Udara di dalam kamar 304 terasa jauh lebih berat daripada biasanya, seolah-olah pendingin ruangan yang mendengung di sudut dinding tidak lagi mampu menjalankan tugasnya. Aku berbaring di atas tempat tidur dengan tumpuan bantal yang menyangga punggungku, mencoba memusatkan perhatian pada langit-langit kamar yang putih polos. Namun, setiap saraf di tubuhku justru terfokus pada satu titik: jemari Tita yang bergerak dengan ketelitian seorang pemahat di pangkal pahaku.
Tita, dengan sifat perfeksionisnya yang sudah mendarah daging, memperlakukan tugas ini layaknya sebuah proyek arsitektur yang sangat krusial. Dia sedikit membungkuk, helaian rambut hitamnya yang harum sampo stroberi menjunt**, sesekali menyapu kulit perutku dan meninggalkan rasa geli yang membuatku ingin menggeliat.
"Tahan sebentar ya, Mir. Sedikit lagi," bisik Tita. Suaranya terdengar serak, mungkin karena konsentrasi yang luar biasa atau mungkin karena hal lain yang tidak berani kupikirkan.
Aku hanya bisa mengangguk kecil, jemariku meremas pinggiran sprei hingga buku-buku jariku memutih. Saat Tita mengoleskan kembali gel c**ur yang dingin, kontras suhu itu membuatku tersentak kecil. Sensasi dingin itu diikuti oleh sentuhan hangat jemarinya yang meratakan gel tersebut. Sentuhan itu tidak lagi terasa klinis atau sekadar membantu. Cara jemarinya bergerak—lambat, melingkar, dan penuh kehati-hatian—mulai membangkitkan getaran aneh yang menjalar dari titik sentuhan itu langsung menuju ulu hatiku.
"Mir, kamu oke? Kamu tegang banget," Tita mendongak sebentar. Matanya yang bulat menatapku dengan penuh perhatian, namun ada sesuatu di kedalaman irisnya yang membuat napasku tertahan.
"Aku... aku cuma takut luka," dustaku, meski sebenarnya ketakutanku jauh berbeda. Aku takut dia bisa mendengar detak jantungku yang kini berdentum seperti genderang perang di balik dadaku.
Tita tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya membuatku merasa tenang, tapi kali ini justru membuat perutku mulas karena gairah yang tidak terduga. "Tenang aja. Aku bakal pelan-pelan banget."
Dia kembali menunduk. Aku bisa merasakan napas hangatnya yang teratur menyentuh kulit pahaku. Itu adalah siksaan yang manis. Saat pisau c**ur itu bergerak dengan sapuan pendek dan lembut, Tita menggunakan tangan kirinya untuk meregangkan kulitku. Tekanan jari-jarinya di sana—begitu dekat dengan pusat sensasiku—membuat seluruh tubuhku menegang dalam upaya mati-matian untuk tidak bereaksi secara fisik.
Namun, tubuhku mengkhianatiku.
Setiap kali ujung jarinya yang lembut secara tidak sengaja—atau mungkin disengaja?—menyenggol area yang lebih sensitif, gelombang panas menyapu diriku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahku agar tidak ada suara yang lolos. Aku tidak boleh membiarkan dia tahu. Bagaimana aku bisa menjelaskan pada sahabat terbaikku bahwa bantuannya yang polos ini membuatku merasa... seperti ini?
"Tita..." bisikku, hampir seperti rintihan yang tertahan.
"Ya?" Tita berhenti sejenak, pisau c**ur masih menempel di kulitku. Dia tidak menjauhkan tangannya. Justru, telapak tangannya yang hangat kini bersandar sepenuhnya di paha dalamku.
"Kamu... kamu sudah selesai?" tanyaku dengan suara yang bergetar. Aku berharap dia bilang sudah, agar aku bisa lari ke kamar mandi dan menenangkan diri. Tapi di sisi lain, sebagian dari diriku yang liar ingin dia terus melakukan ini selamanya.
