Tanganku sedikit gemetar saat aku membilas silet untuk terakhir kalinya di dalam wadah air hangat yang kini telah mendingin. Suara gemericik air yang biasanya terdengar biasa saja, kini terasa seperti dentuman keras di tengah keheningan kamar 304 yang mencekam. Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungku yang kian tak beraturan.
"Selesai," bisikku. Suaraku terdengar serak, hampir tidak keluar, seolah-olah pita suaraku ikut terjepit oleh ketegangan yang merayap di udara.
Aku tidak segera menjauh. Posisiku masih berlutut di antara kaki Mira yang terbuka, sebuah posisi yang beberapa menit lalu terasa murni bersifat fungsional dan praktis, namun kini terasa sangat intim dan membingungkan. Aku menggunakan handuk lembut yang lembap untuk menyeka sisa-sisa busa terakhir dari kulitnya yang kini tampak begitu halus dan bersih. Jemariku tanpa sengaja bersentuhan dengan permukaan kulit paha bagian dalamnya yang sensitif, dan aku bisa merasakan Mira sedikit berjengitβbukan karena sakit, melainkan karena sesuatu yang lain. Sebuah kejutan listrik statis yang tampaknya menjalar ke tubuh kami berdua.
Aku mendongak perlahan, keberanianku hanya c**up untuk sampai ke batas dagunya. Namun, seolah ada magnet yang tak terlihat, pandanganku terus merayap naik hingga aku menemukan matanya. Mira sedang menatapku. Wajahnya merona merah, bukan lagi sekadar karena malu, tapi karena sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap. Napasnya pendek-pendek, membuat dadanya naik turun dengan ritme yang selaras dengan degup jantungku yang liar.
"Tita..." Mira menggumamkan namaku. Suaranya rendah, penuh dengan nada yang belum pernah kudengar sebelumnya selama kami berteman. Ada keraguan di sana, tapi juga ada semacam undangan yang sunyi.
Aku seharusnya berdiri sekarang. Aku seharusnya tertawa canggung, mengatakan sesuatu yang lucu tentang betapa mulusnya hasil kerjaku, lalu segera pergi ke kamar mandi untuk membereskan peralatan ini. Itulah yang akan dilakukan oleh Tita yang "normal". Tita yang perfeksionis dan selalu takut akan penilaian orang. Tapi saat ini, kedua lututku terasa seperti terpaku ke lant** asrama yang dingin. Aku merasa seolah-olah jika aku bergerak seinci saja menjauh darinya, aku akan kehilangan sesuatu yang sangat penting.
Jemariku masih beristirahat di paha Mira, dan entah mengapa, aku tidak menariknya. Alih-alih, ibu jariku mulai bergerak pelan, mengusap permukaan kulit yang baru saja kubersihkan itu dengan gerakan melingkar yang sangat halus. Teksturnya begitu lembut, membuatku terpesona. Di bawah sentuhanku, aku bisa merasakan otot-otot kaki Mira menegang, kemudian rileks, seolah dia sedang berperang dengan instingnya sendiri untuk menjauh atau justru mendekat.
Keheningan di kamar 304 berubah menjadi sesuatu yang padat dan berat. Bunyi jam dinding di atas meja belajar terasa sangat lambat. Aku bisa mencium aroma sabun mandi buah yang samar dari kulit Mira, bercampur dengan aroma tubuhnya yang alami dan hangat. Udara di sekitar kami terasa panas, meski kipas angin di sudut ruangan berputar dengan kecepatan penuh.
"Kamu... kamu melakukan pekerjaan yang bagus," kata Mira akhirnya, suaranya nyaris hilang dalam bisikan. Matanya tidak lepas dari mataku. Dia tidak menarik kakinya. Dia tidak menutup jubah mandinya lebih rapat. Dia hanya duduk di sana, membiarkan dirinya terpapar di bawah tatapanku yang intens.
"Aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna," jawabku, kata-kataku terasa seperti kebohongan karena aku tahu kesempurnaan bukan lagi tujuanku sekarang. Tanganku yang semula hanya diam, kini perlahan bergerak naik. Sedikit demi sedikit, melewati batas yang seharusnya tidak kulewati sebagai seorang sahabat.
