami berdua. Rasa takut akan pengawas asrama baru saja menjadi katalis yang mempererat jarak fisik kami.
Aku menekan tutup botol, dan gumpalan busa putih yang lembut keluar ke telapak tanganku. "Siap?" tanyaku, menatap langsung ke matanya.
Tita menelan ludah, lalu perlahan ia mengangguk. Dia mulai menarik ujung kausnya ke atas, perlahan-lahan menyingkap kulit perutnya yang putih bersih. Di bawah cahaya lampu yang minim, suasana di kamar 304 tak lagi terasa seperti asrama mahasiswi yang membosankan. Ruangan ini telah berubah menjadi ruang rahasia di mana aturan dan batasan mulai terasa kabur.
Aku mendekatkan tanganku yang penuh busa ke arahnya, namun saat jemariku nyaris menyentuh kulitnya, sebuah ketukan keras—bukan langkah kaki, tapi ketukan tangan yang sengaja—menghantam pintu kamar kami tiga kali.
"Tita? Mira? Kenapa lampunya mati?"
Suara berat dan serak itu tidak salah lagi. Ibu Harti.
Kami berdua terlonjak. Aku menatap busa di tanganku, lalu menatap Tita yang sudah setengah terbuka pakaiannya, dan terakhir menatap kursi yang mengganjal pintu. Jika kami tidak menjawab dalam sepuluh detik, dia pasti akan mengeluarkan kunci cadangannya. Namun jika kami membukanya sekarang, pemandangan di lant** ini akan menghancurkan reputasi kami selamanya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!