Udara di dalam kamar 304 terasa jauh lebih berat daripada biasanya, seolah-olah molekul oksigen di sekeliling kami telah memadat. Aku bisa mendengar deru pelan kipas angin kecil di sudut meja belajar, namun suara itu kalah telak oleh dentum jantungku sendiri yang berpacu di balik tulang rusuk. Di atas ranjang Mira yang tertata rapi, sebuah handuk lebar berwarna krem telah dibentangkan. Di sampingnya, perlengkapan yang kami siapkan tadiβpisau c**ur baru yang masih tersegel, botol *shaving foam* beraroma lidah buaya, dan semangkuk air hangatβseperti peralatan operasi yang siap menentukan nasib persahabatan kami.
"Tita? Kamu siap?" Suara Mira memecah keheningan, terdengar sedikit serak namun berusaha tetap sant**.
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Aku mengangguk pelan, meski jemariku yang memegang botol busa mulai terasa dingin dan licin karena keringat. Sebagai seorang perfeksionis, aku biasanya selalu percaya pada kemampuanku melakukan apa pun dengan presisi. Namun kali ini, presisi itu terasa seperti beban yang menakutkan.
Mira merebahkan tubuhnya perlahan di atas handuk. Ia mengenakan kaus longgar yang kini ia singkap sedikit ke atas, dan hanya mengenakan pakaian dalam tipis yang sebentar lagi akan kusingkirkan demi tugas "perawatan diri" ini. Posisinya yang sangat terbuka dan rentan di hadapanku membuat tanganku gemetar lebih hebat.
"Aku... aku akan mulai sekarang," bisikku, nyaris tak terdengar.
Aku berlutut di antara kedua kakinya, sebuah posisi yang begitu intim hingga aku harus memaksa mataku untuk tetap fokus pada objek kerja, bukan pada lekuk tubuh sahabatku sendiri. Dengan gerakan hati-hati, aku menyemprotkan sedikit busa putih ke telapak tanganku. Dingin. Kontras dengan suhu tubuhku yang rasanya mendidih.
Saat jemariku pertama kali menyentuh kulit paha bagian dalam Mira untuk meratakan busa, aku merasakan kejutan listrik yang menjalar dari ujung jari langsung ke dadaku. Kulitnya jauh lebih lembut dari yang kubayangkan. Mira sedikit terperanjat, napasnya tertahan sejenak, membuat perutnya yang rata bergerak naik-turun dengan ritme yang tidak teratur.
"Maaf, apa terlalu dingin?" tanyaku cemas, menghentikan gerakan tanganku sejenak.
"Enggak... enggak apa-apa," jawabnya pendek. Ia memalingkan wajah ke samping, menutupi sebagian rona merah yang mulai merambat di pipinya dengan lengan.
Aku melanjutkan tugasku dengan ketelitian yang biasanya kugunakan untuk menyusun laporan praktikum biologi. Aku meratakan busa putih itu, mengikuti alur yang harus kubersihkan. Setiap inci kulit yang kusentuh memberikan sensasi baru yang asing sekaligus mendebarkan. Aku bisa merasakan otot paha Mira yang menegang di bawah sentuhanku, menunjukkan bahwa dia sama gelisahnya denganku.
Kini saatnya menggunakan pisau c**ur itu. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan tanganku yang masih sedikit gemetar. Ini adalah bagian yang paling krusial. Jika aku salah sedikit saja, aku bisa melukainya. Dan bagi seorang perfeksionis sepertiku, kegagalan sekecil apa pun adalah bencana.
"Aku akan mulai menc**ur, Mira. Jangan bergerak ya," instruksiku dengan nada yang aku usahakan terdengar profesional, meski suaraku sedikit bergetar di akhir kalimat.
Aku menempelkan bilah pisau itu ke kulitnya dengan sangat ringan. Mataku terpaku pada area kecil yang sedang kukerjakan. Dengan gerakan pendek dan mantap, aku mulai menarik pisau itu. Suara gesekan halus antara pisau dan rambut tipis di sana terdengar begitu keras di telingaku karena keheningan kamar yang mencekam.
Tanpa sadar, aku mencondongkan tubuh lebih dekat untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat. Kedekatan ini membuatku bisa menghirup aroma sabun mandi Mira yang bercampur dengan wangi lidah buaya dari busa c**ur. Itu adalah kombinasi aroma yang memabukkan. Setiap kali aku menghembuskan napas, aku bisa melihat bulu kuduk di kulit Mira berdiri.
Sentuhanku beralih, sebelah tanganku yang bebas secara naluriah memegang pinggul Mira untuk meregangkan kulit agar lebih mudah dic**ur. Sentuhan kulit-ke-kulit tanpa perantara busa ini terasa jauh lebih intens. Ibu jariku secara tidak sengaja mengusap garis batas pakaian dalamnya, dan aku merasakan Mira sedikit melengkungkan punggungnya, sebuah reaksi refleks yang membuat napasku tercekat.
"Tita..." Mira memanggil namaku, suaranya kini lebih berupa desahan lembut daripada pangg***n.
"Ya?" Aku berhenti, pisau c**ur tertahan di udara.
"Tanganmu... gemetar," ucapnya pelan.
Aku menunduk dan menyadari bahwa ia benar. Jemariku yang memegang pisau c**ur itu bergetar halus, bukan lagi karena takut melukainya, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini kusimpan rapat-rapat di balik sifatku yang pendiam dan pemalu. Ada sebuah tegangan elektromagnetik yang kini mengalir di antara kami, menarikku untuk mengabaikan pisau c**ur itu dan melakukan hal lain.
Aku mencoba memfokuskan kembali pikiranku. Aku tidak boleh mengacaukan ini. Ini hanya tentang membantu teman. Hanya eksperimen kecantikan. Namun, ketika aku mendongak sebentar untuk memastikan Mira baik-baik saja, mataku justru bertemu dengan matanya yang gelap dan sayu. Ada sesuatu di sanaβsebuah pengakuan, sebuah rasa haus yang sama yang tercermin di mataku.
Keheningan itu kembali menyelimuti kami, namun kali ini tidak lagi terasa canggung. Keheningan itu terasa penuh dengan antisipasi yang berbahaya. Tanganku yang berada di pinggulnya tidak bergerak, justru semakin mantap memegangnya, sementara tanganku yang memegang pisau c**ur perlahan turun kembali ke permukaan kulitnya.
Namun, bukannya melanjutkan c**uran, ujung jariku justru secara tidak sengaja menyentuh bagian yang jauh lebih sensitif, menyebabkan Mira melepaskan satu rintihan pendek yang tertahan. Suara itu, sekecil apa pun, meruntuhkan benteng pertahanan terakhir yang kubangun dalam kepalaku.
Dinamika di kamar 304 baru saja bergeser secara permanen, dan aku tahu, pisau c**ur di tanganku bukan lagi satu-satunya hal yang tajam dan berisiko di antara kami malam ini. Aku menatap Mira, menanti apakah ia akan memintaku berhenti, atau justru sebaliknya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!