Aku bisa melihat pupil mata Mira melebar. Dia menahan napasnya saat ujung jemariku menyentuh pinggiran jubah mandinya. Ketegangan di antara kami sudah melampaui batas kewajaran. Ini bukan lagi tentang perawatan diri. Ini bukan lagi tentang eksperimen kecantikan mahasiswi baru yang polos. Batasan yang selama ini kubangun dengan rapiβbenteng perfeksionismeku dan ketakutanku akan penolakanβmulai retak di bawah tekanan hasrat yang baru dan asing ini.
Satu bagian dari diriku berteriak untuk berhenti. *Tita, apa yang kamu lakukan? Ini Mira. Ini sahabatmu. Bagaimana jika dia benci padamu setelah ini?* Tapi bagian lain dari diriku, bagian yang selama ini terpendam di bawah tumpukan tugas kuliah dan ekspektasi orang tua, merasa sangat hidup. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin mundur untuk mencari keselamatan.
"Tita," panggilnya lagi, kali ini lebih seperti desahan. Mira sedikit memajukan tubuhnya, memperpendek jarak yang tersisa di antara kami. Tangannya yang tadinya mencengkeram pinggiran tempat tidur, kini terangkat perlahan. Aku bisa merasakan ujung jarinya yang dingin menyentuh pergelangan tanganku yang masih berada di pahanya.
Dia tidak mendorongku menjauh. Sebaliknya, dia membimbing tanganku untuk tetap di sana, atau mungkin untuk bergerak lebih jauh. Sentuhannya adalah sebuah konfirmasi, sebuah jawaban atas pertanyaan yang tidak berani kuucapkan.
Detik itu, aku menyadari bahwa hubungan kami tidak akan pernah sama lagi. Kami telah melewati ambang pintu yang tidak memiliki jalan kembali. Aroma ruangan, cahaya lampu yang temaram, dan getaran di antara kulit kami menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami berdua. Kamar 304 bukan lagi sekadar tempat tinggal sementara di kampus; tempat ini telah menjadi saksi dari sesuatu yang terlarang namun terasa sangat benar.
Aku menelan ludah, mataku kini terpaku pada bibirnya yang sedikit terbuka. Keheningan itu kembali menyergap, tapi kali ini tidak lagi menyesakkan. Keheningan itu penuh dengan antisipasi yang membakar.
"Mira, aku..." Kalimatku menggantung. Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan. Permintaan maaf? Atau pengakuan?
Sebelum aku sempat memutuskan, Mira melakukan sesuatu yang membuat seluruh duniaku jungkir balik. Dia sedikit menggeser posisinya, membuat jubah mandinya tersingkap lebih lebar, dan dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti, dia mencondongkan wajahnya ke arahku hingga aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat di pipiku.
"Jangan berhenti," bisiknya, sangat dekat hingga bibirnya hampir menyentuh telingaku.
Kata-kata itu meruntuhkan pertahanan terakhirku. Rasa takut akan penilaian orang lain menghilang, digantikan oleh gelombang keberanian yang nekat. Tanganku yang gemetar kini menjadi mantap. Aku menatapnya dalam-dalam, mencari tanda-tanda keraguan, namun yang kutemukan hanyalah pantulan dari hasratku sendiri di matanya.
Saat tanganku mulai bergerak lebih berani, aku tahu kami baru saja membuka sebuah rahasia yang tidak akan bisa kami simpan selamanya di balik pintu kamar ini. Namun, untuk saat ini, yang kupedulikan hanyalah detak jantungnya yang berpacu di bawah jemariku dan bagaimana dunia di luar sana terasa sangat jauh dan tidak relevan.
Lalu, sebuah suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong asrama, mendekati pintu kamar kami, diikuti oleh suara tawa riuh sekelompok mahasiswi lain yang baru kembali dari kantin. Suara itu terasa seperti sirine peringatan yang memecah gelembung intim kami. Kami berdua tersentak, membeku dalam posisi yang sangat tidak mungkin dijelaskan jika seseorang tiba-tiba ma**k.
Mira mematung, matanya terbelalak menatap pintu kayu yang terkunci itu, sementara tanganku masih berada di tempat yang sangat sensitif. Jantungku seolah berhenti berdetak saat suara gagang pintu asrama kami dicoba dari luar.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!