Tita tidak menjawab dengan segera. Dia menggerakkan ibu jarinya di atas kulitku yang kini sudah halus, mengusap sisa-sisa gel c**ur dengan gerakan yang sangat pelan, seolah dia sedang mengagumi hasil karyanya. Sentuhan itu bukan lagi tentang menc**ur. Itu adalah belaian. Lembut, penuh selidik, dan sarat dengan ketegangan yang membuat udara di antara kami seakan memercikkan listrik.
Aku merasakan dorongan aneh di bagian bawah perutku, sebuah desakan yang menuntut lebih. Aku mencoba mengalihkan pikiran ke tugas kuliah sosiologi yang menumpuk atau daftar belanja mingguan, tapi aroma tubuh Tita dan panas yang memancar dari tangannya menghancurkan semua pertahanan logikaku.
"Belum," jawab Tita akhirnya. Suaranya kini lebih rendah, hampir menghilang menjadi bisikan di tengah keheningan kamar. "Masih ada bagian yang sedikit kasar di sebelah sini."
Dia menggerakkan jarinya lebih jauh ke dalam, melewati batas yang sebelumnya kami sepakati secara tidak tertulis. Sentuhannya yang berhati-hati kini berubah menjadi eksplorasi yang lebih berani. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri, dan aku tahu wajahku pasti sudah semerah tomat. Aku berusaha mengatur napas, mencoba menyembunyikan fakta bahwa dadaku naik-turun dengan cepat.
Tita mendongak lagi. Kali ini dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Dia hanya menatapku, matanya terpaku pada bibirku yang sedikit terbuka karena usahaku menghirup oksigen. Di dalam kamar yang terkunci itu, suara jam dinding terdengar seperti dentuman keras yang menghitung detik-detik sebelum sesuatu yang besar terjadi.
Tangan Tita tetap di sana, tidak bergerak, namun kehadirannya terasa begitu mendominasi. Dia seolah menunggu reaksiku—menunggu apakah aku akan menepis tangannya atau justru menariknya lebih dekat.
"Mir..." panggilnya lembut, dan kali ini ada nada keraguan sekaligus keinginan yang sama besarnya dalam suaranya.
Aku tahu aku harus menghentikan ini sekarang. Aku harus tertawa, membuat lelucon konyol, lalu bangkit dan berpura-pura semuanya normal. Namun, ketika jemari Tita bergerak sekali lagi dengan usapan yang lebih tegas dan berani, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokanku. Alih-alih menjauh, aku justru merasakan pinggulku bergerak naik secara tidak sadar, mencari lebih banyak kontak dengan tangannya yang hangat.
Keheningan itu pecah ketika pintu lemari pakaian di sudut kamar berderit pelan karena hembusan angin dari AC, tapi tak satu pun dari kami berpaling. Fokus kami terkunci pada satu sama lain, pada sentuhan yang kini telah melampaui batas persahabatan yang selama ini kami jaga dengan hati-hati.
Tita meletakkan pisau c**ur itu di atas nakas tanpa melepaskan pandangannya dariku. Tangannya yang bebas kini bergerak perlahan menuju lututku, merambat naik dengan keberanian yang baru ditemukan.
"Tita, apa yang kita lakuin?" tanyaku, nyaris tak terdengar.
Tita tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat, hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa merasakan panas dari tubuhnya, mencium aroma manis dari kulitnya yang kini bercampur dengan ketegangan seksual yang kental.
"Aku nggak tahu, Mir," bisiknya tepat di depan bibirku. "Tapi aku nggak mau berhenti."
Dan saat itu juga, aku menyadari bahwa pintu kamar 304 bukan hanya mengunci kami dari dunia luar, tapi juga mengunci kami dalam sebuah rahasia yang, sekali dimulai, tidak akan pernah bisa kami hapus dari ingatan. Pelan namun pasti, Tita menundukkan kepalanya, dan aku tahu, setelah detik ini, segalanya akan berubah selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!